Selasa, 09 Juni 2026

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

 


"Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang saham mayoritas. Biarkan suamiku menebak-nebak di ambang kewarasannya sendiri."


Bram mengangguk hormat, jemarinya dengan cekatan mengetik pesan ke pihak penyelenggara acara. 


Rencana sedikit kuubah. Membongkar semuanya malam ini memang akan menghancurkan Wendi dalam sekejap, tetapi kehancuran yang instan tidak akan meninggalkan bekas yang menyiksa. 


Pria yang menganggap istrinya tak lebih dari pajangan rumah itu, harus direbus perlahan-lahan dalam keraguannya sendiri.


***


Pintu ganda ballroom berukir emas itu terbuka lebar. Alunan musik orkestra mendadak berganti menjadi simfoni penyambutan yang megah. 


Semua mata, ratusan eksekutif papan atas, serentak menoleh ke arah pintu masuk.


Aku melangkah masuk dengan balutan gaun sutra emerald yang menyapu lantai, memancarkan keanggunan yang dingin. 


Berlian murni melingkar di leherku, memantulkan cahaya lampu kristal ke segala penjuru.


Di sisi kiri dan kananku, Direktur Utama dan jajaran petinggi lainnya berjalan mengiringi, seolah aku adalah ratu yang baru turun dari singgasana.


Dari tempatku berdiri, mataku dengan mudah menangkap sosok Wendi di barisan paling depan.


Pria itu mematung. Gelas di tangannya nyaris tergelincir jatuh. Mulutnya setengah terbuka dengan mata terbelalak lebar, menatapku seolah baru saja melihat hantu. 


Aku tahu persis apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. 


Apakah itu Nagita? Istriku yang bodoh dan selalu memakai daster itu? Tidak, tidak mungkin. Wanita ini terlalu elegan, terlalu berkuasa.


Aku melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun, menyisakan wangi parfum eksklusif yang tak akan pernah bisa ia beli dengan gajinya. 


Aku duduk di kursi VVIP yang dipisahkan oleh tali beludru merah, menikmati pemandangan Wendi yang kini terlihat gelisah, berkali-kali mengusap wajahnya dan berbisik panik kepada rekan di sebelahnya.


***


Acara puncak pun tiba. Sang pembawa acara naik ke atas podium, memegang amplop berlogo emas. 


Wendi segera memperbaiki postur duduknya. Ia merapikan kerah jasnya, bersiap menyambut kemenangan yang sudah ia pamerkan padaku pagi tadi.


"Dan kini, momen yang kita tunggu-tunggu. Berdasarkan keputusan mutlak dari dewan direksi dan arahan langsung dari Perwakilan Pemegang Saham Mayoritas kita, Nyonya Gita ..." 


Pembawa acara memberi jeda, menatap ke arah kerumunan.


Wendi sudah mencondongkan tubuhnya ke depan, senyum angkuhnya perlahan mengembang.


"Posisi Direktur Pemasaran yang baru secara resmi diserahkan kepada, Bapak Hendra Kusuma!"


Suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. 


Namun, Wendi tidak bergerak. Senyumnya membeku, wajahnya pucat pasi seolah aliran darahnya baru saja ditarik paksa. 


Hendra, rival terbesarnya di kantor, berdiri dengan sorak-sorai kemenangan dan berjalan gagah menuju panggung, melewati Wendi yang kini terlihat tak lebih dari sekadar bayangan redup.


Aku menyesap air mineral di gelasku dengan sangat anggun, menyembunyikan senyum kepuasan. 


Konfrontasi langsung dengan berteriak dan memaki itu terlalu murahan. 


Menghancurkan panggung impiannya tepat di depan matanya, sambil memastikan ia tetap tidak tahu bahwa istrinyalah sang algojo, adalah sebuah mahakarya.


***


Setelah acara resmi selesai, Wendi yang tampak masih shock berusaha menerobos kerumunan untuk mendekati area VVIP. 


Matanya menatapku lekat-lekat, penuh dengan kebingungan, amarah, dan rasa penasaran yang meledak-ledak. 


Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih dari batas karpet merah, dua penjaga berbadan tegap langsung menahan dadanya.


Aku bangkit dari kursiku, memutar tubuh membelakanginya tanpa memberikan satu tatapan pun, lalu melangkah anggun menuju pintu keluar khusus.


Di dalam kesunyian kabin mobil yang membawaku menjauh dari hotel, Bram menoleh dari kursi depan. 


"Tuan Wendi tampak sangat hancur, Nyonya. Apakah Anda ingin saya menyiapkan surat pemecatannya besok pagi?"


Aku bersandar santai di kursi kulit, menatap gemerlap lampu kota dari balik jendela mobil.


"Jangan pecat dia, Bram. Biarkan dia tetap bekerja di sana. Hukuman paling menyiksa bagi pria dengan kesombongan setinggi langit bukanlah kemiskinan, melainkan dipaksa menjadi pesuruh bagi saingan terbesarnya. Besok pagi, pastikan Hendra memberinya tugas paling rendah di perusahaan. Kita lihat, seberapa lama rajaku itu bisa bertahan dengan mahkotanya yang sudah patah."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...