"Aku bersumpah dengan mata kepalaku sendiri melihatmu masuk ke dalam taksi kemarin pagi, Maya! Jangan main-main denganku! Siapa ... siapa sebenarnya yang sedang bicara di dalam sana?!"
Suara Farhan terdengar parau, bergetar menahan luapan panik yang kini menguasai sekujur tubuhnya.
Tidak ada jawaban dari seberang sambungan. Panggilan itu mendadak terputus, menyisakan bunyi yang bergema pelan dari dalam koper jati di hadapannya.
Kesunyian kamar utama itu kini terasa memekakkan telinga.
Didorong oleh rasa takut yang bercampur dengan rasa ingin tahu yang menggebu, Farhan menyambar sebuah pemberat kertas dari marmer yang berada di atas meja rias.
Dengan napas memburu, ia menghantamkan benda tumpul itu ke arah gembok kombinasi koper.
Pada hantaman ketiga, gembok itu hancur berantakan. Tangan Farhan yang sedingin es perlahan meraih ritsleting koper dan menariknya terbuka.
Engsel koper berderit pelan, seolah enggan memperlihatkan rahasia yang tersimpan di dalamnya.
***
Seketika, aroma tanah basah dan bunga melati yang sangat menyengat menguar bebas dari dalam koper, memenuhi setiap sudut kamar.
Farhan terbelalak mundur hingga jatuh terduduk di atas lantai marmer. Tidak ada tubuh manusia di dalam sana, namun pemandangan yang ia lihat justru membuat akal sehatnya meronta.
Koper besar milik istri keduanya itu terisi penuh oleh sesuatu yang sangat ganjil.
Bagian dalam koper sama sekali tidak berisi pakaian. Seluruh ruangannya dipenuhi oleh tanah liat merah yang basah, persis seperti tanah yang baru saja digali dari area pemakaman.
Di tengah tumpukan tanah itu, tergeletak ponsel milik Maya yang layarnya masih menyala redup, menampilkan riwayat panggilan masuk dari nomor Farhan beberapa menit yang lalu.
Sedikit tertimbun di bawah ponsel, terdapat sebuah kertas resmi berlogo rumah sakit yang sudah menguning dan berbercak cokelat.
Tangan Farhan bergetar hebat saat ia memberanikan diri merogoh ke dalam tumpukan tanah dingin itu untuk mengambil lembaran kertas tersebut.
Ia mengusap sisa tanah yang menutupi tulisannya, lalu membacanya di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
Itu adalah sebuah Surat Keterangan Kematian.
Napas Farhan seakan ditarik paksa dari paru-parunya saat ia membaca nama yang tertera di sana: Maya Savitri.
Namun, bukan namanya yang membuat jantung Farhan nyaris berhenti berdetak, melainkan tanggal yang tercetak jelas di bawahnya. Surat itu diterbitkan tepat dua tahun yang lalu.
"Tidak mungkin." Farhan memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut hebat.
"Aku baru menikahinya sebulan yang lalu. Aku menyentuhnya, aku berbicara dengannya setiap hari, ini tidak masuk akal!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar