Rabu, 29 April 2026

(11) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Bawa dia masuk ke halaman depan, Galen. Biarkan Mbak Rini melihat dengan mata kepalanya sendiri, seberapa besar 'cinta mati' yang diagung-agungkannya saat pria itu menyadari bahwa dompet wanitanya sudah kosong melompong."


Nada suara Sari terdengar sangat tenang, nyaris tanpa riak emosi sedikit pun. Namun, perintah itu mengalir dengan keanggunan seorang penguasa sejati.


Aku tersenyum bangga, mengecup pelipis istriku kilat. 


"Sesuai keinginanmu, Sayang." 


Kutatap Galen dan memberinya isyarat untuk segera melaksanakan perintah Nyonya Besar.


Tak butuh waktu lama bagi petugas keamanan untuk membuka gerbang baja perumahan dan menggiring seorang pria berpakaian kasual bermerek masuk ke area taman depan rumah kami. 


Pria itu, Rendi, terus mengoceh dengan nada tinggi, tak terima fasilitas mewahnya ditarik paksa.


"Kalian ini siapa berani menyita aset pribadiku?! Kembalikan kunci mobilku sekarang juga atau aku akan menuntut kalian ke pengadilan!" bentak Rendi dengan wajah memerah.


Langkah arogan Rendi mendadak terhenti saat kakinya menginjak halaman berumput halus. Matanya terbelalak lebar menatap kemegahan arsitektur rumah di hadapannya, sebelum akhirnya terpaku pada dua sosok yang berdiri di teras marmer.


Aku berdiri santai dengan sebelah tangan masuk ke saku celana panjangku. 


Di sisiku, berdiri Sari dengan balutan gaun pastel elegan dan perhiasan berlian yang memantulkan cahaya matahari sore.


"S-Sari? Danu?" Mulut Rendi terbuka setengah, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. 


Pria yang dulu selalu menghina profesiku sebagai perantau kini terlihat bagai orang bodoh. Matanya menatap lekat pada Sari, terpesona oleh kecantikan istriku yang kini memancar sempurna. 


"Sari, kamu terlihat ... luar biasa. R-rumah ini milik kalian?"


Sebelum Sari sempat menjawab, suara isak tangis memecah kecanggungan.


Mbak Rini, yang sedari tadi sedang mengelap kaca jendela besar di sisi teras dengan seragam abu-abunya, langsung melempar kain lapnya. 


Wajahnya yang kusam dan dipenuhi peluh mendadak berbinar penuh harap. Ia berlari kecil menghampiri Rendi.


"Rendi! Mas Rendi, syukurlah kamu datang mencariku!" ratap Mbak Rini. Ia mencoba meraih lengan pria itu dengan tangan basahnya. 


"Tolong aku, Mas! Bawa aku pergi dari sini! Mereka memaksaku menjadi pekerja kasar! Tolong lunasi utang-utangku, kamu kan sudah berjanji akan selalu menjagaku!"


Alih-alih menyambut pelukan Mbak Rini, Rendi justru mundur selangkah dengan raut wajah sangat jijik. Ia menepis tangan Mbak Rini dengan kasar, seolah baru saja disentuh oleh sesuatu yang kotor.


"Lepaskan! Apa-apaan kamu ini, Rini?!" bentak Rendi, matanya memindai seragam pekerja yang dikenakan kakakku dari atas sampai bawah. 


"Kenapa kamu berpakaian seperti babu? Dan utang? Utang apa maksudmu?! Bukankah kamu bilang kamu ini janda sosialita yang punya bisnis puluhan miliar?!"


Mbak Rini menggeleng panik, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang tak lagi dipoles riasan mahal. 


"Itu ... semua uang itu ternyata milik Danu, Mas. Aku meminjam uang untuk membelikanmu apartemen dan mobil! Sekarang Danu menyita semuanya. Tapi tidak apa-apa, kan? Kita masih punya cinta kita, Mas. Bawa aku pergi."


Rendi mendengus keras, sebuah tawa merendahkan meluncur dari bibirnya. Ia menatap Mbak Rini seolah kakakku tak lebih dari sekadar tumpukan sampah di pinggir jalan.


"Cinta? Kamu pikir aku mau bersamamu yang sudah tua dan bangkrut ini kalau bukan karena uangmu?" cemooh Rendi tanpa ampun. 


Kata-katanya meluncur setajam silet, menyayat habis sisa-sisa kewarasan Mbak Rini. 


"Sadar diri, Rini! Aku hanya memanfaatkannmu! Menjijikkan sekali membayangkan aku harus hidup miskin bersamamu!"


Mbak Rini mematung. Kakinya lemas seketika. Tubuhnya meluruh ke atas rumput, menangis sejadi-jadinya menyadari bahwa kebanggaan dan ilusi cinta yang ia agungkan selama ini tak bernilai sepeser pun. 


Semua yang ia korbankan, termasuk mengkhianati keluarganya sendiri, berujung pada kehancuran mutlak.


Di sudut lain, Ibuku hanya bersembunyi di balik pintu utama, tak berani keluar menahan rasa malu yang tak tertahankan.


Rendi segera membuang muka dari Mbak Rini, merapikan kerah bajunya, lalu kembali menatap Sari dengan senyuman sok manis. Ia melangkah maju, mencoba menggunakan pesona lamanya.


"Sari, lihatlah kita sekarang. Ternyata takdir mempertemukan kita lagi, ya? Dulu aku meninggalkanmu karena keadaan memaksaku, bukan karena aku tidak cinta. Sekarang kamu sudah bahagia, dan jujur saja, aku masih sangat merindukanmu," rayu Rendi tak tahu malu, mengabaikan keberadaanku yang berdiri tepat di samping istriku.


Sari tersenyum manis, senyum yang membuat Rendi makin salah tingkah. 


Namun, detik berikutnya, kalimat yang keluar dari bibir istriku membuat darah pria itu seakan membeku.


"Simpan rayuan murahanmu itu untuk wanita lain, Rendi. Karena melihat wajahmu saja sudah membuat perutku mual," desis Sari tajam, keanggunannya sama sekali tak berkurang saat ia menghancurkan ego pria di hadapannya.


Melihat Rendi hendak membuka mulut untuk memprotes, aku segera melangkah maju, menutupi tubuh istriku dan menatap pria tamak itu dengan tatapan membunuh.


"Tarik kembali mata kotormu dari istriku, Rendi. Kunci apartemen dan mobilmu memang sudah kusita, tapi aku sengaja meninggalkan satu kenang-kenangan kecil untukmu; semua sisa tunggakan cicilan atas barang mewah itu sengaja kubiarkan tetap tertulis atas nama pribadimu, dan besok pagi, para penagih utang sudah bersiap menagih utangmu."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar