Rabu, 06 Mei 2026

(5) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


Dia lupa bahwa rumah mewah yang dipijaknya ini sertifikatnya masih atas namaku, yang sengaja tak pernah kuberikan padanya untuk berjaga-jaga!


Aku melangkah mundur dengan sangat pelan, menyelinap keluar dari pekarangan rumah mereka bagaikan bayangan.


Sesampainya di rumahku sendiri, aku tidak menangis lagi. Air mataku sudah mengering berganti dengan api dendam yang menyala-nyala.


Aku masuk ke kamar, membuka brankas baja yang tersembunyi di balik lukisan besar. 


Kukeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua dan sebuah kartu pipih berwarna hitam legam, Black Card khusus nasabah prioritas yang tak pernah kugunakan selama ini.


Aku melirik jam dinding. Pukul delapan malam. Biasanya, jam segini Adi akan pergi ke gym atau beralasan meeting malam dengan klien, yang sudah bisa kupastikan adalah kedok untuk berkencan dengan pelakor itu.


Benar saja. Tiga puluh menit kemudian, kudengar suara deru mobil Adi keluar dari garasi.


Tanpa membuang waktu, aku bergegas pergi ke rumah sebelah. Pintu belakang masih tidak dikunci. 


Aku masuk dan mendapati rumah besar itu sepi dan suram. Aku berjalan ke arah gudang belakang di dekat dapur. Dari balik pintu kayu yang tipis, terdengar suara isakan tertahan.


"Putri?" panggilku pelan, mengetuk pintu.


Isakan di dalam sana mendadak berhenti. Terdengar langkah kaki terseret, dan pintu perlahan terbuka. Wajah Putri pucat pasi. Ia masih memakai seragam pelayan itu, kini ditambah peluh dan kotoran debu.


"I-ibu ... Ibu ngapain ke sini?" tanyanya panik, matanya liar melirik ke arah ruang depan. 


"Mas Adi sedang keluar sebentar, Bu. Nanti kalau dia pulang dan lihat Ibu di sini ..."


"Masuk ke rumah Ibu sekarang, Putri. Bawa baju gantimu. Kita bicara di sana."


"T-tapi Bu ..."


"Sekarang, Putri!" potongku tegas, memancarkan aura mengintimidasi yang selama ini kusembunyikan di balik peran ibu mertua yang lembut.


Putri tak berani membantah. Ia mengekor di belakangku dengan patuh. Sesampainya di ruang tengah rumahku, aku langsung menyuruhnya duduk di sofa beludru. 


Aku ke dapur, mengambilkan teh hangat dan sepiring nasi dengan lauk pauk utuh yang sengaja kusisihkan untuknya sore tadi.


"Makan," titahku singkat.


Putri menatap makanan itu dengan mata berkaca-kaca, lalu mulai menyuapnya dengan rakus sambil menangis sesenggukan. 


Setelah piringnya tandas tak bersisa, aku duduk tepat di hadapannya.


"Kenapa kamu membiarkan dirimu diinjak-injak seperti keset, Putri? Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku kelakuan anak durhaka itu?" tanyaku menuntut, tak lagi memanggil anakku dengan sebutan namanya.


Putri menunduk, meremas jemarinya yang kasar karena terlalu banyak mencuci. 


"Putri ... Putri anak yatim piatu, Bu. Putri lulusan SMA yang gak punya siapa-siapa dan gak punya keahlian. Kalau Putri melawan, Mas Adi ancam akan mengusir Putri ke jalanan. Putri gak tahu harus hidup di mana, Bu. Mas Adi juga bilang kalau Putri berani lapor ke Ibu, dia akan menyewa preman untuk menghancurkan rumah peninggalan orang tua Putri di desa."


Hatiku mencelos. Ancaman murahan macam apa itu?!


Aku menyodorkan ponselku ke atas meja, memutar video berdurasi lima menit yang kurekam siang tadi. 


Mata Putri terbelalak. Wajahnya semakin pias melihat suaminya bermesraan dan merencanakan kehancurannya.


"I—Ibu melihat semuanya?" bisik Putri bergetar.


"Ya. Dan Ibu tidak akan membiarkan anak Ibu terus-terusan berbuat zalim," balasku dingin. 


Kuambil map kulit cokelat dari pangkuanku dan meletakkannya di depan Putri. 


"Buka."


Dengan tangan gemetar, Putri membuka map itu. Matanya menyusuri deretan kalimat di atas kertas bermaterai tersebut.


"I-ini ... Sertifikat rumah Mas Adi? Dan akta kepemilikan saham mayoritas PT Adhitama Group?" Putri menatapku tak percaya. 


"Nama Ibu ... ada di mana-mana?"


"Adi selalu merasa hebat karena jabatannya. Tapi dia bodoh. Dia tidak tahu kalau perusahaan tempatnya bekerja dan bertingkah arogan itu, pemegang saham tertingginya adalah ibunya sendiri yang selama ini dia anggap cuma nenek-nenek tua penjaga rumah," ucapku sinis, tersenyum miring.


Kusodorkan kartu Black Card itu tepat di atas dokumen.


"Mulai besok pagi, berhentilah menangis. Buang daster kusam dan seragam pelayan sialan itu ke tempat sampah. Kamu bukan lagi istri yang lemah, dan kamu bukan babu. Ibu akan mengangkatmu menjadi Asisten Pribadi Ibu di kantor pusat."


Putri ternganga, napasnya tercekat seolah lupa cara bernapas. 


"T-tapi Bu, Mas Adi ... dan perempuan itu ..."


"Biarkan mereka berdua merasa di atas angin, tertawa di rumah besar yang sertifikatnya akan segera Ibu balik nama menjadi namamu," potongku tajam, mencengkeram lembut bahu Putri. Kutatap matanya dalam-dalam, menyalurkan segala amarah dan kekuatan yang kumiliki.


"Angkat kepalamu, Putri. Jangan tunjukkan kelemahanmu sedikit pun. Besok siang, saat pelakor itu datang lagi dan meminta dilayani bak seorang ratu ..." 


Aku tersenyum mematikan. 


"... pastikan kamu menuangkan sup mendidih tepat di atas pangkuan suamimu."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(5) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

  Dia lupa bahwa rumah mewah yang dipijaknya ini sertifikatnya masih atas namaku, yang sengaja tak pernah kuberikan padanya untuk berjaga-ja...