"Gosok lantai ini sampai mengkilap, Galen! Kalau ada satu tetes pun noda kopi yang tersisa, aku pastikan ibu dan adik kesayanganmu kelaparan di emperan toko malam ini!"
Tawa Rendi menggelegar ke seluruh penjuru koridor, diiringi kekehan sinis dari beberapa karyawan lain yang sengaja berkerumun untuk menonton.
Pria yang dulu selalu membungkuk dan membawakan tas kerjaku itu, baru saja dengan sengaja menumpahkan segelas americano panas tepat di ubin yang sedang kupel.
Aku mengertakkan rahang hingga gigiku ngilu. Tanganku yang terbalut sarung tangan karet murah gemetar hebat menggenggam gagang pel.
Seragam cleaning service*
berwarna biru pudar yang kukenakan basah oleh keringat, menempel tak nyaman di tubuhku yang kelelahan.
Perutku melilit perih karena belum kemasukan apa pun selain air kran sejak semalam.
Namun, bayangan Ibu yang merintih sakit perut dan Sinta yang menangis kedinginan di jalanan memaksaku menelan harga diriku bulat-bulat.
Aku menunduk dalam, berlutut di lantai, dan mulai membersihkan noda kopi itu dengan lap di bawah tatapan merendahkan puluhan pasang mata.
Inilah neraka yang diciptakan Zea untukku. Dia membiarkanku hidup, namun merampas seluruh martabatku hingga aku merasa lebih rendah dari debu.
Suara denting lift VVIP berdenging, membuat kerumunan karyawan seketika membubarkan diri dalam kepanikan.
Keheningan yang mencekam langsung mengambil alih koridor. Dari sudut mataku yang menunduk, aku melihat sepasang sepatu hak tinggi berwarna hitam glossy melangkah pelan ke arahku, diikuti oleh sepasang sepatu pantofel pria.
"Pekerjaan yang bagus, Mas Galen. Postur tubuhmu saat berlutut menyikat lantai jauh lebih natural daripada saat kau duduk sok berkuasa di kursi manajer."
Suara lembut itu membuat darahku berdesir ngeri. Aku mendongak perlahan.
Zea berdiri menjulang di hadapanku, aura kekuasaannya begitu pekat. Di belakangnya, Arkan berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatapku dengan sorot mata sedingin es.
"Zea, kumohon," bisikku parau, tenggorokanku kering kerontang.
"Aku sudah melakukan semua yang kau mau. Aku sudah mengepel seluruh lantai satu. Kumohon, berikan gajiku hari ini. Ibu butuh makan."
Zea berjongkok perlahan, menyamakan wajahnya dengan wajahku. Aroma parfumnya yang elegan dan mahal menyeruak, kontras dengan bau cairan pembersih ruangan yang menempel di bajuku.
Ia tersenyum tipis, memiringkan kepalanya dengan tatapan polos yang begitu menipu.
"Tentu saja aku akan membayarmu, Mas. Aku ini pengusaha yang profesional," ucap Zea dengan nada seringan kapas. Ia lalu berdiri dan menoleh pada Arkan.
"Arkan, bawa masuk bonus harian untuk pegawai teladan kita."
Arkan hanya mengangguk pelan, mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat.
Dari arah pintu darurat, dua orang pengawal berbadan tegap muncul. Mereka tidak datang dengan tangan kosong, melainkan menyeret paksa seorang wanita yang meronta-ronta histeris.
Wanita itu memakai seragam cleaning service yang persis sama denganku, namun ukurannya kebesaran.
Rambutnya yang biasanya ditata sempurna di salon mahal kini acak-acakan, wajah cantiknya basah oleh air mata dan riasan yang luntur. Mataku membelalak sempurna hingga nyaris melompat dari rongganya.
"A-Aurel?!" panggilku tak percaya.
Wanita itu mendongak. Begitu melihatku yang sedang berlutut memegang lap, tangis Aurel semakin pecah.
"Galen! Lakukan sesuatu! Ayahku bangkrut total dan perusahaan ini merampas rumah kami! Perempuan ini memaksaku bekerja menjadi tukang pel untuk membayar utang Ayahku!"
Aku membeku. Dunia di sekelilingku seakan berhenti berputar.
Aurel, putri direktur yang selalu diagungkan, yang kemarin malam membuangku karena aku jatuh miskin, kini bernasib sama hancurnya denganku?
Zea membalikkan badannya dengan anggun, menatap kami berdua secara bergantian dengan senyum kemenangan yang luar biasa mematikan.
"Kenapa kalian malah menangis? Bukankah ini reuni yang sangat mengharukan?" ucap Zea dengan nada bahagia yang dibuat-buat, suaranya menggema di koridor yang sunyi.
"Sapa rekan kerja barumu, Mas Galen. Bukankah sangat romantis, bisa menghabiskan sisa hidup mengepel lantai berdua dengan wanita selingkuhanmu ini?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar