"Silakan angkat kakimu dari propertiku sekarang juga, Rendi. Fasilitas mewahmu memang sudah kutarik, tapi aku berbaik hati menyisakan satu hal untukmu; rincian tagihan utang miliaran rupiah yang mulai besok pagi akan ditagih secara resmi oleh pihak bank ke alamat rumah orang tuamu."
Ucapanku mengudara dengan tenang, namun ketegasannya mampu meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria di hadapanku.
Rendi seketika memucat, kakinya gemetar hingga tak sanggup lagi berdiri tegak. Ia mencoba membuka mulut untuk memohon kelonggaran, namun aku sudah lebih dulu memalingkan wajah.
Tanpa perlu disuruh dua kali, petugas keamanan perumahan segera menggiring Rendi keluar dari halaman. Tidak ada kekerasan, hanya ketegasan hukum yang kini menunggunya di luar sana.
Di atas rumput halaman, Mbak Rini masih duduk bersimpuh dengan tatapan kosong.
Dunianya baru saja runtuh. Pria yang ia puja dan ia biayai dengan utang miliaran itu ternyata membuangnya begitu saja saat hartanya ludes. Ilusi cinta yang ia banggakan hancur berkeping-keping di depan mata istriku.
"Waktu istirahat Anda sudah habis, Rini. Kembali ke dapur, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," suara Galen terdengar sopan namun tegas, memecah lamunan kosong kakakku.
Dengan langkah gontai dan air mata penyesalan yang mengalir dalam diam, Mbak Rini menyeret kakinya kembali ke dalam rumah. Ia tak lagi punya tenaga untuk melawan. Keserakahannya sendirilah yang telah menjatuhkannya ke titik terendah ini.
Malam pun perlahan turun menyelimuti kawasan townhouse eksklusif itu. Di dalam kamar utama yang bernuansa hangat, aku duduk di tepi ranjang, memandangi wajah damai Bintang yang sudah terlelap.
Sari mengusap punggung putra kami dengan penuh kasih sayang, senyum lega tak pernah lepas dari bibirnya.
"Mas," bisik Sari perlahan, menatapku dengan mata yang berbinar lembut. "Terima kasih untuk hari ini. Melihat Bintang bisa tidur setenang ini, rasanya bebanku selama enam tahun ikut menghilang."
Aku menunduk, mengecup keningnya lama dengan penuh kelembutan.
"Kamu dan Bintang berhak mendapatkan ketenangan ini, Sayang. Tugasku sekarang hanya memastikan kalian aman."
Setelah memastikan keduanya tertidur lelap, aku bangkit dan berjalan menuju ruang kerjaku di lantai satu. Suasana rumah sangat sepi, namun ketenangan itu terusik saat Galen masuk ke ruanganku membawa sebuah tablet.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Pak Danu," ucap Galen seraya meletakkan tabletnya di atas meja kerjaku.
"Sistem CCTV rumah kita menangkap aktivitas yang cukup mengkhawatirkan dari kamar asisten rumah tangga."
Aku menautkan alis. "Aktivitas apa?"
Galen menyentuh layar tabletnya. Di sana, terlihat Ibuku sedang duduk menyudut di dekat lemari pakaian. Ia memegang sebuah ponsel pintar, yang sepertinya ia pinjam secara diam-diam dari salah satu tukang kebun kami sore tadi.
Ibuku sedang merekam dirinya sendiri. Ia sengaja mengacak-acak rambutnya, mengoleskan sedikit debu ke pipinya agar terlihat sangat berantakan, lalu mulai menangis tersedu-sedu menghadap kamera ponsel.
"Tolong saya, siapa pun yang melihat video ini, tolong viralkan. Nama saya Maryam, saya diusir dari rumah saya sendiri dan dipaksa menjadi babu oleh menantu saya, Sari. Dia merampas semua hasil kerja keras anak laki-laki saya dan membiarkan saya yang sudah tua renta ini kelaparan di ruang sempit. Tolong, menantu durhaka itu benar-benar menyiksa batin saya ..."
Suara tangisan palsu Ibuku terdengar begitu meyakinkan. Sebuah narasi "mertua dizalimi menantu" yang sangat mudah memancing amarah netizen jika diunggah ke media sosial.
Galen menatapku dengan tenang.
"Beliau bersiap mengirimkan video ini ke beberapa akun gosip besar malam ini juga, Pak. Narasi fitnah seperti ini bisa merusak nama baik Nyonya Sari di mata publik. Haruskah saya menyita ponsel itu sekarang sebelum videonya tersebar?"
Aku menatap layar tablet itu dalam diam. Rasa kecewa kembali menyelimuti hatiku.
Ternyata, Ibuku belum juga menyadari kesalahannya dan malah mencoba memfitnah istriku. Aku menghela napas panjang, lalu menatap Galen dengan sorot mata yang tenang dan terukur.
"Biarkan saja Ibu menekan tombol kirim dan merasa menang malam ini, Galen. Karena beliau sama sekali tidak tahu, bahwa kamera keamanan kita telah merekam dengan kualitas HD bagaimana beliau berlatih memalsukan tangisannya dari awal, dan video di balik layar itulah yang akan kita rilis besok pagi sebagai bukti pencemaran nama baik."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar