"Siapkan lidah kalian, Ibu-ibu! Ciko bilang, ibunya menolak katering mahal demi membuktikan bahwa tangan emasnya adalah satu-satunya yang pantas menjamu kita hari ini!"
Seruan riang Tante Marni langsung disambut tawa anggun dan tepuk tangan belasan wanita berkalung mutiara yang kini melangkah anggun memasuki ruang makan.
Aku tersenyum hangat, mempersilakan mereka duduk di kursi jati beralas beludru yang sejujurnya, belum sempat disapu bersih dari debu oleh Ibu.
"Ibu sedang memberikan sentuhan akhir di dapur, Tante. Maklumlah, Nyonya rumah yang perfeksionis," ucapku lembut, setengah berbisik, memancing ekspektasi mereka ke titik tertinggi.
Tak lama berselang, pintu dapur berayun terbuka. Keheningan tiba-tiba menyergap ruang makan yang tadinya riuh.
Belasan pasang mata berlapis riasan tebal itu terpaku menatap sosok yang baru saja keluar dari balik pintu.
Ibu berdiri di sana, membawa mangkuk besar berisi sup ayam.
Alih-alih tampil memukau dengan gaun sutra seperti yang biasa ia pamerkan, Ibu masih mengenakan daster yang sama sejak pagi.
Rambut sasaknya yang biasanya mengembang sempurna kini kempis sebelah dan lepek oleh keringat.
Wajahnya pucat, dihiasi noda hitam bekas arang di dahi dan sapuan bumbu kunyit di pipi kirinya.
"M—maaf menunggu lama, Jeng sekalian," sapa Ibu dengan suara bergetar dan senyum yang tampak dipaksakan. Napasnya masih memburu.
Tante Marni berdeham pelan, menyembunyikan senyum meremehkan di balik kipas lipatnya.
"Wah Jeng, totalitas sekali ya. Sampai dasteran dan cemong begitu. Pasti masakannya seenak penampilan kokinya yang ... sangat natural ini."
Aku segera mengambil alih mangkuk sup dari tangan Ibu yang gemetar sebelum kuahnya tumpah, lalu menyajikannya di tengah meja.
Diikuti dengan piring-piring berisi ayam goreng yang warnanya sedikit terlalu gelap, serta rendang daging yang bumbunya terlihat encer.
"Silakan dinikmati, Tante-tante. Ini murni hasil keringat Ibu sejak subuh. Tanpa bantuan siapa pun, apalagi menantu pemalas," ujarku bangga, menatap Ibu yang kini menunduk dalam-dalam.
Momen pencicipan pun dimulai. Tante Marni mengambil sepotong daging rendang, mengunyahnya dengan keanggunan yang dibuat-buat.
Seluruh mata menatapnya penuh antisipasi. Namun, kunyahan Tante Marni tak kunjung berhenti. Ia tampak berusaha keras menelan daging tersebut sebelum akhirnya buru-buru meraih gelas air putih.
"Luar biasa, Jeng," ucap Tante Marni memecah keheningan, suaranya terdengar manis namun mengandung racun berbisa.
"Rendangmu ini ... benar-benar melatih otot rahang. Kekenyalannya setara dengan ban mobil baru suamiku. Dan sup ayam ini, inovatif sekali. Sangat kaya akan garam, cocok untuk kita-kita yang butuh tekanan darah tinggi instan."
Beberapa ibu sosialita lain menahan tawa, sementara yang lain diam-diam meletakkan kembali sendok mereka ke atas piring tanpa menyentuh makanan itu lagi.
Wajah Ibu memerah padam menahan malu yang luar biasa. Matanya berkaca-kaca menatap meja makan.
"Itu ... itu pasti karena menantuku Raisa yang salah membeli dagingnya kemarin! Dan dia pasti sengaja menaburkan banyak garam ke panci sebelum dia, sebelum dia ..."
Ibu tergagap, kebingungan mencari alasan.
"Loh, Ibu lupa?" potongku cepat dengan nada selembut sutra, menyelamatkan Ibu sekaligus menjerumuskannya lebih dalam.
"Bukannya Ibu kemarin bilang sudah membuang semua bahan masakan yang disentuh Raisa karena katanya tangan Raisa kotor? Ibu bilang Ibu sendiri yang ke pasar jam lima pagi tadi untuk membeli daging sapi kualitas premium. Kok sekarang menyalahkan Raisa yang sedang menenangkan diri di Bali?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar