"Huwaaa ... Papa! Maafin Mama, Pa! Rumah kita dibobol maling siang bolong! Brankas di kamar hancur berantakan, dan yang paling bikin Mama sedih, sertifikat rumah kita dibawa kabur sama malingnya, Pa!"
Aku menyedot susu kotak rasa stroberiku perlahan-lahan sambil duduk mengintip dari balik pegangan tangga lantai dua.
Di ruang keluarga tepat di bawahku, Mama sedang melangsungkan pertunjukan drama paling luar biasa abad ini.
Mama menangis tersedu-sedu sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
Hebatnya, sebelum menelepon Papa, aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bagaimana Mama meneteskan obat tetes mata agar air matanya terlihat sangat natural.
Di sebelahnya, Om Reno si cowok bertato itu ikut memasang wajah sedih, padahal tangannya sibuk memberikan acungan jempol ke arah Mama.
Dari pengeras suara ponsel Mama yang sengaja dinyalakan, terdengar suara Papa Roni yang panik dan khawatir.
"Ya ampun, Ma! Kamu nggak apa-apa kan? Terus Adek gimana, dia udah pulang sekolah belum? Ya Tuhan, yang penting kalian berdua selamat. Harta benda itu gampang, bisa dicari lagi," ucap Papa dengan nada bergetar yang terdengar sangat meyakinkan.
Dalam hati aku bersorak girang. Wah, akting Papa Roni ternyata nggak kalah jago!
Mama mengusap air mata palsunya sambil tersenyum licik ke arah Om Reno.
"Adek lagi main di kamarnya, Pa, dia aman. Tapi Mama takut banget, Pa, trauma rasanya. Kayaknya malingnya tahu kalau ATM Mama lagi eror dari bank. Kita butuh uang tunai sekarang juga buat ganti kunci, pasang CCTV baru, sama sewa penjaga. Papa bisa tolong kirim dana darurat, nggak?"
"Tentu saja, Ma! Biar kalian aman, Papa akan transfer sepuluh miliar detik ini juga! Tapi karena ATM Mama eror, Papa transfer ke mana?" tanya Papa, memancing tepat sesuai rencana yang sudah kami susun.
"Kirim ke rekening Om Reno aja, Pa! Dia teman bisnis Mama yang lagi bantu jagain Mama di rumah sekarang. Ini Mama bacain ya nomor rekeningnya ..."
Begitu telepon ditutup, Mama dan Om Reno langsung berpelukan sambil melompat-lompat kegirangan.
"Yes! Uang sepuluh miliar ditambah uang gadai rumah besok pagi! Kita bakal kaya raya, Sayang! Besok kita langsung terbang liburan ke Bali!" seru Om Reno kegirangan.
Melihat mereka tertawa puas, aku cuma bisa menggelengkan kepala pelan.
Kasihan sekali dua orang dewasa ini. Mereka pikir mereka sedang mengerjai seekor kelinci yang lemah, padahal mereka sedang berjalan masuk ke dalam kandang singa.
Aku membuang kotak susuku ke tempat sampah, lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Kuambil ponselku dari atas meja belajar, lalu menekan tombol panggilan ke nomor kesayanganku.
Begitu tersambung, suara tawa berat Papa Roni langsung terdengar di seberang sana.
"Halo, Papa Roni tersayang! Wah, akting Papa tadi waktu pura-pura panik keren banget, dapet nilai seratus dari Adek!" sapaku sambil melompat ke atas kasur empukku.
Papa tertawa semakin renyah.
"Papa kan rajin latihan di depan kaca, Dek. Terus, gimana keadaan dua penjahat di bawah? Udah pada girang?"
"Mama lagi joget-joget kegirangan sama Om Reno, Pa. Mereka pikir besok pagi bakal dapat kiriman uang sepuluh miliar dari Papa buat modal mereka kabur berdua."
Aku ikut tertawa kecil sambil memeluk bantal gulingku erat-erat.
"Oh iya, Pa. Adek cuma mau mastiin nih, Papa udah siapin kejutan yang Adek minta tadi siang, kan? Besok pas Om Reno pergi ke ATM buat narik uang dari Papa, yang keluar di layarnya bukan saldo sepuluh miliar... tapi tulisan peringatan kalau rekeningnya resmi disita bank buat melunasi cicilan panci, berlian, dan tas mewahnya Mama yang selama ini nunggak? Kira-kira besok pagi Om Reno bakal ninggalin Mama menangis di pinggir jalan nggak ya, Pa?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar