Minggu, 14 Juni 2026

(9) Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

 


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya Tua. Tapi tangan saya terikat oleh satu aturan baku: keahlian saya hari ini murni hanya untuk melayani satu-satunya Ratu di rumah ini, dan itu adalah Nyonya Raisa."


Suara bariton Chef Anton terdengar begitu sopan dan terukur, diiringi senyum penuh hormat. 


Pria berseragam putih bersih itu menunduk perlahan, lalu kembali sibuk menata pan-seared salmon ke atas piring porselen berpola emas. 


Aroma mentega dan lemon seketika menguar, memenuhi udara dapur.


Di seberang meja dapur, Ibu berdiri mematung. Tangan keriputnya yang biasanya memamerkan cincin emas, kini bergetar memegang pisau dapur. 


Di hadapannya, setumpuk sayuran dan bumbu mentah untuk makan malam keluarga Paman Budi masih belum tersentuh.


Permohonannya untuk meminjam jasa Chef Anton baru saja ditolak mentah-mentah dengan cara yang paling halus.


Aku yang berdiri di ambang pintu, menyembunyikan senyum tipis di balik cangkir tehku.


"Semangat, Bu," sapaku lembut, melangkah masuk tanpa nada menyindir. Aku menatap raut wajah Ibu yang teramat lelah. 


"Paman Budi dan anak-anaknya pasti sudah tidak sabar mencicipi ayam bumbu rujak buatan tangan Ibu yang legendaris itu."


Ibu menoleh. Tidak ada lagi kilat amarah atau kesombongan di matanya. Yang tersisa hanyalah sepasang mata kemerahan yang berkaca-kaca menahan keputusasaan. 


Namun, egonya masih terlalu tinggi untuk mengucap kata menyerah. Ia kembali menunduk, mengiris bawang dengan napas yang semakin berat.


Sementara Ibu bergelut dengan rasa lelah yang menggerogoti tulangnya, pemandangan yang sepenuhnya bertolak belakang tersaji di ruang keluarga.


Raisa, istri tercintaku, duduk bersandar nyaman di sofa empuk. Bi Inah dengan telaten memijat telapak kaki Raisa menggunakan minyak aromaterapi, sementara Bi Sumi mengipasi tubuhnya dengan perlahan. 


Wajah Raisa yang dulu selalu pucat karena kurang tidur, kini merona segar dan bercahaya.


"Mas, salmonnya enak sekali," ucap Raisa tersenyum manis saat aku menghampirinya, menyuapkan sepotong kecil ikan yang baru saja diantarkan ke ruang tengah.


Aku mengecup puncak kepalanya dengan sayang. 


"Hanya yang terbaik untuk Ratu di rumah ini. Nikmatilah istirahatmu, Sayang."


***


Malam pun tiba. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan, namun meja makan masih kosong. 


Sayup-sayup, kudengar suara tangisan tertahan dari arah dapur.


Aku melangkah ke belakang dan mendapati pemandangan yang membuat dadaku sedikit berdesir. 


Bagaimanapun, wanita di hadapanku ini adalah wanita yang melahirkanku. 


Ibu terduduk lemas di kursi dapur. Wajahnya tertelungkup di atas lipatan tangannya di meja. 


Kompor menyala kecil, menghangatkan panci berisi masakan yang berbau sedikit hangus. Ibu telah mencapai batas fisik tertingginya.


"Ibu menangis?" tanyaku pelan, menarik kursi dan duduk di hadapannya.


Ibu mendongak. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang kuyu. Ia menggeleng lemah, suaranya parau nyaris tak terdengar. 


"Ciko, Ibu menyerah, Nak. Tubuh Ibu rasanya mau remuk. Ibu tidak sanggup lagi memberi makan belasan orang ini. Pamanmu pasti akan menghina Ibu karena masakannya gagal."


Aku menatap Ibu lekat-lekat. Tidak ada cacian, tidak ada konfrontasi keras. Aku hanya mengeluarkan ponselku, menekan satu tombol, dan dalam hitungan detik, bel rumah berbunyi.


Dari ruang depan, Paman Budi dan keluarganya bersorak gembira. Mereka menyambut kedatangan beberapa pelayan dari restoran bintang lima yang membawa kotak-kotak pemanas berisi hidangan nusantara kualitas premium. 


Aroma sate maranggi, gurame terbang, dan soto betawi seketika memenuhi rumah.


Mata Ibu terbelalak bingung. Ia menatapku penuh tanda tanya.


"Ciko tahu fisik Ibu sudah tidak sekuat dulu," ujarku dengan nada yang sangat tenang dan penuh hormat. 


"Tapi Ibu harus berterima kasih pada Raisa. Tadi sore, istri yang selalu Ibu sebut pemalas dan benalu itu, diam-diam menangis melihat Ibu kelelahan. Dia menggunakan uang tabungannya sendiri untuk memesan semua makanan mewah ini, semata-mata agar Ibu tidak dipermalukan di depan Paman Budi malam ini."


Ibu terkesiap. Napasnya tertahan. 


Fakta bahwa ia baru saja diselamatkan oleh kebaikan hati wanita yang selama ini selalu ia siksa dan ia fitnah, seolah menjadi hantaman martil yang menghancurkan seluruh dinding egonya hingga tak bersisa. 


Ia menunduk dalam, bahunya bergetar hebat memikul rasa malu dan penyesalan yang tak terlukiskan.


Aku mengusap punggung tangan Ibu dengan lembut, memberikan sentuhan seorang anak yang menyayangi ibunya, namun dengan ketegasan seorang suami yang melindungi istrinya.


"Makanlah, Bu. Pulihkan tenaga Ibu malam ini," bisikku di telinganya, menaruh sebuah mangkuk kecil berisi sup hangat ke hadapannya. 


"Karena mulai besok, Ciko resmi membebastugaskan Ibu dari segala urusan rumah. Ibu cukup duduk manis, karena Ciko sudah mengundang seluruh keluarga besar dan tetangga untuk acara syukuran kecil-kecilan, sebagai momen peresmian di mana Ibu akan menyerahkan kunci rumah ini, dan mengakui Raisa sebagai Nyonya Besar tunggal yang baru di istana ini."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(9) Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

  "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya Tua. Tapi tangan saya terikat oleh satu aturan baku: keahlian saya hari ini murni hanya unt...