"Adek sayang, kamu ngelindur ya pagi-pagi? Masa piagam lomba mewarnai dibawa ke notaris buat digadai?" tawa Papa Roni renyah dari layar ponsel, matanya yang masih mengantuk menyipit karena geli.
Aku sama sekali nggak ikut tertawa. Aku menarik napas panjang, menatap lurus ke arah kamera HP-ku dengan wajah serius.
"Adek nggak lagi bercanda, Pa. Coba Papa buka pesan WhatsApp yang baru aja Adek kirim. Tapi teleponnya jangan dimatiin dulu, ya."
Layar videoku sedikit menjauh saat Papa menurunkan ponselnya untuk membuka pesan dariku.
Aku mengirimkan video rekaman kemarin sore, yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana Mama dan Om Reno bermesraan sambil merencanakan pencurian harta Papa.
Dari balik layar, aku bisa melihat perubahan wajah Papa. Senyum hangatnya perlahan luntur.
Matanya yang tadi mengantuk mendadak terbuka lebar, menatap layar dengan tatapan tidak percaya. Rahangnya mengeras.
Sosok ayah yang ramah itu hilang dalam sekejap, digantikan oleh aura bos besar perusahaan properti yang tegas dan tidak bisa dipermainkan.
"Arni ..." gumam Papa pelan, suaranya terdengar bergetar menahan kecewa yang luar biasa.
"Pa," panggilku lembut, mengembalikan fokus Papa ke wajahku di layar.
"Sertifikat asli sama buku tabungan Papa yang lain udah Adek amanin semua. ATM Mama juga udah Adek minta Om Bima buat pura-pura diblokir bank. Adek hebat, kan?"
Papa menatapku lama, matanya berkaca-kaca. Beliau lalu menghela napas panjang dan mengusap wajahnya.
"Kamu hebat banget, Sayang. Maafin Papa ya, Papa terlalu sibuk kerja sampai nggak tahu apa yang terjadi di rumah. Kalau gitu, Papa akan suruh Om Bima lapor polisi sekarang juga biar mereka ditangkap."
"Jangan, Pa! Stop!" cegahku cepat-cepat sambil melambaikan tangan ke kamera.
Papa mengernyit heran.
"Kenapa jangan? Mama dan laki-laki itu sudah berniat jahat sama kita."
"Kalau dilaporin ke polisi, urusannya cepat selesai, Pa. Nanti Mama cuma dipenjara, malah enak dikasih makan gratis tiap hari," jelasku dengan nada gemas layaknya anak SMP yang sedang menyusun strategi main game.
"Adek mau kita kasih mereka pelajaran. Biar Mama sadar kalau pacar barunya itu cuma mau uangnya aja. Kalau Mama tiba-tiba nggak punya uang sepeser pun, pasti Om Reno itu bakal langsung ninggalin Mama."
Mendengar penjelasanku, raut wajah Papa perlahan berubah. Ujung bibirnya mulai tertarik ke atas, membentuk senyum bangga yang penuh misteri.
Papa memang selalu memujiku sebagai anak yang cerdas meniru insting bisnisnya.
"Anak pintar," puji Papa pelan. "Jadi, balas dendam tanpa lapor polisi? Boleh juga. Lalu, apa langkah selanjutnya dari direktur kecil Papa ini?"
Aku tersenyum lebar sampai gigiku kelihatan semua. Aku mengambil sertifikat hijau asli dari dalam tas sekolahku dan menunjukkannya ke depan kamera.
"Nanti sore Mama pasti nelepon Papa sambil nangis-nangis, ngarang cerita kalau rumah kita kerampokan dan sertifikatnya hilang. Papa pura-pura panik aja dan bilang mau kirim uang buat ganti rugi. Tapi, Papa setuju kan kalau mulai hari ini, sertifikat rumah ini kita balik nama diam-diam jadi atas nama anak perempuan Papa yang paling cantik ini? Biar lusa, pas Mama dan Om Reno bawa pembeli buat jual rumah kita, mereka berdua yang malah diseret keluar sama satpam komplek karena rumah ini udah resmi jadi milikku!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar