Kujual rumah yang ditempati mertuaku karena mereka telah menghinaku. Rumah itu adalah uang hasil kerja kerasku. Mereka pikir aku tidak bisa melawan? Justru mereka akan merasakan akibatnya!
***
"Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya menumpang hidup di rumah mewah ini dan bersikap sok nyonya besar! Sadar diri, Hani! Tanpa Andre, kamu cuma perempuan kampung yang tidak punya apa-apa!"
Suara melengking Ibu mertuaku membelah keheningan pagi. Jari telunjuknya yang dihiasi cincin emas besar menunjuk tepat ke depan wajahku.
Di ruang keluarga itu, dua kakak iparku yang sedang duduk di sofa kulit, yang kubeli bulan lalu, hanya menyeringai sinis, menikmati tontonan gratis sambil menyesap kopi.
Aku berdiri diam, menatap wanita paruh baya itu dengan ekspresi sedatar mungkin. Bukan karena aku lemah, bukan karena aku takut.
Aku hanya sedang memastikan bahwa rasa hormat terakhir yang kusimpan untuknya benar-benar sudah hangus tak tersisa.
"Ibu! Cukup!"
Sebuah suara bariton yang menggelegar memotong ketegangan. Andre, suamiku, melangkah cepat menuruni tangga, wajahnya memerah menahan amarah yang meletup.
Ia langsung memosisikan dirinya di depanku, menjadi perisai yang kokoh untuk melindungiku dari tatapan merendahkan keluarganya.
"Andre! Kamu mau membela istri benalu ini? Dia sudah bersikap tidak sopan pada ibumu sendiri! Rumah ini terlalu bagus untuk diinjak oleh perempuan seperti dia. Ibu mau dia angkat kaki sekarang juga!" sergah Ibu mertuaku, tak terima dibantah oleh anak kesayangannya.
Rahang Andre mengeras.
"Kalau Hani pergi, aku juga pergi! Ibu lupa diri? Di sini Ibu yang menumpang! Dan asal Ibu tahu, rumah ini—"
Aku menyentuh lembut punggung tangan suamiku, menghentikan kalimatnya sebelum rahasia besar itu meluncur dari bibirnya.
Andre menoleh ke arahku, tatapannya penuh dengan permohonan maaf dan rasa frustrasi.
Suamiku tahu persis siapa yang membiayai setiap batu bata, setiap pilar marmer, dan setiap perabotan di rumah ini.
Aku. Uang hasil jerih payahku dari bisnis yang diam-diam kubangun sementara mereka menertawakanku setiap kali aku sibuk di depan laptop.
Selama ini aku membiarkan mereka merasa menjadi penguasa, merahasiakan status kepemilikan rumah ini demi menjaga kebanggaan dan harga diri Andre di depan keluarganya.
Tapi rupanya, kebaikanku dianggap sebagai kelemahan. Mereka benar-benar mengira aku menumpang hidup.
"Tidak apa-apa, Mas," bisikku tenang. Aku melangkah maju, berdiri berdampingan dengan Andre, lalu menatap lurus ke mata Ibu mertuaku.
"Jika Ibu memang merasa ini adalah istana Ibu, silakan nikmati. Kami akan pergi detik ini juga."
"Bagus! Akhirnya kamu sadar diri," cibir kakak iparku dari arah sofa. "Tapi ingat, jangan bawa satu pun barang berharga dari rumah ini. Itu semua milik adikku!"
Aku tersenyum tipis. Senyuman yang membuat Andre di sebelahku langsung menelan ludah, karena ia sangat paham apa arti senyuman itu. Sebuah lonceng kematian.
***
Setengah jam kemudian, hanya dengan dua koper berisi pakaian, aku dan Andre sudah duduk di dalam mobil. Mesin menyala, tapi Andre belum menginjak pedal gas.
Ia menggenggam tanganku erat, menatapku dengan raut penyesalan yang mendalam.
"Maafkan keluargaku, Sayang. Kamu tidak pantas dihina seperti tadi. Kenapa kamu tahan aku? Seharusnya kita bongkar saja semuanya, biar mereka tahu rasa," desah Andre, suaranya bergetar karena marah yang tertahan.
Aku membalas genggaman tangannya, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
"Tidak seru kalau sekadar dibongkar dengan kata-kata, Mas. Biarkan mereka berpesta hari ini, karena besok kejutan sesungguhnya akan datang."
***
Aku mencari sebuah nama di kontakku, menekan tombol panggil. Telepon tersambung pada dering ketiga.
"Halo, Pak Anton? Iya, ini dengan Hani. Sertifikat rumah Puri Indah yang atas nama saya sudah ready kan? Bagus. Jual rumah itu hari ini juga, lengkap beserta seluruh isinya. Berikan pada penawar tertinggi yang bisa membayar tunai hari ini."
Aku melirik ke arah kaca spion, menatap pilar-pilar putih rumah mewah yang selama ini diklaim oleh mertuaku.
"Oh, dan satu lagi, Pak Anton. Pastikan pembeli barunya membawa aparat untuk mengeksekusi pengosongan besok pagi-pagi sekali. Biar orang-orang di dalam sana tahu bagaimana rasanya diseret keluar dari rumah yang dibeli menggunakan uang perempuan yang baru saja mereka injak-injak."
***
"Udara pagi ini terasa jauh lebih segar tanpa jejak perempuan benalu di rumah ini. Keputusan Ibu mengusirnya benar-benar sebuah mahakarya yang patut dirayakan!"
Suara tawa renyah Mbak Sari, kakak ipar tertuaku, menggema memantul di dinding ruang makan berlapis marmer.
Di seberang meja, Ibu mertuaku, Ibu Kinanti, menyesap teh-nya dengan senyum penuh kemenangan.
Mereka tengah menikmati sarapan mewah, merayakan kepergianku seolah aku adalah penyakit yang baru saja disingkirkan dari istana mereka.
"Tentu saja. Ibu sudah muak melihat wajah sok sucinya itu," balas Ibu Kinanti, jemarinya sibuk merapikan bros berlian imitasi di kerah bajunya.
"Hari ini kita harus mengadakan arisan besar-besaran. Panggil semua teman-teman sosialita Ibu. Biar mereka lihat betapa suksesnya Andre sekarang, sampai bisa membelikan rumah semegah ini untuk ibunya. Tanpa gangguan istri tak bergunanya itu, tentu saja."
Mereka tidak tahu, sementara mereka menyusun rencana pesta yang megah, jam pasir kejatuhan mereka sudah mulai menghitung mundur.
***
Di tempat lain, di sebuah penthouse eksklusif hotel bintang lima di pusat kota, aku berdiri di balkon kaca, menatap pemandangan kota yang mulai sibuk.
Secangkir kopi hangat berada di tanganku. Sepasang lengan yang kokoh dan familier melingkar di pinggangku dari belakang. Andre menyandarkan dagunya di bahuku, mengecup singkat pipiku.
"Tidurmu nyenyak, Nyonya Besar?" bisik Andre, nada suaranya dipenuhi kehangatan dan kekaguman.
Aku tersenyum, bersandar pada dada bidang suamiku.
"Sangat nyenyak, Mas. Bagaimana denganmu? Tidak menyesal melihat keluargamu sebentar lagi akan kehilangan 'istana' mereka?"
Andre memutar tubuhku dengan lembut, menatap mataku lekat-lekat. Tidak ada keraguan di sana, hanya ada cinta dan ketegasan.
"Hani, sejak awal aku sudah bilang, kamu adalah prioritasku. Mereka sudah melampaui batas dengan menghinamu. Harga dirimu adalah harga diriku. Aku justru kagum melihat caramu membalas mereka tanpa perlu marah-marah atau melapor ke polisi. Sangat elegan, sangat ... kamu."
Ponselku yang tergeletak di meja balkon bergetar, menampilkan nama Pak Anton di layar. Aku menekan tombol pengeras suara agar Andre bisa ikut mendengar.
"Selamat pagi, Bu Hani. Saya membawa berita luar biasa," suara antusias agen propertiku terdengar jelas.
"Sesuai instruksi Ibu semalam, saya menawarkan rumah itu setengah harga lebih murah dari harga pasar, asalkan dibayar tunai hari ini juga dan pembeli bersedia mengeksekusi pengosongan sendiri."
"Lalu? Siapa pemenangnya, Pak Anton?" tanyaku santai.
"Nyonya Sisca, Bu. Beliau langsung mentransfer seluruh dananya subuh tadi setelah melihat sertifikat aslinya. Surat jual beli sudah ditandatangani. Beliau bahkan menyewa jasa keamanan swasta untuk mengosongkan rumah itu pagi ini."
Mendengar nama itu, Andre langsung menutup mulutnya, menahan tawa yang nyaris meledak.
Nyonya Sisca adalah musuh bebuyutan Ibu Kinanti di lingkaran sosialita.
Keduanya selalu bersaing dalam segala hal, mulai dari tas bermerek, perhiasan, hingga kebanggaan keluarga.
Mengetahui rumah kebanggaan Ibu mertuaku jatuh ke tangan rival abadinya adalah sebuah komedi satir yang terlalu sempurna.
"Kerja bagus, Pak Anton. Biarkan Nyonya Sisca menikmati mainan barunya," ucapku sebelum menutup telepon.
Aku menatap Andre yang kini tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
"Sayang, kamu benar-benar tahu cara menghukum orang tanpa harus mengotori tanganmu sendiri. Ibu pasti akan sangat malu."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar