Rabu, 10 Juni 2026

(3) Menantuku selalu membuat makanan basi untuk anakku. Setelah kuselidiki, ternyata selama ini anakku selingkuh. Akhirnya kubantu menantuku dengan...

 


"Lalu, apa yang harus Irma lakukan, Ma? Irma tidak punya apa-apa kalau Mas Gala meninggalkan Irma," bisik Irma lirih.


Aku tersenyum penuh arti. 


"Kamu punya Mama. Mulai besok, masaklah makanan yang paling lezat, paling mewah, dan paling bergizi. Biarkan suamimu merasa menjadi raja di rumah ini."


"Tapi Ma, kalau Mas Gala betah di rumah, uangnya akan makin utuh untuk perempuan itu," protes Irma bingung.


"Percayalah pada Mama. Biarkan dia merasa terbang tinggi ke awan, sebelum kita menjatuhkannya ke dasar jurang tanpa dia sadari."


***


Keesokan paginya, rencana pertamaku dimulai. Sebagai ibu yang memegang kendali atas aset keluarga, termasuk rumah yang ditempati Gala dan modal bisnis perusahaan logistik yang dikelolanya, aku memiliki akses penuh. 


Aku mendatangi kantor Gala tanpa pemberitahuan.


"Wah, Mama tumben datang ke kantor?" sambut Gala dengan senyum semringah, tampak sudah melupakan kejadian sup kemarin malam.


"Mama merindukan anak tunggal Mama," kataku manis, duduk di kursi kebesarannya. 


"Gala, Mama perhatikan bisnismu semakin maju. Mama berniat memindahkan seluruh rekening operasional perusahaan dan aset properti keluarga ke dalam satu sistem kelola baru, agar pajaknya lebih ringan. Mama butuh semua tanda tanganmu di berkas pengalihan ini."


Gala, yang selama ini selalu memercayakan urusan hukum dan aset kepadaku, tanpa curiga sedikit pun langsung menandatangani tumpukan berkas yang kusodorkan. 


Dia tidak membaca klausul kecil di lembar ketiga: Bahwa seluruh hak kelola dan kepemilikan aset dialihkan secara mutlak kepada pihak ketiga, yaitu Irma Lestari, jika terjadi kecacatan moral atau hukum dalam keluarga.


"Sudah semua, Ma. Lagipula, semua ini kan nantinya akan jadi milik Gala juga," ucapnya penuh percaya diri sambil menyerahkan kembali berkas itu.


Aku menerima berkas itu dengan senyuman paling menawan yang kupunya. 


"Tentu saja, Nak. Mama hanya ingin memastikan semuanya aman di tangan yang tepat."


***


Sore harinya, aku mengirimkan sebuah buket bunga mawar mewah ke apartemen Vanya secara anonim. 


Di dalam buket itu, aku menyelipkan sebuah kartu ucapan berlogo toko perhiasan emas terkenal, lengkap dengan nota pembelian palsu senilai ratusan juta rupiah atas nama Gala.


Aku tahu persis watak wanita simpanan seperti Vanya; dia pasti akan langsung menuntut hadiah yang sama setibanya Gala di sana nanti malam. 


Skenario ini akan membuat Gala mulai tertekan secara finansial, karena uang tunai di rekening pribadinya perlahan-lahan mulai kubatasi lewat sistem kelola baru perusahaan.


***


Malam harinya, Gala pulang ke rumah dengan senyum lebar karena mendapati meja makan penuh dengan makanan mewah; udang galah saus padang, sup iga, dan ayam bakar madu buatan Irma yang sangat menggugah selera.


"Nah, begini dong! Ini baru menantu Mama yang pintar memasak," puji Gala memberi angin segar, langsung makan dengan lahap tanpa tahu bahwa ini adalah 'perjamuan terakhirnya'.


Irma melirikku, dan aku membalasnya dengan kedipan mata yang menenangkan.


Saat Gala sedang asyik mengunyah, ponselnya di atas meja berdering. Sebuah pesan video masuk dari nomor Vanya. 


Gala langsung tersedak saat membuka pesan itu. Wajahnya yang tadinya cerah, seketika berubah menjadi pucat pasi dan dipenuhi keringat dingin.


Aku menyesap teh hangatku dengan sangat elegan, lalu menatap putra tunggalku yang mulai gemetaran memegangi ponselnya.


"Kenapa mukamu pucat begitu, Gala? Apa makanannya kurang nikmat, atau ada tagihan tak terduga yang tiba-tiba membuat jantungmu mau copot?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suamiku diusir mertuaku karena menikah lagi. Betapa kagetnya aku ketika mertua miskinku memberikan warisan berupa...

  Suamiku diusir mertuaku karena menikah lagi. Betapa kagetnya aku ketika mertua miskinku memberikan warisan berupa... *** "Silakan ang...