"Zea? Nama samaran yang sangat bagus. Sayangnya, telingaku masih berfungsi dengan sangat baik saat kudengar pria berjaket kulit itu memanggilmu Siska di ujung gang semalam!"
Wajah wanita berdandan tebal itu pucat pasi seketika. Lipstik merah meronanya seakan tak mampu menyembunyikan bibirnya yang tiba-tiba gemetar.
Matanya membelalak, menatapku seolah aku baru saja membongkar dosa terbesarnya di siang bolong.
"K-kamu ... kamu tahu dari mana soal Riko?!" cicitnya. Suaranya yang tadi mendayu manja kini berubah serak dan diselimuti kepanikan. Ia melangkah mundur hingga punggungnya menabrak pintu lemari es.
Aku tersenyum miring, melangkah maju memangkas jarak agar suaraku tak terdengar sampai ke luar dapur.
"Hidup ini tidak seluas yang kamu bayangkan, Siska. Riko itu mekanik di bengkel langgananku. Jadi, bagaimana kalau sekarang aku meneleponnya dan memberitahu bahwa calon istrinya sedang mencari mangsa di rumah pria beristri dengan alasan hamil palsu?" ancamku dingin, sambil merogoh ponsel dari saku celanaku.
"Jangan, Mas! Ku-kumohon, jangan beritahu Riko!" Siska refleks mencengkeram lenganku, matanya berkaca-kaca dipenuhi ketakutan yang nyata.
"Dia bisa membatalkan pernikahan kami kalau tahu aku menerima tawaran dari ibumu ini! Aku butuh uangnya untuk tambahan sewa gedung bulan depan, Mas!"
Aku menepis tangannya. Rasa muak semakin memenuhi rongga dadaku.
Demi membiayai pernikahannya sendiri, wanita ini rela disewa untuk menghancurkan rumah tangga orang lain dan menyiksa batin istriku.
"Berapa banyak uang yang ibuku janjikan padamu?" tanyaku tajam.
"Dua puluh juta, Mas. Tapi aku baru dibayar lima juta di awal," lirihnya sambil menunduk dalam.
"Aku akan membayarmu tiga kali lipat dari jumlah itu," putusku cepat, membuat Siska seketika mendongak dengan mata berbinar tak percaya.
"Tapi dengan satu syarat mutlak."
"A-apa syaratnya, Mas? Aku janji akan lakukan apa saja, asal Mas tidak memberitahu Riko!"
"Jadilah sekutuku di rumah ini," bisikku penuh penekanan.
"Tetaplah berpura-pura menjadi menantu idaman ibu mertuaku. Turuti semua sandiwaranya, tapi laporkan setiap detail rencananya padaku sebelum kalian bertindak. Jika kau berani berkhianat satu langkah saja, aku pastikan Riko akan menjemputmu di rumah ini malam itu juga."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar