Sabtu, 09 Mei 2026

(2) Ibu mertuaku lumpuh dan bisu. Setiap hari aku menyuapi dan merawatnya dengan tulus meski suamiku sering bersikap kasar padaku. Suatu siang, aku pulang lebih awal karena sakit. Dari celah pintu kamar, aku melihat ibu mertuaku berdiri tegak dan tertawa lepas bersama suamiku. Betapa hancurnya aku saat mendengar apa yang sedang mereka rencanakan terhadapku, ternyata selama ini mertuaku...

 


"Sertifikat ruko peninggalan almarhum Bapak itu biar Mas saja yang simpan. Kamu ini kan pelupa dan sudah terlalu lelah mengurus Ibu, Mas ngeri surat berharga seperti itu malah jatuh ke tangan orang yang salah."


Suara Dimas terdengar begitu meyakinkan, memecah keheningan makan malam kami. 


Ia menyendok nasi ke mulutnya dengan tenang, seolah kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya adalah wujud kepedulian seorang suami idaman.


Aku menghentikan suapanku. Tentu saja. Ini adalah langkah pertama mereka setelah rencana busuk yang kudengar kemarin siang.


Aku menatap wajah pria di hadapanku ini lamat-lamat. 


Dulu, tatapan matanya selalu berhasil membuatku merasa aman dan dicintai. 


Namun kini, yang kulihat hanyalah topeng keserakahan yang menyamarkan niat jahat.


"Tidak perlu repot-repot, Mas," jawabku sambil mengukir senyum paling manis yang bisa kubuat. 


"Sertifikat itu sudah aku titipkan di safety box bank sejak bulan lalu. Aman kok, dijamin tidak mungkin jatuh ke tangan orang yang salah."


Uhuk!


Dimas tersedak keras. Wajahnya memerah saat ia buru-buru meraih gelas air putih dan meneguknya hingga tandas. 


Aku hanya menatapnya datar sambil mengulurkan selembar tisu.


"Pelan-pelan, Mas. Tidak ada yang mengejar, kan?" sindirku halus.


"K-kenapa kamu tidak bilang kalau ditaruh di bank?!" tanyanya dengan nada suara yang sedikit meninggi, kentara sekali ada kepanikan dan amarah yang berusaha ia tutupi.


"Memangnya kenapa, Mas? Toh itu harta peninggalan keluargaku satu-satunya, sudah sewajarnya aku simpan dan kujaga baik-baik," balasku dengan wajah polos tak berdosa.


Dimas terdiam, rahangnya mengeras. Ia buru-buru menyelesaikan makannya dengan kasar lalu beranjak pergi ke depan televisi tanpa menatapku lagi. 


Aku menunduk, tersenyum miring menatap piringku. Satu poin untukku.


*** 


Keesokan paginya, aku kembali menjalankan rutinitasku seperti biasa. 


Mengingat cerita ini masih sangat panjang, aku harus menikmati setiap detiknya tanpa terburu-buru. 


Aku melangkah masuk ke kamar Ibu mertuaku dengan semangkuk oatmeal hangat. 


Begitu pintu terbuka, kulihat wanita paruh baya itu sedang duduk diam di atas kasur dengan pandangan lurus menatap bingkai jendela.


Hebat sekali aktingnya. Kalau saja aku tidak melihatnya tertawa lepas dan berdiri tegak kemarin, aku pasti akan kembali menangis meratapi nasibnya.


"Selamat pagi, Ibu. Waktunya sarapan," sapaku riang.


Aku duduk di tepi ranjang. Dengan telaten, aku menyuapkan oatmeal itu ke mulutnya. Ia menerimanya dengan gerakan kaku yang sengaja dibuat-buat. 


Sambil terus menyuapi, ekor mataku menyapu seluruh sudut kamar. 


Aku butuh bukti nyata. Aku tidak bisa hanya mengandalkan apa yang kudengar kemarin. Aku butuh mata lain di ruangan ini.


Sebuah kamera kecil. Ya, aku harus membelinya secara diam-diam siang ini dan menyembunyikannya di sudut yang tidak terjangkau oleh pandangan mereka.


"Ibu badannya pasti pegal-pegal ya karena tidak pernah bergerak?" gumamku seolah berempati, sambil meletakkan mangkuk yang sudah kosong ke atas nakas.


"Biar kupijat kaki Ibu supaya peredaran darahnya lancar."


Tanpa menunggu persetujuan—toh orang 'lumpuh dan bisu' tidak bisa menolak—aku mulai memijat betisnya. 


Sedikit demi sedikit, sengaja kutambahkan tenaga pada pijatanku, menekan kuat titik-titik saraf yang pasti terasa sangat ngilu.


Aku memperhatikan wajah Ibu mertuaku dengan saksama. Matanya yang tadi menatap kosong kini refleks sedikit melebar. 


Otot rahangnya berkedut hebat menahan sakit, urat di lehernya menonjol, namun ia memaksakan diri untuk tetap bungkam dan tak bereaksi. 


Sungguh, melihat usahanya menahan nyeri demi mempertahankan sandiwara ini membuatku rasanya ingin tertawa puas.


Malam harinya, saat Dimas baru saja merebahkan diri di sampingku, aku memiringkan tubuh menghadapnya. 


Kuusap lengannya dengan pelan, membuatnya menoleh padaku dengan kening berkerut.


"Mas," panggilku memecah sepi.


"Hn? Apa?" sahutnya malas.


Aku menatapnya lekat, memasang raut wajah sebingung dan sepolos mungkin.


"Tadi siang waktu aku memijat telapak kaki Ibu, aku melihat ada noda tanah dan serpihan rumput kering di sela-sela jarinya." 


Aku menjeda kalimatku, menikmati raut wajah Dimas yang perlahan memucat dan menegang. 


"Aneh ya, Mas? Padahal Ibu kan lumpuh dan tidak pernah turun dari kasur sama sekali."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar