Belum sempat Ibu menjawab, suara klakson mobil sewaan berbunyi bersahut-sahutan di depan gerbang. Rombongan yang ditakutkan itu telah tiba.
Aku segera membukakan pintu. Suasana rumah yang tadinya hening mendadak berubah menjadi pasar malam.
Dua belas orang kerabat dari desa masuk dengan tawa menggelegar, membawa banyak koper, sementara lima anak kecil langsung berlarian mengitari ruang tamu, melompati sofa berbalut kain sutra kesayangan Ibu dengan sepatu yang masih berdebu.
"Wah, Mbakyu! Makin bersinar saja Nyonya kota ini!" seru Paman Budi sambil menepuk pundak Ibu dengan kencang, membuat Ibu nyaris terhuyung.
"Kami sudah tidak sabar mencicipi masakan andalan Mbakyu. Istriku bilang, Mbakyu khusus menyiapkan gulai cincang daging dan ayam tangkap bumbu rempah tumbuk untuk sarapan kami, ya?"
Mata Ibu melebar. Ia menatapku dengan panik. Aku hanya tersenyum simpul sambil mengangguk mantap kepada Paman Budi.
"Tentu saja, Paman. Ibu bahkan sudah menyembunyikan blender di dapur," potongku cepat, merangkul bahu Paman Budi dengan hangat.
"Kata Ibu, bumbu yang dihaluskan dengan mesin itu merusak cita rasa warisan leluhur. Jadi, Ibu bersikeras akan menumbuk semua bumbu gulai dan ayam tangkapnya dengan cobek batu pusaka secara manual. Khusus untuk menyambut Paman sekeluarga."
Paman Budi dan kerabat lainnya bertepuk tangan kagum, sementara Ibu terlihat seperti nyawanya baru saja ditarik keluar dari ubun-ubun.
Hari itu adalah neraka dunia bagi Nyonya Besar di istananya sendiri. Dari layar ponsel di ruang kerjaku, aku menikmati pertunjukan yang memuaskan.
Ibu menghabiskan waktu berjam-jam di dapur. Tangannya yang biasanya hanya memegang berlian dan tas bermerek, kini harus mengangkat cobek batu yang berat, menumbuk cabai, lengkuas, dan kemiri hingga lengannya gemetar hebat.
Keringat membanjiri wajahnya, melunturkan sisa gengsi yang masih ia coba pertahankan.
Sesekali ia harus berlari ke ruang depan, menghela napas panjang melihat lantai yang baru ia sapu kini penuh remahan keripik dan noda sirup dari keponakan-keponakannya yang hiperaktif.
Tanpa Raisa yang selama ini selalu sigap membersihkan segalanya bagai sihir, Ibu kini merasakan betapa beratnya beban yang selama ini selalu ia timpakan pada istriku.
***
Tengah malam tiba. Rumah akhirnya sunyi setelah para tamu tertidur pulas di kamar masing-masing.
Aku turun ke dapur untuk mengambil air minum dan mendapati pemandangan yang luar biasa.
Ibu sedang terduduk di lantai dapur yang kotor, bersandar pada lemari es dengan daster yang penuh noda kunyit dan cipratan minyak. Tangannya memijat pelan betisnya yang membengkak.
Air mata mengalir deras di pipinya tanpa bersuara.
Mendengar langkah kakiku, Ibu mendongak. Tidak ada lagi kilat kesombongan di matanya. Yang tersisa hanyalah keputusasaan.
"Ciko." Suara Ibu parau, nyaris seperti bisikan angin. "Tolong, Nak, panggil istrimu pulang. Ciko benar, rumah ini terlalu besar. Ibu ... Ibu tidak sanggup lagi. Biar Raisa yang mengurus semuanya besok pagi. Ibu mohon."
Aku menatap Ibu dalam diam selama beberapa detik, membiarkan permohonannya menggantung di udara yang dingin, sebelum akhirnya aku mengulas senyum paling tipis dan paling manis di bibirku.
"Pulang, Bu? Wah, sayang sekali. Ciko baru saja membelikan Raisa tiket tambahan untuk berlayar dengan kapal pesiar mewah keliling Asia Tenggara selama sebulan penuh," jawabku lembut, menatap tepat ke manik matanya yang kini membelalak ngeri.
"Katanya, angin laut sangat ampuh untuk menyembuhkan trauma akibat mertua yang tidak tahu berterima kasih. Selamat beristirahat, Bu. Jangan lupa pasang alarm, karena besok pagi Paman Budi minta dibuatkan seratus tusuk sate lilit daging cincang buatan tangan untuk sarapan."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar