Selasa, 09 Juni 2026

Aku pulang dari taiwan setelah 5 tahun merantau, tapi saat melihat kondisi rumah masih gubuk, anak-anakku pakaiannya seperti gembel, betapa marahnya aku pada suamiku yang ternyata selama ini membiayai...

 


Aku pulang dari taiwan setelah 5 tahun merantau, tapi saat melihat kondisi rumah masih gubuk, anak-anakku pakaiannya seperti gembel, betapa marahnya aku pada suamiku yang ternyata selama ini membiayai...


***


"Lima tahun aku memeras keringat di negeri orang sampai nyaris lupa rasanya tidur nyenyak, tapi inikah istana yang selalu kau pamerkan di telepon, Mas Agung?!"


Koper berisi buah tangan dari Taiwan yang kubawa jatuh berdebum ke tanah yang becek. Tanganku bergetar hebat. 


Sopir taksi yang baru saja menurunkan barang-barangku bahkan sampai menahan napas, tak berani menatap wajahku yang memerah menahan ledakan emosi.


Di depanku, tidak ada rumah bertingkat dengan cat putih elegan seperti foto yang selalu dikirimkan suamiku setiap bulan. 


Yang berdiri ringkih di sana hanyalah gubuk reyot dengan dinding anyaman bambu yang sudah bolong dimakan usia. 


Atap sengnya berkarat, melengkung di sana-sini, dan hanya ditambal dengan terpal plastik seadanya untuk menahan bocor.


Darahku terasa mendidih hingga ke ubun-ubun. Setiap bulan aku mengirimkan uang tak kurang dari belasan juta rupiah. 


Di Taiwan, aku rela makan hanya dengan nasi dan kuah kaldu, bekerja lembur sebagai perawat lansia nyaris tanpa hari libur. 


Suamiku, Agung, selalu beralasan uang itu langsung dipakai untuk biaya beli material, membayar tukang, dan memberikan fasilitas sekolah terbaik untuk dua buah hati kami.


Namun, duniaku runtuh seketika saat pandanganku tertuju pada dua sosok kecil yang sedang berjongkok mengais sesuatu di pelataran tanah kering di samping gubuk. 


Anak-anakku. Dika dan Nisa.


Napasku tercekat. Hatiku hancur berkeping-keping. Pakaian yang menempel di tubuh kurus mereka sudah sangat kumal, memudar warnanya, robek di bagian kerah, dan sungguh lebih mirip seperti kain lap yang tak layak pakai. 


Nisa, putri kecilku yang seharusnya tumbuh cantik terawat, rambutnya kusut masai dipenuhi debu. 


Mereka menatapku dengan sorot mata kosong dan ketakutan, persis seperti anak jalanan yang melihat orang asing.


Air mataku tumpah tak tertahan. Aku berlari merengkuh keduanya, mengabaikan bau apak dan kotoran yang menempel di tubuh mereka. 


Mereka meronta kecil, tak mengenaliku karena terlalu lama ditinggalkan. Sakit rasanya menyadari bahwa ayahnya sendiri tega menelantarkan darah dagingnya demi sebuah kebohongan besar.


Belum sempat aku menenangkan tangisan Dika dan Nisa, sayup-sayup terdengar suara deru mesin motor dari arah gang. 


Sebuah motor matic keluaran terbaru yang mengilap berhenti tepat di halaman berlumpur itu.


Aku menoleh. Di sana berdiri Agung, suamiku. Ia turun dari motor mengenakan jaket kulit yang tampak mahal, sepatu kets bermerek, dan jam tangan berkilau yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia tidak menyadari kehadiranku karena posisiku tertutup bayangan pohon mangga dan mobil taksi yang perlahan pergi. 


Suamiku itu sedang sibuk menelepon seseorang sambil tertawa-tawa kecil, tanpa beban.


Tanganku mengepal kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan saat suaranya terdengar begitu jelas memecah keheningan sore itu.


"Tenang saja, Sayang. Transferan dari si babu di Taiwan itu bulan ini cair dobel kok. Besok Mas lunasi sisa cicilan mobil baru untuk ibuku, dan sisanya Mas transfer penuh untuk modal butik dan biaya liburan kita. Beres pokoknya, dia kan lugu, mana tahu kalau gubuk ini sengaja nggak Mas sentuh sama sekali!"


***

"Kita pergi dari sini sekarang juga, Sayang. Ibu berjanji, tawa laki-laki itu sore ini akan menjadi tawa kebahagiaan terakhirnya, sebelum dunia yang ia bangun dengan kebohongan runtuh tanpa sisa."


Aku berbisik pelan, menahan isak tangis sambil mendekap Dika dan Nisa erat-erat. 


Dengan langkah mengendap-endap dan sisa tenaga yang kumiliki, aku menuntun kedua malaikat kecilku menjauh dari gubuk reyot itu, menyusuri gang sempit di sisi lain rumah agar tak terlihat. 


Koper besarku kutinggalkan begitu saja di bawah bayangan pohon mangga; biarlah itu menjadi misteri pertamanya.


Agung masih berdiri di halaman, memunggungiku, terlalu sibuk menertawakan penderitaanku bersama wanita di seberang telepon sana. 


Ia tidak tahu, bahwa wanita lugu yang selama ini ia bodohi telah mati terbunuh oleh kalimatnya sendiri barusan.


***


Sore itu juga, aku membawa anak-anakku menyewa sebuah kamar suite di hotel bintang lima terbaik di pusat kota. 


Ya, Agung memang menerima belasan juta setiap bulan dariku, tapi ia tidak pernah tahu bahwa majikanku di Taiwan, seorang pengusaha wanita tua yang sangat menyayangiku, telah mengangkatku sebagai tangan kanannya dalam mengelola bisnis ekspor-impor. 


Tabunganku jauh lebih besar dari sekadar gaji seorang perawat lansia. 


Aku pulang bukan sebagai istri yang butuh diselamatkan, melainkan sebagai wanita mandiri yang siap meruntuhkan.


Setelah memandikan Dika dan Nisa hingga bersih wangi, serta membelikan mereka pakaian-pakaian terbaik dari butik hotel, aku menatap pantulan diriku di cermin besar. 


Kulitku yang dulu kusam kini terawat bersih, riasanku elegan, dan tatapanku dingin. Aku bukan lagi Intan yang sudi mengabdi pada pria parasit.


Pembalasan dendamku tidak akan melibatkan polisi atau jeruji besi. Itu terlalu mudah dan cepat. 


Aku ingin Agung dan keluarga benalunya merasakan bagaimana rasanya terbang setinggi awan, hanya untuk dijatuhkan ke dasar jurang tanpa parasut.


Malam itu, aku menyewa seorang detektif swasta untuk mencari tahu segala hal tentang wanita simpanan suamiku dan ibunda Agung. 


Tak butuh waktu lama, esok paginya sebuah map cokelat sudah tergeletak manis di meja sarapanku.

Wanita itu bernama Rara. Ia baru saja membuka sebuah butik pakaian mewah di ruko elit kota ini, tentu saja menggunakan uang darah keringatku. 


Sementara ibu mertuaku, sedang sibuk memamerkan mobil keluaran terbaru kepada tetangga-tetangga desa, cicilan yang katanya akan segera dilunasi oleh 'anak laki-lakinya yang sukses'.


Aku tersenyum miring, menyesap teh-ku dengan anggun. 


Mari kita mulai permainannya.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kupaksa istri pertamaku mencuci noda haid istri keduaku. Tapi mendadak peristiwa sial datang padaku, jangan-jangan istriku...

  Kupaksa istri pertamaku mencuci noda haid istri keduaku. Tapi mendadak peristiwa sial datang padaku, jangan-jangan istriku... *** "Ku...