Selasa, 09 Juni 2026

Kupaksa istri pertamaku mencuci noda haid istri keduaku. Tapi mendadak peristiwa sial datang padaku, jangan-jangan istriku...

 


Kupaksa istri pertamaku mencuci noda haid istri keduaku. Tapi mendadak peristiwa sial datang padaku, jangan-jangan istriku...


***


"Kucek seprei ini sampai kembali seputih tulang, Yuna! Jika besok pagi aku masih melihat sisa noda merah pekat dari istri keduaku di sana, aku pastikan kamu tidak akan tidur nyenyak di rumah ini!"


Suara kain basah yang dilemparkan dengan kasar itu memantul di dinding kamar mandi. 


Farhan menatap istri pertamanya dengan sebelah alis terangkat, penuh arogansi. 


Yuna sama sekali tidak membantah. Perempuan yang entah sejak kapan terlihat sangat pucat itu hanya menunduk dalam diam, perlahan memungut seprei yang baru saja ditarik paksa dari kasur utama.


Merasa di atas angin, Farhan mendengus pelan lalu berbalik pergi. Ia menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Yuna dalam keheningan yang hanya disela oleh gemericik kran air. 


Farhan berjalan santai menuju ruang tamu, berniat menyalakan televisi dan bersantai. 


Namun, baru saja ia menyandarkan punggungnya ke sofa, rentetan kesialan yang janggal mulai berdatangan.


Tanpa ada angin atau guncangan, pigura foto pernikahannya dengan istri kedua yang menempel kuat di dinding tiba-tiba terlepas dan kacanya hancur berantakan di atas lantai. 


Saat Farhan terkejut dan bangkit untuk memungutnya, kaki meja kopinya mendadak patah, menumpahkan gelas kopi panas tepat ke celananya. 


Ia mengumpat kesal, namun umpatannya tertahan saat menyadari udara di ruang tamu perlahan berubah menjadi sangat dingin. 


Ada hembusan aroma aneh yang tiba-tiba memenuhi ruangan, bukan bau amis, melainkan aroma tajam bunga melati layu yang bercampur dengan bau tanah basah.


Kejanggalan itu membuat bulu kuduk Farhan perlahan meremang. Ia buru-buru merogoh ponselnya yang tiba-tiba bergetar di saku celana. 


Ada sebuah panggilan masuk dari ibunda Yuna.


"Halo, Bu?" sapa Farhan sambil mengibaskan celananya yang basah.


Di seberang sana, terdengar helaan napas berat dan isak tangis yang tertahan. 


"Farhan, kapan kamu mau menjenguk Yuna? Dokter baru saja bilang kondisinya makin kritis. Ibu tidak sanggup melihatnya terus terbaring koma sejak kecelakaan tabrak lari tiga hari yang lalu, Nak."


Napas Farhan seketika tercekat. 


Ponselnya nyaris tergelincir dari genggaman. Pikirannya mendadak kosong, menyisakan rentetan pertanyaan yang membuat keringat dingin menetes di pelipisnya. Farhan kira, Yuna sudah sembuh sejak kembali pulang kemarin. 


Jika Yuna sudah terbaring koma di rumah sakit sejak tiga hari yang lalu, lalu siapa perempuan berwajah pucat yang baru saja ia bentak di kamar mandi?


Dan dari mana asal noda merah di sepreinya, padahal istri keduanya baru saja pamit pulang kampung kemarin pagi?


Dengan langkah gontai dan dada yang bergemuruh keras, Farhan memaksakan diri berjalan kembali menyusuri lorong rumahnya yang mendadak terasa amat sunyi. 


Pintu kamar mandi kini sedikit terbuka. Suara gesekan kain yang sedang dikucek terdengar berirama, pelan, dan sangat monoton.


Farhan mendorong daun pintu itu perlahan dengan ujung jari yang sedingin es. 


Sosok berbaju persis seperti Yuna itu masih membelakanginya, berjongkok pasrah di depan ember cucian. 


Mendengar derit pintu, sosok itu perlahan menghentikan gerakannya, lalu menoleh ke arah Farhan. Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun perlahan menyunggingkan senyum tipis yang terasa sangat salah dan ganjil.


"Mas Farhan sungguh yakin yang sedang kucuci ini noda dari istri barumu? Coba ingat-ingat lagi, Mas, bukankah perempuan yang kamu bawa ke kamar itu sama sekali tidak pernah bernapas sejak pertama kali melangkah masuk ke rumah ini?"


***

Bab 2

"Masih mau menyuruhku mengucek seprei ini, Mas? Percuma, sebanyak apa pun air yang kugunakan, bau tanah makam dari perempuan di kamarmu itu tidak akan pernah bisa hilang."


Kata-kata itu meluncur mulus dari bibir sosok pucat di hadapannya, menggema di telinga Farhan bagai lonceng kematian. 


Pria itu tidak sanggup membalas. Kakinya terasa seperti dipaku ke lantai, sementara napasnya memburu tak beraturan. 


Sosok yang menyerupai Yuna itu memiringkan kepalanya perlahan, menatap Farhan dengan sorot mata kosong namun mengunci pergerakannya.


Didorong oleh insting bertahan hidup yang tersisa, Farhan membanting pintu kamar mandi sekuat tenaga dan menguncinya dari luar. 


Ia bersandar pada daun pintu yang dingin, mengatur napas sambil memejamkan mata rapat-rapat. 


Pikirannya berkecamuk. Ia mencoba mencari benang merah dari teka-teki gila yang tiba-tiba mengurungnya malam ini.


Jika Yuna ada di rumah sakit, dan istri keduanya Maya, telah pergi ke kampung halaman kemarin pagi, lalu siapa yang menempati kasurnya semalam?


Rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan mendorong Farhan melangkah menuju kamar utama. 


Ia harus membuktikan sendiri keganjilan ini. Lorong rumah terasa membentang lebih panjang dari biasanya. Bau bunga melati layu dan tanah basah kini semakin pekat, menggerogoti udara yang ia hirup.


***


Farhan memutar knop pintu kamar utama perlahan. Ruangan itu gelap gulita. Dengan tangan sedikit bergetar, ia meraba dinding dan menyalakan sakelar lampu. 


Seketika, pemandangan di depannya membuat kening pria itu berkerut dalam.


Seprei putih yang tadi ditariknya tak bersisa, memperlihatkan permukaan kasur yang lembap. 


Di tengah-tengahnya, terdapat bercak merah kecokelatan. Farhan mendekat dan menyentuhnya pelan. 


Teksturnya berpasir. Itu bukan noda cairan tubuh, melainkan tanah liat merah yang masih basah.


Di lantai marmer kamarnya, terdapat jejak-jejak telapak kaki kecil yang mengarah ke sudut ruangan. Jejak itu terbentuk dari sisa-sisa tanah yang sama.


Pendingin ruangan sedang mati, namun hawa di titik tempat tidur itu terasa sangat dingin, persis seperti udara di lemari pendingin rumah sakit.


Pandangan Farhan beralih mengikuti arah jejak kaki tanah tersebut. Jejak itu berhenti tepat di depan lemari jati besar milik Maya. 


Jantung Farhan berdegup kencang. Ia teringat dengan jelas, kemarin pagi ia sendiri yang melihat Maya membawa koper besarnya ke luar pintu depan untuk naik taksi menuju stasiun.


Dengan keberanian yang dipaksakan, Farhan menarik gagang pintu lemari jati itu.


Kedua matanya membelalak sempurna. Di bagian paling bawah lemari, tertutupi oleh beberapa helai gaun panjang yang menggantung, tergeletak koper besar milik Maya. 


Koper yang seharusnya dibawa pulang ke kampung halaman itu masih ada di sini, dalam keadaan terkunci rapat.


***


Tangan Farhan bergetar saat ia mencoba meraih gagang koper tersebut. Koper itu terasa sangat berat, seolah berisi sesuatu yang padat dan kaku.


"Tidak mungkin," bisik Farhan pada dirinya sendiri. 


Ia segera merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel, dan menekan nomor Maya. Ia harus memastikan istrinya itu baik-baik saja dan sedang berada di rumah orang tuanya di desa.


Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali.


Tepat pada dering ketiga, sebuah suara getaran panjang terdengar dari dalam kamar. 


Farhan membeku. Matanya tertuju pada koper di dalam lemari. Getaran ponsel itu berasal dari dalam sana. Perlahan, dering telepon berhenti, berganti dengan tanda panggilan terjawab.


Ada seseorang, atau sesuatu, yang baru saja mengangkat teleponnya.


Farhan mendekatkan ponsel ke telinganya, menahan napas. 


Terdengar suara gemerisik aneh, persis seperti suara tanah yang sedang digali dengan menggunakan kuku. Lalu, sebuah suara lirih yang sangat ia kenal memecah keheningan malam di seberang sambungan telepon.


"Mas." Suara Maya bergetar pelan, diiringi ketukan pelan yang terdengar dari dalam koper di hadapan Farhan. 


"Katanya Mas cuma mau memelukku semalaman. Tapi kenapa ... Mas malah memasukkanku ke dalam tempat yang sempit dan gelap ini?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(4) Mamaku selingkuh dan ingin menguasai harta papaku yang sedang di luar negeri, kujebak mamaku dengan cara...

  "Huwaaa ... Papa! Maafin Mama, Pa! Rumah kita dibobol maling siang bolong! Brankas di kamar hancur berantakan, dan yang paling bikin ...