Mamaku selingkuh dan ingin menguasai harta papaku yang sedang di luar negeri, kujebak mamaku dengan cara...
***
"Papa Roni itu gampang banget dibohongin, Sayang. Mumpung dia masih sibuk di Dubai berbulan-bulan, kita kuras aja semua ATM-nya. Nah, sertifikat rumah mewah ini juga besok pagi bakal aku gadai buat modal kita kabur berdua."
Langkahku otomatis berhenti. Es krim cokelat yang baru aja kubeli di depan komplek nyaris jatuh ke lantai.
Aku buru-buru ngumpet di balik tembok pembatas ruang keluarga sambil nutup mulut rapat-rapat.
Jantungku deg-degan parah, rasanya kayak lagi ketahuan guru nyontek pas ulangan matematika.
Di ruang tamu sana, Mama Arni, mamaku sendiri yang biasanya sok kalem dan suka nyuruh aku rajin nabung, lagi asyik nyender di bahu cowok bertato yang jelas-jelas bukan Papa Roni!
"Kamu beneran udah pegang kunci brankasnya, Arni?" tanya cowok asing itu sambil ketawa girang.
"Udah dong. Roni kan bucin banget sama aku. Dia percayain semua hartanya di rumah ini ke aku. Besok pagi kita langsung ke notaris, oke?"
Mama senyum manja banget, bikin perutku rasanya mual mau muntah.
Sumpah, gila banget! Papa capek-capek kerja di luar negeri sampai jarang pulang, eh Mama malah enak-enakan pacaran di rumah dan mau maling harta Papa? Jahat banget!
Kalau aku anak kecil yang cengeng, mungkin aku udah lari nangis sambil teriak-teriak.
Tapi kata Papa Roni, aku ini anak pintar kebanggaannya.
Jadi, daripada ngamuk dan bikin HP-ku disita Mama, mending aku diam-diam keluarin HP dari saku seragam SMP-ku.
Pelan-pelan, aku arahin kamera ke celah tembok. Aku rekam semua adegan pelukan mereka dan obrolan jahat tadi pakai kamera zoom. Kualitas videonya jernih banget, mantap!
"Awas aja, Mama pikir aku anak kecil yang gampang dibego-begoin?" batinku kesal.
Aku ngendap-endap mundur, pura-pura baru buka pintu depan.
"Mama! Aku pulang!" teriakku sengaja kencang-kencang.
Terdengar suara orang panik dari ruang tamu. Pas aku jalan ke sana dengan wajah polos seolah nggak tahu apa-apa, cowok bertato itu udah berdiri kaku di deket pintu, dan Mama lagi sibuk benerin rambutnya yang berantakan.
"Eh, Sayang, k-kamu udah pulang sekolah?" sapa Mama gugup banget.
"Udah, Ma. Ini Om siapa? Kang sedot WC ya?" tanyaku polos sambil natap cowok itu dari atas ke bawah.
Wajah cowok itu langsung merah nahan marah, tapi Mama buru-buru ketawa canggung.
"Bukan, Sayang! Ini ... ini Om Reno, temen bisnis Mama. Ya udah, sana kamu ganti baju gih. Om Reno juga udah mau pulang kok."
"Oh, oke Ma!" Aku senyum manis banget, terus langsung lari naik ke kamarku di lantai dua.
Begitu pintu kamar kututup dan kukunci, senyum polosku langsung hilang. Aku buru-buru buka laci meja belajarku.
Tadi pagi, mumpung Mama lagi pergi arisan, aku iseng bongkar laci meja rias Mama nyari jepit rambutku yang hilang.
Eh, aku malah nemu kunci cadangan brankas Papa yang disembunyiin Mama di dalem kotak bedak.
Sekarang, aku udah tahu rencana Mama.
Aku ambil HP-ku, lalu nelepon nomor Om Bima, tangan kanan sekaligus asisten paling setia Papa Roni. Nggak butuh waktu lama sampai teleponnya diangkat.
"Halo, Om Bima? Ini aku ... iya, dengerin aku baik-baik ya, Om." Aku ngomong sambil senyum miring, natap dua lembar kertas di tanganku.
"Tolong bilangin ke bank, blokir semua ATM dan kartu kredit atas nama Mama sekarang juga, alasannya bilang aja sistem lagi error. Terus, Om kasih tahu Papa di Dubai, mulai malam ini jangan transfer uang sepeser pun ke Mama. Tenang aja, Om, Papa nggak usah khawatir soal sertifikat rumah." Aku tertawa kecil, melirik kertas bersampul hijau di atas kasurku.
