Rabu, 29 April 2026

Aku Pura-Pura Pergi ke Luar Negera tapi Betapa Kagetnya Aku Saat Mendapati Istriku....


 

"Transfer seratus juta lagi hari ini, Mas. Kalau kamu masih mau melihatku di rumah ini saat kamu pulang dari Eropa nanti, kirim uangnya sekarang juga!"


Itu adalah pesan suara terakhir dari istriku, Alina, sebelum aku mematikan ponsel dan mencabut kartu SIM-ku. 


Aku tidak sedang berada di kabin pesawat menuju Amsterdam seperti yang kukatakan padanya. 


Saat ini, aku sedang duduk mematung di dalam mobil sewaan berkaca gelap, terparkir hanya lima puluh meter dari gerbang rumah mewah yang kubeli dengan keringat darahku sendiri.


Beberapa bulan terakhir, Alina berubah drastis. Dia yang dulunya lembut tiba-tiba menjadi lintah darat dalam pernikahan kami.


Alasan ibunya sakit parah, investasi butik teman yang butuh suntikan dana, hingga sumbangan panti asuhan, semua menjadi tameng untuk menguras rekeningku hingga hampir setengah miliar. 


Sesuatu terasa sangat salah. Instingku sebagai suami mengatakan ada kebingkai kebohongan besar yang sedang dia tutupi.


Benar saja. Tidak sampai setengah jam setelah penerbanganku seharusnya lepas landas, gerbang rumahku terbuka. 


Alina keluar, tidak dengan raut sedih melepas suami yang pergi jauh, melainkan dengan riasan paripurna. Ia mengenakan dress ketat berwarna maroon, lalu masuk ke dalam taksi online.


Tanpa membuang waktu, kuinjak pedal gas, membuntutinya dalam jarak aman.


Taksi itu membelah jalanan ibu kota, lalu berbelok dan berhenti di pelataran sebuah rumah sakit ibu dan anak VVIP yang sangat eksklusif. 


Jantungku berdesir hebat. Rumah sakit kandungan? Untuk apa Alina ke mari?


Aku turun, menarik kerah jaketku, memakai topi serta masker, lalu mengikutinya mengendap-endap masuk ke area lobi VIP. 


Dari balik pilar marmer yang besar, mataku menangkap siluet istriku sedang duduk di ruang tunggu. Tak lama, seorang pria dengan kemeja navy berjalan cepat menghampirinya.


Napasku nyaris putus saat mengenali wajah pria itu.


Ardan. Sahabatku sejak bangku kuliah sekaligus rekan bisnis yang paling kupercayai untuk menjaga perusahaanku selama aku dinas luar kota.


Duniaku seakan runtuh seketika saat melihat tangan Ardan dengan luwes melingkari pinggang Alina dari belakang. 


Dan yang membuat kewarasanku menguap tanpa sisa adalah ketika di balik dress ketat itu, perut istriku terlihat membuncit tegas, setidaknya sudah memasuki usia kehamilan lima bulan.


Ternyata dia menyembunyikannya di balik korset selama aku pulang kemarin dan menolak disentuh olehku. 


Kakiku lemas, pandanganku berkunang-kunang. 


Hamil? Bagaimana mungkin dia hamil, sementara selama hampir setengah tahun terakhir aku sibuk mengurus proyek di pedalaman dan kami sama sekali tidak pernah berhubungan suami istri?


Kuremas pinggiran pilar dengan tangan gemetar hebat. Darahku mendidih. 


Kuarahkan kamera ponselku, menahan sesak di dada demi merekam pemandangan menjijikkan di depan mata. 


Terekam jelas Ardan mengelus perut buncit itu dengan tatapan penuh puja, sementara Alina menyandarkan kepalanya manja di dada sahabatku.


Samar-samar, dari jarakku berdiri, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulut Ardan, menembus telingaku bagai belati beracun.


"Kapan kamu mau menguras habis aset si pria bodoh itu dan minta cerai? Aku sudah tidak sabar menyambut jagoan kita lahir ke dunia tanpa perlu bersembunyi lagi, Sayang."


***

Bab 2

"Tahan sebentar, Mas Ardan. Begitu sertifikat rumah utama kita dan seluruh deretan mobil mewah itu sah beralih ke nama ibuku bulan depan, kita akan mencampakkan pria bodoh itu tanpa tersisa sepeser pun."


Kalimat yang meluncur dari bibir Alina itu bagaikan godam yang menghantam ulu hatiku. 


Aku, Alan Mahendra, pria yang selama ini membanting tulang meniti karier dari nol demi memberikan kehidupan bak ratu untuknya, ternyata tak lebih dari sekadar mesin ATM bagi sepasang pengkhianat ini.


Dari balik pilar marmer lobi, aku terus merekam tanpa berkedip. Kutahan gemuruh di dadaku mati-matian saat melihat Ardan mencium kening istriku dengan penuh kemenangan.


"Pintar sekali istriku ini," kekeh Ardan, tangannya masih mengelus perut buncit Alina. 


"Ibumu juga aktris yang hebat. Akting sakit parahnya benar-benar meyakinkan sampai si Alan rela mencairkan depositonya."


Darahku mendidih hingga ke ubun-ubun. 


Jadi, sakit parah ibu mertuaku yang selama ini membuatku bolak-balik mentransfer ratusan juta hanya fiktif belaka? 


Mereka berkomplot? Mertua yang selalu kuhormati dan kujunjung tinggi layaknya ibu kandungku sendiri, ternyata adalah otak di balik perampokan hartaku?


Tiba-tiba, aku merasa mual. Betapa butanya aku selama ini.


Dengan langkah gontai namun rahang mengeras, aku berbalik meninggalkan lobi rumah sakit bersalin VVIP itu sebelum mereka memergokiku. 


Aku kembali ke dalam mobil sewaan yang gelap. Aroma pengkhianatan ini terlalu pekat, tapi aku sadar, mengamuk sekarang hanya akan membuatku kehilangan segalanya.


Alina dan ibunya sudah merencanakan ini dengan sangat rapi bersama Ardan. 


Jika aku gegabah, mereka bisa memutarbalikkan fakta dan membawa kabur aset-asetku.


Tidak. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Jika mereka ingin bermain kotor, aku akan menunjukkan bagaimana rasanya tenggelam dalam lumpur.


Kuambil ponselku yang lain, ponsel khusus urusan bisnis yang tidak pernah diketahui Alina, dan mulai menyusun strategi. 


Jemariku menari di atas layar, mengakses sistem keamanan rumahku yang tersembunyi. 


Benar saja, dari rekaman CCTV yang selama ini kuabaikan, kulihat ibu mertuaku sedang duduk santai di sofa ruang tengah rumahku, menikmati secangkir teh sambil menonton televisi. 


Tidak ada selang infus, tidak ada wajah pucat, apalagi kondisi kritis yang selama ini diceritakan Alina.


Aku tersenyum sinis. Senyum paling dingin yang pernah kutarik seumur hidupku.


Tiba-tiba, ponsel utamaku yang baru saja kuaktifkan kembali bergetar hebat. Ada belasan panggilan tak terjawab dan sebuah pesan suara baru dari Alina.


Kutekan tombol play. Terdengar suara isakan tangis yang begitu memilukan.


"Mas ... hiks. Kamu sudah sampai? Mas, tolong segera transfer uangnya. Ibu kritis, Mas. Dokter bilang kalau hari ini tidak ada tindakan, ibu tidak akan selamat. Tolong, Mas."


Luar biasa. Jika penghargaan memiliki kategori untuk menantu dan istri paling manipulatif, Alina pasti akan memborong semua pialanya.


Sambil menatap tajam ke arah pintu keluar rumah sakit, melihat siluet Alina dan Ardan yang baru saja berjalan keluar menuju parkiran, aku menyeringai. 


Aku menekan tombol rekam untuk membalas pesan suaranya, membiarkan intonasi suaraku terdengar begitu panik dan penuh perhatian.


"Ya ampun, Sayang! Maaf, aku baru saja landing. Tentu saja, aku akan segera mengurus semuanya. Pastikan 'ibu' mendapat perawatan terbaik di ruang ICU bersalin itu ya, Sayang. Oh, dan bersiaplah untuk kejutan besar dariku saat aku 'pulang' nanti."


Begitu pesan terkirim, aku langsung menghubungi nomor pengacaraku. Begitu panggilannya tersambung, aku tidak memberinya kesempatan untuk menyapa.


"Halo, Pak Dimas. Bekukan seluruh rekening pribadiku. Siapkan dokumen pembatalan waris, tarik semua mobil yang dipakai mertuaku, dan cabut seluruh suntikan dana perusahaanku di proyek Ardan. Biarkan mereka berpesta dengan uang seratus juta terakhirku hari ini, karena besok pagi, aku pastikan mereka bertiga mengemis di bawah kakiku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Pergi ke Luar Negera tapi Betapa Kagetnya Aku Saat Mendapati Istriku....

  "Transfer seratus juta lagi hari ini, Mas. Kalau kamu masih mau melihatku di rumah ini saat kamu pulang dari Eropa nanti, kirim uangn...