Kamis, 30 April 2026

(8) Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...

 


"Tanda tangani surat tagihan denda pembatalan ini sekarang juga, atau bersiaplah tidur di balik jeruji besi malam ini atas tuduhan penipuan!"


Suara bariton yang menggema di teras sebuah minimarket 24 jam itu membuat Mas Retno terlonjak. Kopi seduh di tangannya tumpah membasahi celana kainnya yang sudah kusut masai. 


Di depannya, tiga pria tegap berjas rapi berdiri menutupi cahaya lampu jalan, menatapnya dengan sorot mata yang sangat mengintimidasi.


Ibu mertuaku yang sedang meringkuk kedinginan beralaskan kardus bekas di sudut teras, langsung menjerit tertahan dan bergegas bersembunyi di balik punggung putranya.


"T-tunggu dulu, Pak! Ini pasti ada yang salah!" Mas Retno berdiri dengan kaki gemetar, menerima map merah yang disodorkan pria di tengah. Matanya membelalak sempurna saat melihat deretan angka nol di lembar tagihan itu. 


"Denda pembatalan venue dan ganti rugi vendor, lima ratus juta?! Pak, saya pengangguran, saya tidak punya uang sebanyak ini! Tagih saja ke istri saya, Refi! Tagih ke rumahnya, dia pasti punya uang!"


Pria berjas yang merupakan ketua tim legal itu tertawa pelan. Tawa merendahkan yang membuat nyali Mas Retno semakin menciut ke dasar bumi.


"Istri Anda yang bernama Ibu Refi? Sayang sekali, Bapak Retno," ucap pria itu dengan senyum sinis yang mematikan. 


"Justru beliau sendiri yang menandatangani surat perintah penagihan ini sore tadi. Lagipula, mana mungkin pemilik sah dan komisaris utama hotel bintang lima kami sudi membayarkan denda untuk penyewa miskin yang berniat menipu seperti Anda?"


Deg.


Jantung Mas Retno seolah berhenti berdetak detik itu juga. Wajahnya yang sudah pucat kini pias tak tersisa darah sedikit pun. 


"P-pemilik sah? Komisaris utama? Kalian pasti salah orang! Istri saya cuma perempuan biasa yang jualan daster keliling!"


"Jaga mulut Anda!" bentak salah satu pria tegap itu, membuat Mas Retno mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak tiang besi. 


"Pakaian yang Anda hina sebagai daster itu adalah brand fashion lokal ternama yang omzetnya miliaran rupiah per bulan! Sekarang, bayar denda ini atau kami panggil mobil polisi detik ini juga!"


Sementara itu, di balik dinding kaca lantai dua rumahku yang hangat, aku menatap gemerlap lampu kota sambil memutar gelas kaca berisi jus jeruk di tanganku. 


Laporan langsung dari tim legal hotel baru saja masuk ke ponselku, menyertakan foto mantan suamiku yang kini duduk menangis sesenggukan di aspal jalanan, memohon belas kasihan.


Rasa puas perlahan menjalar di dadaku. Bertahun-tahun aku merendah, menekan egoku demi menjaga harga diri seorang laki-laki yang ternyata hanya benalu tak tahu diri. 


Kini, biarkan takdir yang menamparnya keras-keras, mengajarinya penyesalan karena telah membuang berlian demi memungut batu kerikil.


Layar ponselku menyala, menampilkan panggilan dari Rina, asistenku.


"Tim kita sudah menyudutkannya di jalanan, Bu Refi," lapor Rina dengan nada lugas. 


"Pria itu menangis histeris. Dia bahkan bersumpah akan melakukan pekerjaan rendahan apa pun asal tidak dipenjara malam ini karena dia harus menghidupi ibunya. Apa kita serahkan saja dia ke pihak berwajib agar urusannya cepat selesai?"


Aku tersenyum tipis, menatap pantulan diriku yang begitu berkuasa di kaca jendela malam ini.


"Jangan biarkan dia masuk penjara secepat itu, Rina. Penjara terlalu nyaman untuk pengkhianat sepertinya. Bawa dia ke hotel besok pagi, biarkan mantan suamiku itu melunasi utang setengah miliarnya dengan memungut sampah dan menyikat toilet di tempat yang dulu sangat ia banggakan."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar