"Hukuman penjara atas kasus fitnah dan bekerja mengurus rumah tanggamu? Tidak, Danu. Hukuman seringan itu terlalu mewah untuk wanita yang telah mencuri putra mahkotaku dan membuat ibumu mati dalam kesedihan yang tak berujung!"
Suara bariton Tuan Haris Wijaya, pria yang baru saja kusadari adalah ayah kandungku, menggema keras di dalam ruang kerja mewahnya.
Tangannya yang mulai keriput namun masih kokoh itu menggebrak meja mahoni di hadapannya, membuat cangkir teh yang tersisa bergetar hebat.
Matanya yang menatapku kini dipenuhi oleh kilatan amarah yang menyala-nyala dan genangan air mata yang memilukan.
Baru sepuluh menit yang lalu aku menyerahkan bukti tes DNA itu, dan selama itu pula pertahanan ayahku runtuh.
Pria yang ditakuti di seluruh jalur perdagangan laut Taiwan ini menangis memelukku, menumpahkan kerinduan tiga puluh tahun yang terampas dengan paksa.
"Dia sengaja memanfaatkan kekacauan penyitaan rumah kita hari itu untuk membawamu lari, Danu. Kami mencarimu ke seluruh penjuru panti asuhan, mengerahkan detektif swasta, tapi Maryam memalsukan semua dokumenmu dan mengakuimu sebagai anak kandungnya," jelas Ayah dengan suara bergetar menahan kepedihan masa lalu.
"Ibumu ... ibumu tidak pernah berhenti menangis setiap malam hingga kesehatannya menurun drastis, dan akhirnya ia meninggal dunia tanpa pernah tahu bahwa putranya masih hidup."
Rahangku mengeras. Rasa benci pada Maryam dan Rini yang sempat sedikit mereda setelah mereka mendapat balasan di Jakarta, kini kembali mendidih hingga ke ubun-ubun.
Ternyata kejahatan mereka jauh lebih besar dari sekadar memeras keringatku dan menghina istriku.
Mereka adalah alasan utama mengapa aku tumbuh tanpa kasih sayang ibu yang sesungguhnya.
"Wanita tua itu memang pantas membusuk di penjara," desisku tajam. "Rini pun sekarang tidak punya jalan keluar selain bekerja keras melunasi utangnya padaku."
Namun, Ayah menggeleng tegas. Ia merapikan setelan jasnya, berjalan mendekatiku, dan menatap lurus ke dalam mataku dengan sorot tajam layaknya seorang pimpinan tertinggi.
"Apa yang kamu lakukan di Jakarta sudah sangat brilian, Putraku. Kamu berhasil melindungi istri dan anakmu, serta menghancurkan harga diri mereka. Tapi sebagai seorang ayah yang kehilangan anaknya selama tiga dekade, aku menuntut keadilanku sendiri," ucap Ayah dengan nada penuh perhitungan.
Aku menatapnya. "Apa yang ingin Ayah lakukan? Secara hukum, Maryam sudah ditahan oleh pihak kepolisian."
"Ditahan karena pencemaran nama baik adalah hukuman yang sangat remeh, Danu. Ancaman hukumannya terlalu singkat."
Ayah tersenyum dingin, sebuah senyum elegan yang menyiratkan kehancuran mutlak bagi siapa pun yang menjadi targetnya.
"Aku memiliki tim hukum terbaik di Asia. Kita akan menuntut ulang wanita itu atas pasal penculikan anak, pemalsuan dokumen identitas."
Aku terkesiap. Jika Ayah menjatuhkan semua pasal berat itu, Maryam dipastikan tidak akan pernah lagi melihat dunia luar selain dinding sel tahanan sampai akhir hayatnya.
"Lalu bagaimana dengan Rini, Ayah?" tanyaku.
"Rini tahu sejak awal bahwa kamu bukan adik kandungnya, tapi dia memilih diam dan ikut menikmati hasil keringatmu. Dia sama bersalahnya," jawab Ayah tanpa keraguan sedikit pun.
"Biarkan dia terus bekerja di rumahmu sebagai asisten rumah tangga tanpa dibayar. Biarkan dia melihat setiap hari bagaimana Sari dan cucuku hidup bergelimang harta, sementara dia merana. Tidak ada siksaan mental yang lebih menyakitkan bagi wanita serakah selain melihat kebahagiaan orang yang paling dibencinya."
Aku tersenyum puas. Keadilan sejati akhirnya benar-benar ditegakkan.
Ayah lalu melirik arloji mahalnya, kemudian berjalan menuju meja telepon dan menekan satu tombol untuk menghubungi sekretaris pribadinya di luar ruangan.
"Batalkan seluruh jadwal pertemuanku untuk dua minggu ke depan," perintah Ayah dengan suara tegas. Ia lalu berbalik menatapku, matanya memancarkan kebanggaan dan tekad yang bulat.
"Siapkan jet pribadiku malam ini juga, Danu. Kita terbang ke Jakarta bersama-sama, karena aku sendiri yang akan berdiri di depan jeruji besi wanita tua itu untuk memastikan dia tahu, bahwa anak yang dulu dia culik untuk dijadikan sapi perah, adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis Wijaya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar