Tante Marni mengibas-ngibaskan tangannya, tersenyum penuh kemenangan.
"Sudahlah, Jeng. Jangan bawa-bawa menantu yang tidak ada di sini untuk menutupi kekurangan diri sendiri. Lagipula, perutku mendadak tidak enak. Sepertinya aku harus pulang duluan, takut asam lambungku kumat mencoba inovasi kulinermu ini."
Satu per satu, para nyonya berlian itu berpamitan dengan berbagai alasan basa-basi.
Meninggalkan Ibu yang berdiri mematung di tengah ruang makan, dikelilingi oleh hidangan gagal dan puluhan piring kotor yang berserakan.
Harga dirinya sebagai primadona arisan baru saja hancur tak bersisa di lantai rumahnya sendiri.
Begitu pintu depan tertutup rapat, pertahanan Ibu runtuh. Ia terduduk lemas di kursi meja makan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu mulai terisak pelan.
Aku berjalan mendekat, menarik selembar tisu mahal dari kotaknya, lalu mengusap noda kunyit di pipi Ibu dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh perhatian.
"Hapus air mata Ibu. Nyonya rumah sejati pantang menangis hanya karena ejekan murahan dan tumpukan piring kotor yang menggunung," bisikku di telinganya, menyunggingkan senyum tipis yang tak bisa ia lihat.
"Segeralah berbenah dan simpan sisa tenaga Ibu dengan baik malam ini. Karena lusa, rombongan keluarga besar mendiang Ayah dari kampung akan datang menginap selama tiga hari... dan mereka sangat merindukan jamuan prasmanan tiga kali sehari dari kakak ipar kesayangan yang terkenal tidak pernah kenal lelah."
***
"Halo, dengan agensi penyalur asisten rumah tangga harian? Saya butuh tiga orang tenaga kebersihan dan satu koki berpengalaman pagi ini juga! Berapa pun biayanya, saya bayar tiga kali lipat!"
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya. Tapi putra Anda, Bapak Ciko, sudah menghubungi kami tadi malam untuk memblokir alamat Nyonya. Beliau berpesan tegas agar kami tidak mengirimkan siapa pun, demi kelancaran 'terapi kemandirian paripurna' yang sedang Nyonya jalani untuk menjaga gengsi keluarga."
Gagang telepon itu terlepas dari tangan Ibu, berbunyi nyaring saat menghantam lantai marmer.
Aku yang sejak tadi berdiri di balik pilar tangga, melangkah keluar sambil menyesap kopi hitamku dengan santai.
Kulihat bahu Ibu merosot tajam. Wajahnya yang belum sempat dirias tampak sangat letih, dengan lingkar hitam yang mulai tercetak jelas di bawah matanya.
"Selamat pagi, Bu. Wah, rajin sekali pagi-pagi sudah menelepon. Mau pesan bahan masakan tambahan untuk keluarga besar Paman Budi?" sapaku riang, pura-pura tidak mendengar percakapannya barusan.
Ibu menoleh pelan, menatapku dengan pandangan putus asa.
"Ciko, kenapa kamu memblokir yayasan pembantu? Rombongan Pamanmu itu ada dua belas orang, Nak! Belum lagi anak-anak Paman Budi yang masih kecil dan sangat aktif. Ibu tidak akan sanggup mengurusnya sendirian."
Aku meletakkan cangkir kopiku di meja, lalu memegang kedua bahu Ibu dengan lembut, memberikan tatapan paling meyakinkan yang kumiliki.
"Ibu, Ciko melakukan ini justru demi menjaga kehormatan Ibu," ucapku dengan nada prihatin yang kubuat-buat.
"Paman Budi itu paling tidak suka orang kota yang sok bergaya pakai jasa pembantu. Ibu ingat, kan, tahun lalu Ibu sendiri yang menyombongkan diri di grup keluarga WhatsApp? Ibu bilang: 'Ah, urus rumah dan masak untuk puluhan orang itu kecil buatku, tanganku ini terbuat dari baja, tidak seperti anak muda zaman sekarang yang bisanya cuma mengeluh.' Nah, Ciko hanya ingin Ibu membuktikan kata-kata emas itu hari ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar