"Jadi, kapan perempuan mandul itu akan berhenti mengirim uang dan menyerahkan sertifikat rumah ini sepenuhnya padamu, Mas? Aku sudah muak bersembunyi terus."
Langkah Zevanya terhenti di ambang pintu. Tangan kanannya yang baru saja hendak memutar kenop pintu depan rumahnya sendiri, mendadak kaku.
Udara dingin malam itu seolah membeku di sekitarnya. Koper besar berisi hadiah-hadiah mahal hasil keringatnya bekerja di luar negeri selama tiga tahun, tiba-tiba terasa jauh lebih berat.
Pintu jati itu sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup untuk memperlihatkan ruang keluarga yang terang benderang.
Zevanya menahan napas, mengintip melalui celah kecil tersebut. Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan yang tersaji di dalam rumah hasil jerih payahnya.
Di sofa beludru mahal yang baru bulan lalu ia belikan, duduk suaminya, Kalandra. Laki-laki yang selama ini ia rindukan dan ia percaya menjaga kesetiaan.
Namun, Kalandra tidak sendirian. Di pangkuannya, bersandar seorang wanita muda yang perutnya sudah membuncit besar.
Kalandra sedang mengelus perut wanita itu dengan penuh kasih sayang, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada Zevanya.
"Sabar, Aluna sayang," suara Kalandra terdengar lembut, membelai rambut wanita hamil itu.
"Zevanya itu mesin uang kita. Kalau sertifikat rumah ini sudah berbalik nama menjadi namaku, kita akan langsung menendangnya keluar. Lagipula, dia tidak bisa memberiku keturunan sepertimu."
"Benar kata Kalandra, Nak Aluna," sahut sebuah suara yang sangat Zevanya kenal.
Ibu mertuanya, Ibu Lidya, berjalan dari arah dapur membawa semangkuk buah-buahan segar.
Wanita paruh baya yang selalu mengeluh sakit-sakitan setiap kali meminta uang bulanan tambahan itu, kini tampak sangat sehat dan tersenyum lebar menyuapkan potongan apel ke mulut Aluna.
"Perempuan mandul seperti Zevanya itu cuma berguna untuk dikuras hartanya. Cucu kesayangan Ibu harus lahir dengan fasilitas mewah, dan si Zevanya yang akan membayari semuanya tanpa dia sadari."
Dada Zevanya terasa seperti dihantam balok es. Sakit. Sesak. Matanya memanas dan air mata hampir saja tumpah merusak riasannya.
Tiga tahun ia menahan rindu, bekerja banting tulang di negeri orang, makan seadanya demi mengirimkan hampir seluruh gajinya untuk suami dan mertuanya.
Dan ini balasannya? Sebuah pengkhianatan menjijikkan di rumahnya sendiri?
Insting pertamanya adalah mendobrak pintu, mengamuk, dan menghancurkan semua barang di dalam sana.
Namun, saat tangannya mengepal erat, akal sehatnya mengambil alih.
Tidak, batin Zevanya. Kalau aku mengamuk sekarang, mereka akan mencari seribu alasan, bermanipulasi, dan Kalandra akan menyembunyikan sisa uangku.
Aku harus bermain cantik.
Akan kubuat mereka menyesal dengan caraku sendiri.
***
Zevanya menarik napas panjang, menghapus setitik air mata di sudut matanya, lalu memundurkan langkahnya perlahan.
Ia merapikan pakaiannya, memasang senyum paling manis yang bisa ia buat, dan bersiap memakai topeng terbaiknya malam ini.
Tok! Tok! Tok!
"Mas Andra! Ibu! Vanya pulaaang!" seru Zevanya dengan nada riang dan suara lantang.
Suasana di dalam rumah yang tadinya penuh tawa dan obrolan mesra, mendadak hening bak kuburan.
Terdengar suara grasak-grusuk, benda jatuh, dan langkah kaki panik dari dalam.
"Masya Allah! Itu suara Zevanya! Kenapa dia pulang tidak bilang-bilang?!" pekik Ibu Lidya dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.
"Sembunyi, Lun! Ke kamar belakang, cepat!" desis Kalandra.
Zevanya tersenyum miring di luar pintu. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
"Mas? Kok dikunci dari dalam sih? Ini Vanya, Mas!"
Ceklek.
Pintu terbuka. Kalandra berdiri di sana dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.
Senyumnya terlihat sangat dipaksakan, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"V—Vanya? Sayang? Kok kamu nggak ngabarin kalau pulang hari ini? Kan Mas bisa jemput ke bandara," ucap Kalandra terbata-bata, mencoba memeluk istrinya namun terlihat kaku.
Zevanya membalas pelukan itu tak kalah erat, meski perutnya mual mencium aroma parfum wanita lain di kemeja suaminya.
"Kejutan dong, Mas! Aku sengaja ambil cuti lebih awal biar bisa kasih surprise buat kamu sama Ibu. Aku kangen banget sama rumah ini."
Zevanya melepaskan pelukan dan melangkah masuk sambil menarik kopernya.
Ibu mertuanya berdiri mematung di dekat meja makan, wajahnya sepucat kapas melihat menantunya benar-benar berdiri di sana.
"Ibu! Vanya kangen banget," Zevanya meraih tangan mertuanya dan menciumnya takzim.
"Loh, Ibu kok gemeteran? Ibu sakit lagi? Padahal Vanya bawa vitamin mahal loh dari luar negeri khusus buat Ibu."
"Eh i-iya, Nak. Ibu agak masuk angin," jawab Ibu Lidya gelagapan, matanya tak berhenti melirik ke arah lorong kamar belakang.
Tepat saat itu, mata Zevanya pura-pura baru menyadari kehadiran seseorang yang berdiri kaku di dekat dapur.
Aluna, wanita hamil itu, ternyata tidak sempat bersembunyi dan kini berdiri dengan wajah tegang sambil memegangi perutnya.
Zevanya memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan tatapan polos yang dibuat-buat.
"Loh, Mas, Ibu ... ini siapa? Kok ada perempuan hamil di rumah kita malam-malam begini?"
Kalandra menelan ludah kasar. Ia bertukar pandang dengan ibunya sebelum akhirnya memaksakan sebuah tawa canggung.
"Ah, itu ... kenalkan, Yang. Ini Aluna. Dia ... dia keponakan jauh Ibu dari kampung."
Kalandra berbohong dengan lancar, meski suaranya sedikit bergetar.
"Kasihan, dia baru saja ditinggal kabur suaminya padahal sedang hamil besar. Ibu tidak tega, jadi menyuruhnya menumpang sementara di rumah kita sampai dia melahirkan. Boleh kan, Sayang? Kamu kan orangnya paling baik hati."
"I-iya, Nak Vanya," Ibu Lidya langsung menimpali cepat. "Kasihan Aluna, dia tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini. Lagipula lumayan ada yang bantu-bantu Ibu bersih-bersih selama kamu kerja."
Zevanya menatap Kalandra, Ibu Lidya, dan Aluna bergantian. Ia bisa melihat raut ketakutan di wajah ketiganya, menunggu vonis darinya.
Dalam hati, Zevanya tertawa sinis.
Hebat sekali sandiwara kalian. Keponakan jauh yang dihamili suami orang? Atau keponakan jauh yang dihamili suamiku sendiri?
Namun di luar, Zevanya justru tersenyum sangat lebar dan tulus. Ia berjalan menghampiri Aluna, lalu tanpa ragu mengelus lengan wanita itu dengan lembut.
"Ya ampun, kasihan sekali kamu, Mbak Aluna. Tega banget ya suaminya kabur meninggalkan istri yang sedang hamil besar," ucap Zevanya dengan nada prihatin yang dibuat sesempurna mungkin.
Matanya sengaja melirik tajam ke arah Kalandra sejenak sebelum kembali menatap Aluna.
"Laki-laki yang menelantarkan istrinya seperti itu memang pantasnya membusuk di penjara atau hidup melarat di jalanan, ya kan, Mas?"
Kalandra tersedak ludahnya sendiri.
"I-iya, Sayang. Benar."
"Tenang saja, Mbak Aluna," lanjut Zevanya sambil tersenyum manis menatap wajah tegang selingkuhan suaminya itu.
"Anggap saja rumah ini seperti rumah Mbak sendiri. Kebetulan aku pulang bawa banyak uang dan barang-barang bagus. Aku pastikan, selama aku di sini, kehidupan kalian berdua, akan sangat berubah."
Zevanya membalikkan badan, berjalan menuju kamar utamanya dengan koper di tangan, meninggalkan Kalandra dan Aluna yang saling bertukar pandang penuh kecemasan.
Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci, senyum manis di wajah Zevanya langsung lenyap seketika, digantikan dengan tatapan dingin yang tajam dan mematikan. Ia merogoh ponsel dari dalam tasnya, memutar sebuah nomor yang sudah ia simpan sejak lama.
"Halo, Raka? Ya, ini Zevanya. Aku butuh bantuanmu menyewa detektif swasta terbaik dan siapkan berkas pengalihan aset secara rahasia. Jangan sampai suamiku tahu. Ya, aku akan membuat mereka memohon mati daripada hidup menumpang di neraka yang sedang kubangun ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar