Rabu, 06 Mei 2026

(12) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Tiga hari?! Ibu diam-diam menggadaikan satu-satunya rumah peninggalan almarhum Bapak kepada lintah darat hanya demi menutupi gaya hidup Ibu?!"


Suaraku menggelegar memantul di dinding kamar, memecah keheningan yang sejak tadi mencekik leher. 


Aku menatap Ibu dengan dada naik turun menahan amarah yang luar biasa. 


Fakta yang baru saja diungkapkan oleh wanita sewaan Ibu itu seolah menghantam kepalaku dengan godam besi.


Ibu yang sejak tadi berdiri angkuh, kini lututnya lemas. Beliau merosot jatuh ke lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu mulai menangis terisak-isak.


"I-ibu tertipu investasi bodong milik teman arisan Ibu, Putra," isak Ibu di sela tangisnya yang memilukan, keangkuhannya benar-benar menguap tak bersisa. 


"Uang tabungan Ibu habis, padahal Ibu sudah terlanjur berhutang sana-sini untuk beli perhiasan dan tas bermerek biar tidak kalah saing sama ibu-ibu kompleks. Rentenir itu menagih hutang lima ratus juta beserta bunganya. Ibu panik, Ibu tidak punya pilihan lain selain menggadaikan sertifikat rumah ini!"


Aku mengusap wajahku dengan kasar. 


"Lalu apa hubungannya dengan mengusir Fitri dan menyewa wanita ini untuk berpura-pura hamil, Bu? Apa susahnya Ibu jujur padaku dari awal?!"


Ibu mendongak, menatapku dengan mata merah yang masih menyimpan sisa-sisa kebencian saat melirik ke arah Fitri. 


"Gajimu tidak akan cukup melunasi hutang lima ratus juta dalam waktu singkat, Putra! Makanya Ibu menyewa Zea, Ibu mau kamu segera menceraikan perempuan miskin ini dan menikahi anak pengusaha kaya, supaya hutang Ibu bisa lunas dibayarkan oleh keluarga istrimu yang baru! Tapi ternyata istrimu ini malah merepotkan dan membuat semua rencana Ibu hancur berantakan!"


Di sudut ruangan, wanita bergaun ketat yang masih memakai nama samaran Zea itu tiba-tiba tertawa sumbang, tawanya terdengar begitu mengejek.


"Tante ini terlalu banyak berkhayal," cibir Zea seraya bersedekap dada. 


"Tante menyewaku sepuluh juta untuk berpura-pura jadi anak pengusaha kaya raya dan merusak rumah tangga anak Tante sendiri. Tabunganku saja isinya tidak sampai lima juta, Tante. Darimana aku bisa membayarkan hutang setengah miliar itu?"


Mendengar kenyataan pahit itu, Ibu semakin histeris. Beliau memukul-mukul lantai dengan putus asa. 


"Habis sudah! Kalau sampai lusa hutang itu tidak dibayar, kita semua akan diusir dari rumah ini! Ini semua gara-gara kamu, Fitri! Kalau saja kamu perempuan kaya, Ibu tidak perlu bersusah payah mencari cara sekotor ini!"


Aku baru saja akan membuka mulut untuk membentak Ibu agar berhenti menyalahkan istriku, namun sebuah sentuhan lembut di lenganku menghentikanku.


Aku menoleh. Fitri melangkah maju, melewatinya tubuhku.


Istriku yang selama enam bulan ini selalu menunduk, bersuara pelan, dan berpakaian sederhana dengan daster lusuh, kini berdiri tegak. 


Air mata di wajahnya sudah mengering. Aura kelembutan dan kepasrahan yang biasa menyelimutinya mendadak sirna, berganti dengan ketegasan yang luar biasa dingin dan mengintimidasi. 


Tatapannya begitu tajam, seolah mampu membekukan siapa pun yang melihatnya.


"Ibu pikir aku diam selama ini karena aku lemah dan bodoh, Bu?" suara Fitri mengalun sangat tenang, tak ada lagi nada getar atau isak tangis di sana. 


"Aku mengalah karena aku menghormati Mas Putra. Aku memakai baju sederhana dan menahan diri, karena aku ingin hidup tenang sebagai istri biasa. Tapi sepertinya, kesederhanaanku justru Ibu anggap sebagai kemiskinan yang pantas untuk diinjak-injak."


Ibu menghentikan tangisnya, menatap Fitri dengan kening berkerut bingung. 


Aku sendiri ikut terpaku, tak mengenali sisi lain dari istriku yang mendadak terasa begitu berkuasa ini.


Dengan gerakan anggun yang tak terduga, Fitri merogoh saku celana panjangnya, mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang entah sejak kapan ia miliki, lalu menatap Ibu mertuanya dengan senyum tipis yang merendahkan.


"Tarik kembali kata 'miskin' itu dari mulut Ibu. Berapa total tagihan dari rentenir itu? Lima ratus juta?" 


Suara Fitri menggema di ruangan itu, penuh dengan karisma yang membuat napas kami semua tertahan.


"Biar asisten pribadiku yang mentransfernya ke rekening rentenir itu detik ini juga. Tapi dengan satu syarat mutlak: sertifikat rumah ini akan beralih sepenuhnya menjadi atas namaku, dan Ibu, silakan angkat kaki dari propertiku besok pagi!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(12) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

  "Tiga hari?! Ibu diam-diam menggadaikan satu-satunya rumah peninggalan almarhum Bapak kepada lintah darat hanya demi menutupi gaya hi...