Dimas, pengacaraku yang sudah menemaniku sejak awal merintis perusahaan, tersenyum tipis sambil menyesap kopinya di sudut kafe remang ini.
"Tenang saja, Pak Gavin. Perangkap sudah saya siapkan. Mereka tidak hanya akan miskin, tapi juga terjerat hukum. Surat kuasa pengalihan aset yang diberikan istri Anda kepada ibunya itu penuh celah manipulasi. Begitu kita laporkan dengan bukti rekaman CCTV dan rekam jejak transfer, mereka akan dituduh melakukan penipuan dan penggelapan terencana."
Aku mengangguk puas. Dendam ini tidak akan terbayar hanya dengan perceraian. Pengkhianatan mereka terlalu dalam, mengoyak harga diriku hingga tak bersisa.
Selama seminggu penuh, aku bersembunyi di sebuah apartemen kecil milik Dimas, memantau pergerakan mereka melalui kamera tersembunyi yang diam-diam kupasang di berbagai sudut rumah dan kantorku.
Aku mengamati dengan muak bagaimana Alina dan mertuaku berpesta pora di rumahku sendiri, menggunakan uang yang selama ini kukirimkan dengan keringat dan air mata.
Bahkan Ardan, tak ragu datang ke rumahku saat malam tiba, bermesraan dengan istriku di atas rumah yang kubeli dengan hasil jerih payahku.
Setiap kali melihat mereka, rasanya aku ingin segera pulang dan mencekik mereka satu per satu. Namun, aku harus bersabar. Aku harus mengumpulkan semua bukti hingga tak terbantahkan.
Tepat seminggu setelah aku pura-pura berangkat ke Amsterdam, rencanaku mulai berjalan.
***
Pagi itu, melalui layar monitor di apartemen Dimas, aku melihat kepanikan melanda rumahku. Alina berteriak histeris menatap layar ponselnya, sementara ibu mertuaku tampak kebingungan dengan setumpuk tagihan kartu kredit di tangannya.
"Ini tidak mungkin! Kenapa semua kartu kredit ini declined? Dan kenapa sisa saldo di rekeningku hanya ratusan ribu?!" teriak Alina, suaranya melengking menembus speaker monitorku.
"Ada apa, Nak? Bukankah Gavin baru saja mentransfer seratus juta minggu lalu?" sahut ibunya panik.
"Itu sudah habis untuk membayar cicilan mobil baru ibu dan perhiasan yang kita beli kemarin! Harusnya hari ini Mas Gavin transfer lagi untuk biaya persalinan VVIP-ku!" Alina membanting ponselnya ke sofa.
"Aku harus menelepon Ardan. Dia pasti bisa meminjamkan uang dulu."
Aku tersenyum sinis. Sayangnya, rencana mereka tak akan semudah itu.
Tak lama, Ardan muncul di rumahku dengan wajah pucat pasi. Penampilannya yang biasa rapi kini terlihat kusut masai.
"Ada apa denganmu, Sayang? Kenapa wajahmu panik begitu?" tanya Alina, mendekati Ardan dengan wajah cemas.
Ardan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Proyek kita hancur berantakan, Al. Gavin tiba-tiba menarik semua suntikan dananya tanpa pemberitahuan. Perusahaanku diambang kebangkrutan, dan aku terancam dilaporkan ke polisi atas tuduhan penggelapan dana oleh investor lain karena uangnya sudah kupakai untuk menutupi kerugian."
Alina mematung. Wajah cantiknya seketika pucat pasi.
"Lalu bagaimana dengan biaya persalinanku? Dan hutang-hutang kita?"
Aku tertawa pelan, menyaksikan pertunjukan drama komedi yang lebih memuaskan daripada film mana pun. Mereka mulai menyadari bahwa jaring laba-laba yang mereka tenun sendiri kini menjerat leher mereka.
Saatnya untuk langkah selanjutnya.
Kuhubungi nomor ponsel Alina, yang sejak kemarin sengaja kuabaikan panggilannya.
"Halo, Mas! Kamu ke mana saja?! Kenapa semua kartuku diblokir dan kenapa kamu menarik dana dari proyek Ardan?!" teriak Alina langsung tanpa basa-basi, begitu panggilan tersambung.
Aku mengatur napasku, menekan segala amarah dan kekecewaan, lalu berbicara dengan nada sedingin es.
"Oh, halo, Sayang. Maaf, aku terlalu sibuk mengurus kepulanganku besok. Aku sengaja memblokir semua kartu dan menarik dana itu karena aku sudah menyiapkan kejutan luar biasa untuk kalian bertiga."
Aku memberi jeda dramatis, menikmati keheningan yang mencekam dari ujung telepon sana.
"Siapkan dirimu dan selingkuhanmu itu, Alina, karena saat aku menginjakkan kaki di rumah besok, bersiaplah menyambut neraka yang sudah kalian pesan sendiri."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar