Rabu, 29 April 2026

(5) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"K-kamera pengawas? Kamu ... sejak kapan kamu mengawasi ibumu sendiri di rumah ini?!" desis Ibu dengan mata membelalak sempurna, wajahnya yang tadi angkuh mendadak pias tanpa darah.


Aku tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam manik mata wanita yang telah melahirkanku itu. 


"Sejak aku merasa ada yang aneh dengan hilangnya bumbu dapur istriku setiap subuh, Bu," bisikku tak kalah pelan, memastikan wanita asing di samping Ibu tidak mendengar percakapan kami. 


"Jadi, nikmatilah masa menginap tamu Ibu ini. Selama Ibu dan dia tidak mengganggu istriku lebih jauh, rekaman itu akan aman di tanganku."


Aku menarik diri, membiarkan Ibu mematung dengan napas tertahan. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung menetes di pelipisnya. Keangkuhan yang sejak tadi ia pamerkan runtuh dalam hitungan detik.


"Tante ... eh, Ibu? Ada apa?" tanya wanita bergaun ketat itu dengan kening berkerut bingung melihat perubahan drastis pada raut wajah Ibu.


"T-tidak apa-apa. Ayo, Ibu antar kamu ke kamar tamu. Kamu ... kamu istirahat saja dulu di sana," jawab Ibu terbata-bata. 


Beliau bahkan tidak berani menatap mataku saat menarik koper wanita itu dan bergegas pergi dari ruang tamu, seolah lari dari tatapan tajamku.


Begitu punggung mereka menghilang di balik pintu kamar tamu, aku segera menuntun Fitri menuju kamar kami. 


Tepat saat pintu tertutup, pertahanan Fitri runtuh. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. Istriku terduduk lemas di tepi ranjang, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya.


"Fit ... hei, tatap Mas," ujarku lembut, berlutut di hadapannya dan menggenggam kedua tangannya yang sedingin es.


"Mas, hatiku sakit sekali," isak Fitri pilu, menatapku dengan mata yang memerah dan sembab. 


"Ibu tidak hanya terus menyalahkan masakanku, tapi Ibu juga membawa wanita lain ke rumah ini. Apa kesalahanku, Mas? Kalau memang aku belum bisa memberimu keturunan, apa harus sekejam ini Ibu mencoba menggantikanku?"


Hatiku mencelos mendengarnya. Simpatiku pada Fitri semakin dalam. 


Wanita sebaik dan setulus ini, yang selalu mengorbankan waktu istirahatnya untuk menyenangkan hati mertuanya, justru dibalas dengan fitnah yang mengiris hati.


"Dengarkan Mas baik-baik. Dia bukan siapa-siapa, dan anak yang ia bicarakan itu jelas bukan anak Mas," tegasku seraya menghapus sisa air mata di pipinya. 


"Mas sengaja membiarkan dia tinggal di sini sementara waktu, karena Mas sudah punya rencana untuk membongkar semua sandiwara ini tepat di depan mata Ibu sendiri. Kamu percaya sama Mas, kan?"


Fitri menatap mataku lekat-lekat, mencari keyakinan di sana. 


Perlahan, ia mengangguk pelan, meski gurat kesedihan dan ketakutan masih tercetak jelas di wajah cantiknya. 


Aku memeluknya erat, berjanji dalam hati akan membalas air mata istriku dengan cara yang paling elegan.


Sore harinya, aku sengaja bersikap biasa saja. Menjelang magrib, aku melihat celah dari pintu kamarku yang sedikit terbuka. 


Wanita itu, yang sempat kudengar Ibu panggil dengan nama Zea, tampak keluar dari kamar tamu sendirian menuju arah dapur. 


Ibu sendiri sedang mandi. Ini kesempatanku.


Aku melangkah santai menyusulnya, sengaja membuat langkah kakiku terdengar jelas. 


Zea yang sedang sibuk merapikan riasan wajahnya melalui pantulan kaca lemari es, terperanjat kaget melihat kehadiranku. 


Sedetik kemudian, raut wajah manja dan memelasnya seketika kembali terpasang.


"Mas Putra, kamu mau buatkan aku minum ya?" sapanya dengan senyuman menggoda yang dibuat-buat, perlahan melangkah mendekatiku.


Aku tidak mundur, hanya melipat kedua tangan di depan dada. Menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan menguliti, membuat langkah wanita itu terhenti seketika.


"Berapa Ibu membayarmu untuk menyewa perut palsu dan alat tes kehamilan itu, Zea? Karena kurasa, pria berjaket kulit yang semalam mengantarmu sampai ke ujung gang depan, akan sangat marah kalau tahu calon istrinya berani mengaku hamil anak laki-laki lain di rumah ini."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(5) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

  "K-kamera pengawas? Kamu ... sejak kapan kamu mengawasi ibumu sendiri di rumah ini?!" desis Ibu dengan mata membelalak sempurna,...