Tiba-tiba, suara decit rem yang memekakkan telinga memecah keheningan.
Sebuah mobil melesat masuk ke pekarangan dan berhenti mendadak. Pintu pengemudi terbuka kasar.
Mas Randi keluar dengan penampilan yang sangat berantakan, dasi terlepas, kemeja kusut, dan wajah yang dipenuhi keringat dingin.
Dia berjalan cepat ke arahku, matanya merah menyala penuh amarah. Tanpa peringatan, tangan kanannya terayun deras.
PLAKK!
Tamparan keras mendarat telak di pipiku.
"Mas Randi! Kenapa kau menamparku?!" teriakku sambil memegangi pipi yang terasa terbakar.
Randi mencengkeram kerah kemejaku, menarik wajahku hingga jarak kami hanya tersisa beberapa sentimeter. Bau keputusasaan menguar dari napasnya.
"Tamparan itu belum seberapa, Aryo bodoh! Menangislah sepuasmu malam ini, karena kebangkrutan dan pengusiran ini hanyalah hidangan pembuka dari balas dendam mantan istrimu!" raung Mas Randi, suaranya bergetar hebat menahan ngeri.
"Asisten Kirana baru saja meneleponku. Besok pagi, tepat jam delapan, Kirana secara resmi mengundang seluruh kolega bisnis besar, kerabat elit keluarga kita, dan semua teman arisan sosialita Ibu untuk datang kemari! Dia ingin mereka semua menjadi penonton VVIP saat kita bertiga diusir paksa ke jalanan dengan hanya mengenakan pakaian yang menempel di badan!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar