"Tanda tangani surat balik nama ini sekarang, Mas. Kalau dana investor miliaran itu cair dengan syarat jaminan aset harus atas namaku, aku janji besok pagi juga mobil mewah yang Ibu mertua impikan sudah terparkir manis di garasi kita."
Mata suamiku, Arya, tampak ragu menatap map berisi sertifikat rumah, deretan ruko, dan tanah yang disodorkan notaris di hadapan kami.
Namun, kilatan serakah langsung terpancar jelas dari sepasang mata tua di sebelahnya.
"Tunggu apa lagi, Arya? Cepat tanda tangani!" desak Ibu mertua tak sabar sambil menyikut lengan putranya.
"Kapan lagi istrimu ini bisa diandalkan? Toh, ini demi kelancaran proyek barumu juga, kan? Biar dia yang pusing urus utang ke investor, kamu tinggal nikmati untungnya."
Aku menunduk, menggigit bibir bagian dalam untuk menyembunyikan senyum sinis yang hampir meledak.
Mereka pikir aku masih wanita lugu yang rela diperas keringatnya demi menghidupi parasit berkedok keluarga?
Mereka lupa, seluruh aset yang selama ini tertulis atas nama Arya itu dibeli murni menggunakan uang tabunganku dan hasil kerja kerasku sendiri!
Dulu aku terlalu buta oleh cinta hingga membiarkan semuanya memakai nama suamiku sebagai "bentuk penghormatan".
Aku baru tahu kebusukan mereka minggu lalu. Saat aku membongkar laci kerja Arya dan menemukan bukti transfer serta tagihan perhiasan puluhan juta atas nama wanita lain.
Yang lebih menjijikkan, Ibu mertua ternyata tahu segalanya! Wanita tua itu dengan sadar bersekongkol menyembunyikan perselingkuhan anaknya.
Pantas saja setiap akhir pekan ia selalu sibuk memintaku menemaninya arisan atau belanja seharian, dengan alasan agar Arya bisa fokus 'dinas luar kota'.
Dinas luar kota apanya? Suamiku asyik bersama pelakor tidak tahu malu itu menggunakan uang hasil keringatku!
"Kamu yakin ini aman, Naira? Tidak ada risiko buat namaku ke depannya?" tanya Arya, masih memutar-mutar pena di tangannya dengan bimbang.
"Tentu saja aman, Mas. Aku ini istrimu, mana mungkin aku menjerumuskanmu?" balasku dengan nada selembut sutra, padahal di dalam hati aku sedang mengasah pisau imajiner untuk memotong urat nadinya.
"Lagi pula, kalau suntikan dana ini gagal masuk, kita bisa bangkrut. Mas Arya tidak mau kan, selingk ... eh, maksudku, rekan-rekan bisnis Mas kecewa berat?"
Mendengar ancaman kebangkrutan, tangan Arya langsung bergerak cepat membubuhkan tanda tangan di atas meterai.
Disusul oleh coretan persetujuan Ibu mertua sebagai saksi dengan wajah berbinar-binar membayangkan mobil Eropa keluaran terbaru.
Selesai. Hak milik itu kini kembali padaku. Sepenuhnya. Sah di mata hukum.
Notaris membereskan berkas-berkas tersebut, menstempelnya, dan menyerahkan salinan resminya ke tanganku. Kuusap pelan map cokelat itu. Akhirnya, senjataku sudah kembali.
"Nah, urusannya sudah beres, kan?" dengus Arya sambil menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gaya angkuh, merasa dirinya memegang kendali.
"Jangan lupa janjimu, Naira. Besok Ibu mau lihat mobil itu datang. Jangan sampai aku malu."
Aku perlahan berdiri dari kursi. Memasukkan map sakti itu ke dalam tasku, menutup resletingnya rapat-rapat, lalu merapikan tatanan pakaianku dengan elegan. Sandiwara ini sudah selesai.
"Pasti, Mas. Aku selalu menepati janji," ucapku, berjalan mendekat hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal.
Aku menatap wajah suamiku dan Ibu mertua bergantian dengan senyuman tajam yang tak lagi kuberi sekat.
"Tapi sebelum itu ..."
"Tapi apa lagi, sih?!" potong Ibu mertua ketus.
"Tolong sampaikan salam hangatku pada Maya," ucapku dengan suara tenang namun menggema di seluruh ruangan, memastikan setiap suku kata menancap tepat di jantung Arya yang seketika memucat pasi.
"Beri tahu wanita simpananmu itu untuk segera mengepak barang-barangnya sekarang juga. Karena mulai besok, apartemen mewah tempat kalian berselingkuh itu, akan kujual beserta isinya."
***
Bab 2
"Maya? M-Maya siapa yang kamu maksud, Naira? Jangan gila kamu, menuduh suamimu sendiri tanpa bukti di depan orang lain begini!" suara Arya bergetar hebat.
Wajahnya yang beberapa detik lalu tampak angkuh kini memucat layaknya mayat hidup, sementara keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
Aku tertawa sumbang. Tawa yang mengiris, hampa, namun penuh kemenangan. Notaris yang sedari tadi merasa atmosfer ruangan berubah mencekam, dengan cepat berpamitan dan melangkah keluar, meninggalkan kami bertiga dalam keheningan yang mematikan.