"Sertifikat rumah yang asli udah aku umpetin di dalem kandang si Meng. Yang ada di dalem brankas Mama sekarang cuma piagam lomba mewarnaiku waktu TK yang udah aku lipet-lipet. Kita lihat aja besok pagi, Mama mau gadai apaan ke notaris!"
***
Bab 2
"Tiga, dua, satu, bersiaplah jadi miliarder baru, Sayang. Brankas suamiku yang gampang banget dibohongi ini akhirnya terbuka juga!" seru Mama kegirangan ke arah telepon genggamnya, suaranya dibuat semanja mungkin.
Aku menahan tawa sampai perutku rasanya kram sambil mengintip dari balik celah pintu kamar Mama yang sedikit pudar.
Pagi ini aku sengaja pamit berangkat sekolah lebih awal. Aku pura-pura mencium tangan Mama dengan wajah anak baik-baik, lalu berjalan keluar gerbang.
Padahal, begitu Mama masuk rumah, aku langsung putar balik, memanjat pohon mangga di samping garasi, dan masuk lagi ke rumah lewat jendela kamarku di lantai dua.
Mana mungkin aku melewatkan tontonan paling seru abad ini?
Dari tempatku bersembunyi, aku bisa melihat Mama dengan semangat menggebu-gebu memasukkan kombinasi angka ke brankas hitam milik Papa yang tertanam di dinding. Wajahnya berbinar-binar penuh keserakahan.
Pintu brankas terbuka.
"Nah, ini dia sertifikat rumahnya! Sebentar ya, Sayang, aku ambil dulu," ucap Mama sambil merogoh ke dalam brankas.
Tiba-tiba, senyum lebar di wajah Mama memudar. Keningnya berkerut bingung saat menarik sebuah gulungan kertas bersampul plastik dari dalam sana.
"Loh? Kok bentuknya begini? Perasaan dulu sampulnya warna hijau ..." gumam Mama pelan.
Tangannya yang lentik berlapis kuteks merah buru-buru membuka gulungan kertas itu.
Mataku berbinar antusias menunggu detik-detik kehancurannya.
"APA-APAAN INI?!" jerit Mama melengking, sampai-sampai ponselnya hampir terlempar ke lantai.
"Piagam Juara Satu Lomba Mewarnai Tingkat Kecamatan?! Di mana sertifikat rumahnya?!"
Mama mulai panik. Dia mengacak-acak isi brankas, membuang semua dokumen ke lantai, mencari sesuatu yang tidak akan pernah dia temukan di sana. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena marah dan kebingungan.
Di telepon, terdengar suara Om Reno yang ikutan panik bertanya-tanya ada apa.
Bagus. Rencanaku berjalan sangat mulus.
Aku ingin melihatnya pusing tujuh keliling, miskin perlahan-lahan, dan ditinggalkan oleh pacar bertatonya itu saat tahu Mama tidak punya uang sepeser pun.
Puas melihat Mama yang sedang frustrasi menggeledah seisi kamar, aku mengendap-endap kembali ke kamarku sendiri.
Aku duduk manis di atas kasur, mengambil ponselku, dan mencari kontak bernama 'Papa Roni Superhero'.
Ini saatnya. Papa harus tahu, tapi dengan caraku.
Aku menekan tombol panggilan video (video call).
Karena di Dubai sekarang pasti masih tengah malam, panggilanku baru diangkat setelah dering keempat.
Muncul wajah Papa Roni yang kelihatan mengantuk tapi langsung tersenyum hangat begitu melihat wajahku di layar.
"Halo, Anak Pintar kesayangan Papa. Tumben pagi-pagi udah video call, kangen sama Papa, ya? Atau uang jajannya kurang?" sapa Papa dengan suara berat dan lembutnya yang selalu membuatku merasa aman.
Aku menarik napas panjang, memasang wajah polos kesayanganku, lalu tersenyum manis ke arah kamera.
"Halo, Papa Roni yang paling ganteng sedunia! Adek cuma mau tanya nih, kira-kira menurut Papa, piagam juara satu lomba mewarnai adek waktu TK dulu, bisa laku digadai berapa miliar sama Mama dan pacar barunya ke notaris hari ini?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar