Rabu, 10 Juni 2026

Suamiku diusir mertuaku karena menikah lagi. Betapa kagetnya aku ketika mertua miskinku memberikan warisan berupa...

 

Suamiku diusir mertuaku karena menikah lagi. Betapa kagetnya aku ketika mertua miskinku memberikan warisan berupa...


***


"Silakan angkat kaki dari rumah ini sekarang juga, Fikri! Bawa wanita gatal itu pergi dan jangan pernah tunjukkan muka menjijikkan kalian di hadapan Ibu lagi!"


Suara lantang Ibu Sofia menggema, memecah keheningan kompleks perumahan sore itu. Tangannya menunjuk lurus ke arah pintu pagar yang terbuka lebar. 


Di sana, Fikri berdiri dengan wajah tegang, merangkul mesra pinggang seorang wanita berpakaian ketat yang terus-menerus terisak palsu.


Gita, yang berdiri di samping Ibu Sofia, hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat. Dadanya sesak, air matanya sudah mengering sejak dua jam lalu saat Fikri dengan tidak tahu dirinya pulang membawa istri baru. 


Suami yang dinikahinya selama tiga tahun, yang selalu ia dukung dari nol, tega mengkhianatinya tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.


"Ibu keterlaluan! Ibu mengusirku demi membela Gita?"


Fikri berteriak tak terima, wajahnya merah padam menahan malu karena tetangga mulai berbisik-bisik. 


"Ibu lupa siapa yang selama ini memberi Ibu uang bulanan? Tanpa aku, Ibu dan Gita hanya dua janda miskin yang akan kelaparan di jalanan! Ayo, Siska, kita pergi. Biarkan mereka membusuk di sini!"


Dengan angkuh, Fikri menarik wanita selingkuhannya itu masuk ke dalam mobil sedan. Mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan luka yang menganga di hati Gita.


Ibu Sofia berbalik, menatap menantu kesayangannya dengan tatapan teduh, jauh berbeda dari sorot matanya yang berapi-api saat mengusir anak kandungnya sendiri tadi. Beliau menggenggam tangan Gita yang gemetar.


"Gita, maafkan Ibu yang gagal mendidik Fikri menjadi laki-laki yang tahu diri," lirih Ibu Sofia, matanya berkaca-kaca.


"Ibu tidak salah," bisik Gita dengan suara serak. "Tapi bagaimana nasib kita sekarang, Bu? Rumah ini atas nama Fikri. Kita benar-benar tidak punya apa-apa lagi."


Ibu Sofia tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang belum pernah Gita lihat selama tiga tahun menjadi menantunya. 


"Siapa bilang kita tidak punya apa-apa? Ikut Ibu. Ada sesuatu yang harus Ibu serahkan padamu."


Gita mengernyitkan dahi ketika Ibu Sofia membawanya ke sebuah kawasan pinggiran kota yang gersang dan sepi. 


Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang tampak terbengkalai, dikelilingi oleh pagar besi yang sudah berkarat sepenuhnya. 


Di papan depan bangunan, samar-samar terlihat tulisan usang: Gudang Logistik Lama.


Apa yang sebenarnya ibu mertuanya sembunyikan? Apakah ibu mertuanya itu... 


***

Bab 2

"Bu, kenapa kita ke tempat sekumuh ini?" tanya Gita bingung. 


Setahunya, Ibu Sofia hanyalah seorang pensiunan guru yang hidup sangat sederhana dan selalu berhemat.


Ibu Sofia tidak menjawab. Beliau mengeluarkan sebuah kunci kuno berwarna emas yang ukurannya cukup besar dari dalam tas kainnya. 


Dengan tangan yang sedikit gemetar karena usia, beliau membuka gembok rantai raksasa yang mengikat pagar tersebut.


Pintu besi itu terbuka dengan suara berdecit yang memilukan telinga.


Ibu Sofia melangkah masuk, menuntun Gita menembus debu-debu yang beterbangan. 


Di dalam gudang yang luas dan gelap itu, hanya ada sebuah meja kayu tua di tengah ruangan. 


Di atas meja tersebut, terdapat sebuah kotak besi berukuran sedang yang dilapisi ukiran naga emas.


"Gita, Fikri mengira dia bisa menginjak-injak kita karena dia merasa paling kaya setelah menjadi manajer di perusahaannya," ujar Ibu Sofia sembari mengelus kotak besi itu. 


"Dia lupa, atau lebih tepatnya tidak pernah tahu, dari mana semua modal awal kedai dan bisnis yang dia rintis berasal."


Ibu Sofia memasukkan kunci emas tadi ke dalam lubang kotak besi tersebut.


Tutup kotak terbuka. Gita menahan napasnya, mengira ia akan melihat tumpukan uang tunai atau beberapa perhiasan emas kuno. 


Namun, matanya justru membelalak sempurna saat melihat isi di dalamnya. 


Tidak ada uang sepeser pun. Hanya ada tiga buah benda: sebuah stempel resmi berlambang kekaisaran bisnis multinasional, selembar sertifikat kepemilikan tanah hitam berkilau, dan sebuah kartu cip emas bertuliskan Priority Sovereign. 


"Ibu, apa ini?" tanya Gita dengan suara tercekat.

Ibu Sofia mengambil kartu cip emas dan sertifikat tersebut, lalu meletakkannya tepat di atas kedua telapak tangan Gita yang gemetar hebat.


"Ini adalah sertifikat kepemilikan mutlak atas 70% saham batubara di Sumatra dan seluruh aset dari Airlangga Group yang selama ini sengaja Ibu sembunyikan dari Fikri agar dia tidak menjadi tamak, namun sayangnya, dia tetap menjadi bajingan," ucap Ibu Sofia dengan nada sedingin es, namun matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa.


Gita hampir saja menjatuhkan kartu di tangannya. Airlangga Group? Perusahaan raksasa yang menguasai hajat hidup orang banyak dan bahkan menjadi pemilik utama dari perusahaan tempat Fikri bekerja saat ini! Jadi selama ini, mertua yang ia kira miskin dan sederhana adalah seorang taipan pemilik dinasti bisnis terbesar di negeri ini?


"Ibu sengaja memindahkan seluruh hak waris atas nama Fikri langsung menjadi atas namamu sejak satu jam yang lalu," lanjut Ibu Sofia, menatap Gita dengan senyum puas. "Mulai hari ini, kamulah pemilik tunggal dari seluruh kekayaan ini, Gita. Simpan identitas barumu ini rapat-rapat, jangan sampai Fikri tahu sedikit pun tentang apa yang kita miliki sekarang."


Gita menatap kartu di tangannya, lalu mendongak menatap mertuanya dengan kilat mata yang kini berubah drastis—tak ada lagi kesedihan, yang ada hanyalah ambisi balas dendam yang membara dari balik bayangan.


"Biarkan dia tertawa di atas penderitaan palsu kita sekarang, Bu, karena saat aku menarik semua asetnya nanti secara diam-diam, dia bahkan tidak akan tahu dari mana arah datangnya badai yang menghancurkan hidupnya!"


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suamiku diusir mertuaku karena menikah lagi. Betapa kagetnya aku ketika mertua miskinku memberikan warisan berupa...

  Suamiku diusir mertuaku karena menikah lagi. Betapa kagetnya aku ketika mertua miskinku memberikan warisan berupa... *** "Silakan ang...