Begitu pintu tertutup, Ibu mertua langsung menggebrak meja kaca di depannya. Matanya mendelik tajam, rahangnya mengeras.
"Sembarangan kamu menuduh anakku, Naira! Istri macam apa kamu ini? Suami sudah banting tulang memikirkan proyek sampai kurang tidur, kamu malah memfitnahnya selingkuh! Jangan mengada-ada hanya karena kamu merasa sudah memegang aset-aset itu!" bentaknya dengan suara melengking.
Aku menoleh pelan, menatap wanita tua yang selama bertahun-tahun kuhormati layaknya ibu kandungku sendiri.
Dulu, setiap kali ia memarahiku karena hal sepele, aku selalu menunduk meminta maaf. Tapi hari ini, Naira yang bodoh itu sudah mati.
"Banting tulang atau banting ranjang, Bu?" balasku telak, nadaku dingin dan datar.
"Jaga mulutmu, Naira!" Arya maju selangkah, mengangkat tangannya seolah hendak menamparku.
Namun, sebelum tangannya menyentuh wajahku, aku merogoh ke dalam tas jinjingku dan melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke dada Arya.
Amplop itu jatuh berhamburan di lantai, memperlihatkan puluhan lembar foto dan cetakan mutasi rekening.
Mata Arya terbelalak sempurna. Ibu mertua yang berniat memungutnya ikut mematung saat melihat gambar-gambar itu.
Foto Arya sedang memeluk mesra seorang wanita muda bernama Maya di lobi apartemen, foto mereka makan malam romantis, hingga bukti transfer ratusan juta untuk pembelian tas bermerek atas nama wanita itu.
Semuanya tercetak jelas. Tanpa sensor. Tanpa bisa disangkal.
"Kamu pikir aku buta? Kalian pikir aku tuli?" Aku melangkah maju, memangkas jarak hingga punggung Arya membentur ujung sofa.
"Selama ini aku menutup mata setiap kali Mas Arya bilang uang proyek tertunda. Aku diam saat Ibu mertua meminta uang jajan tambahan berjuta-juta yang ternyata dipakai untuk menutupi jejak kalian! Kalian berdua berkomplot menjadikanku mesin pencetak uang demi menghidupi wanita murahan itu!"
Ibu mertua menelan ludah dengan susah payah. Bibirnya bergetar, mencoba mencari pembelaan.
"N-Naira, itu ... itu salah paham. Maya itu cuma ..."
"Cuma apa? Cuma rekan bisnis yang kebetulan minta dibelikan perhiasan berlian seharga lima puluh juta?" potongku tajam.
Arya kini tak bisa lagi berkutik. Bahunya merosot. Kepanikannya berubah menjadi kemarahan karena kedoknya terbongkar. Ia menatap nanar ke arah tasku yang berisi dokumen aset. Matanya kembali berkilat liar.
"Kembalikan map itu, Naira! Perjanjian balik nama tadi batal! Kamu menjebakku!" Arya mencondongkan tubuhnya, berusaha merebut tas dari tanganku.
Dengan sigap aku mundur, menepis tangannya dengan kasar.
"Batal? Mas Arya sepertinya lupa, tanda tangan di atas meterai di depan notaris berkekuatan hukum tetap. Semua rumah, ruko, tanah, dan uang di rekening yang sebelumnya kau kuasai, secara hukum sudah kembali menjadi milikku!"
"Kamu keterlaluan, Naira! Kembalikan hak suamimu!" jerit Ibu mertua histeris, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak. Ia maju hendak menarik rambutku, tapi aku menatapnya dengan tatapan membunuh yang membuat nyalinya seketika ciut.
"Keterlaluan? Bukankah Ibu mertua yang mengajariku cara bermain cantik dengan sangat elegan?" Aku tersenyum sinis, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah mewah ini.
"Oh, dan asal kalian tahu, dana investor miliaran yang kujanjikan tadi? Itu tidak pernah ada. Itu cuma umpan manis agar tikus-tikus rakus seperti kalian masuk perangkap."
Arya jatuh terduduk di sofa. Kakinya seolah tak lagi mampu menopang berat badannya. Hancur sudah semua angannya tentang kebebasan dan kekayaan.
"Kamu kejam sekali, Naira," desis Arya, menatapku penuh kebencian. "Kamu pikir dengan mengambil aset ini, aku akan memohon padamu? Silakan ambil! Aku bisa pergi dengan Maya sekarang juga! Kami akan hidup bahagia tanpa wanita sombong sepertimu!"
Aku berjalan menuju pintu utama, membuka lebar-lebar pintu mahoni tersebut hingga angin luar berembus masuk, lalu menatap suamiku dengan senyum meremehkan.
"Silakan lari ke pelukan pelakor itu, Mas. Tapi sebelum angkat kaki dari rumahku, tolong letakkan kunci mobil dan dompetmu di atas meja. Kartu kredit dan ATM-mu sudah kublokir sejak tadi pagi," ucapku santai, lalu menoleh menatap wanita tua yang kini gemetar di sudut ruangan.
"Oh, dan semoga Ibu mertua betah menumpang di apartemen sempit sewaan Maya. Itu pun kalau pelakor miskin itu masih sudi menampung anak kebanggaan Ibu yang sekarang resmi jadi gembel."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar