"Singkirkan tangan kasarmu dari lenganku, Gembel! Kalau saja aku tahu kau hanyalah benalu miskin yang menumpang hidup pada Nona Muda Adhitama, aku tidak akan pernah sudi merusak masa depanku untukmu!"
Jeritan Aurel menggema tajam, memantul di dinding koridor VVIP yang dingin. Wanita yang kemarin malam memamerkan senyum angkuh di depan meja akad itu kini menepis tanganku dengan kasar.
Wajah cantiknya berkerut penuh amarah, air matanya luntur mencetak garis hitam di pipinya yang pucat.
Aku terkesiap. Rasanya seperti ditampar godam tak kasat mata.
"Aurel Sayang, jaga bicaramu. Aku ini pria yang hampir menjadi suamimu—"
"Suami?!" potong Aurel dengan tawa sumbang yang melengking.
"Kau pikir aku mau bersuamikan tukang pel yang menanggung utang ratusan miliar? Gara-gara bualan manismu itu, ayahku jatuh bangkrut dan aku harus berlutut memegang kain kotor ini!"
Aurel tiba-tiba mengangkat gagang pel di tangannya dan menghempaskannya dengan kasar ke arahku. Aku menghindar, membuat gagang kayu itu berdebam keras menghantam dinding marmer.
Aku menatapnya nanar. Ke mana perginya Aurel yang anggun, manja, dan selalu merayuku dengan kata-kata memabukkan?
Di hadapanku kini hanyalah seorang wanita rapuh yang egois dan meledak-ledak. Begitu aslinya terungkap saat hartanya lenyap, karakternya terasa sangat kontras dengan sosok yang berdiri tak jauh dari kami.
Aku perlahan memutar kepala, menatap Zea. Mantan istriku itu berdiri mematung dengan postur sempurna. Wajahnya setenang telaga, senyum tipisnya memancarkan keanggunan seorang penguasa yang sedang menonton pertunjukan badut di kerajaannya sendiri.
Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada makian kasar. Hanya dengan tatapan diam, Zea berhasil membuatku dan Aurel saling menghancurkan satu sama lain.
"Pertunjukan yang sangat menghibur," ucap Zea pelan, memecah ketegangan di antara kami. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap kami bergantian dengan sorot penuh kemenangan.
"Tapi sayangnya, aku tidak menggaji kalian untuk menyuguhkan drama murahan di jam kerjaku."
Arkan melangkah maju, memposisikan diri di samping Zea dengan wajah sedingin es.
"Kalian berdua punya waktu sepuluh menit untuk membersihkan koridor ini. Jika lantai ini belum berkilau saat Nona Muda kembali dari ruang rapat, bersiaplah menghabiskan malam ini terkunci di gudang logistik tanpa pendingin ruangan."
Tubuhku bergetar hebat. Ancaman Arkan bukanlah gertakan kosong. Pria itu punya wewenang absolut di bawah perintah Zea.
Dengan tergesa-gesa, aku kembali memungut lapku yang jatuh, menunduk dalam, dan mulai menggosok noda di lantai dengan sisa-sisa tenaga.
Aku menggigit bibir kuat-kuat menahan luapan emosi saat melihat Aurel, dengan tangan bergetar dan isak tangis tertahan, akhirnya ikut berlutut di sampingku dan mulai mengepel dengan gerakan kaku.
Kami berdua, sepasang pengkhianat yang bermimpi menguasai kekayaan, kini berlutut berdampingan di bawah kaki wanita yang dulu kami injak-injak harga dirinya.
Zea membalikkan badannya yang ramping, bersiap melangkah pergi bersama pengawal setianya.
Sepatu hak tingginya berdetak pelan menyusuri koridor, namun setiap gema langkahnya seakan menjadi palu yang meremukkan sisa kewarasanku.
Namun, tepat sebelum ia berbelok menuju pintu ganda ruang rapat, Zea menghentikan langkahnya. Ia menoleh dari balik bahu. Mata elangnya menatap tajam lurus ke arah Aurel yang wajahnya masih sembab oleh air mata.
"Menangislah sepuasmu, Aurel. Tapi pastikan kau menggosok lantai itu dengan sangat hati-hati. Kau harus bekerja ekstra keras dan menjaga kesehatan mulai sekarang, bukan? Terutama untuk memberi makan bayi malang yang baru dua minggu bersembunyi di dalam rahimmu itu, yang kelak saat lahir ke dunia, hanya bisa memanggil seorang tukang pel miskin sebagai ayahnya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar