"Coba saja! Semua rekening itu atas namaku, Naira! Begitu aku telepon pihak bank sekarang juga, kartuku akan aktif lagi dan kamu yang akan mengemis memohon ampun padaku!"
Jari Arya bergerak brutal di atas layar ponselnya, membuka aplikasi mobile banking dengan napas memburu.
Namun, sedetik kemudian, wajahnya yang tadi merah padam menahan marah seketika berubah pasi. Ponsel di tangannya nyaris terlepas.
"S-saldoku ... mana saldoku yang delapan ratus juta?! Naira! Apa yang kau lakukan pada uangku?!" jerit Arya histeris. Ia menatap layar ponselnya tak percaya.
Sisa saldonya hanya tertulis lima puluh ribu rupiah.
Aku melangkah pelan mendekatinya, mengetukkan kuku-kuku jariku yang berpoles merah elegan ke atas meja kaca.
"Uangmu? Mas, sadarlah. Itu uang dari usahaku yang kupercayakan padamu untuk diputar. Karena kau tak becus dan malah memutarnya ke kasur pelakor, wajar kan kalau kutarik paksa kembali ke rekening induk perusahaanku?Mas Arya sepertinya lupa, otoritas pemindahan dana di atas lima ratus juta butuh persetujuan dan token dariku selaku pemilik dana utama."
"Kamu merampok anakku! Dasar wanita serakah, istri durhaka!" Ibu mertua tiba-tiba maju, menunjuk tepat di depan hidungku. Urat-urat di leher rentanya menonjol keluar.
"Arya, jangan diam saja! Pukul dia! Seret dia keluar dari rumah ini! Berani-beraninya dia merendahkan suami sendiri!"
Arya yang sudah tersulut emosi dan kepanikan, mengepalkan tinjunya dan melangkah maju ke arahku.
"Kamu benar-benar sudah kelewatan, Naira!"
Plak!
Bukan tangan Arya yang mengenai pipiku, melainkan tamparanku yang lebih dulu mendarat telak di wajahnya.
Suara tamparan itu menggema nyaring di ruang tamu yang luas, membuat langkah Arya terhenti seketika. Ia memegang pipinya yang memerah, matanya terbelalak tak percaya.
"Satu langkah lagi Mas Arya berani menyentuhku, video perselingkuhanmu dan Maya ini akan viral di grup direksi kantormu malam ini juga!" ancamku dengan suara rendah, tajam, dan penuh penekanan.
Aku mengangkat ponselku yang sudah siap menekan tombol 'kirim'.
"Kita lihat, apa direktur utamamu itu masih mau mempertahankan manajer hidung belang yang karirnya dibangun dari mengemis uang istri."
Arya menelan ludah. Nyalinya seketika menguap. Ia tahu betul aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.
"Waktu kalian lima belas menit untuk berkemas. Keluar dari rumahku, atau satpam komplek yang akan menyeret kalian berdua beserta koper-koper kalian," titahku tak terbantahkan.
Ibu mertua mulai menangis meraung-raung, mengutukiku dengan segala sumpah serapah.
Namun, melihat Arya yang akhirnya tertunduk kalah dan mulai berjalan gontai ke arah kamar, wanita tua itu terpaksa mengikutinya sambil menghentakkan kaki.
***
Lima belas menit kemudian, mereka kembali ke ruang tamu. Arya menyeret dua koper besar, sementara Ibu mertua menenteng tas branded kesayangannya sambil memakai mantel bulu mahal dan kalung berlian yang menempel di lehernya.
Melihat itu, aku tersenyum sinis. Aku berjalan menghampiri Ibu mertua, lalu dengan gerakan cepat merampas tas tangan keluaran Paris itu dari genggamannya.
"Hei! Apa-apaan kamu, Naira?! Ini tasku!" jerit Ibu mertua panik.
"Tas Ibu? Coba ingat-ingat lagi, siapa yang menggesek kartunya saat Ibu merengek minta dibelikan tas ini bulan lalu?" Aku membalikkan tas itu, lalu menatap leher dan lengannya.
"Kalung berlian. Gelang emas. Mantel bulu ini. Semuanya kubeli pakai uangku. Lepaskan semuanya sekarang, atau kumasukkan kalian ke penjara dengan tuduhan pencurian aset!"
"Naira, kamu gila?! Masa ibuku harus keluar tanpa memakai perhiasannya?! Kamu mau mempermalukan keluargaku?!" protes Arya tak terima.
"Keluarga mana yang kamu maksud, Mas? Keluarga parasit?" balasku telak. "Lepas. Sekarang."
Dengan tangan gemetar dan air mata penghinaan yang menetes, Ibu mertua terpaksa melepaskan kalung, gelang, dan mantel mewahnya. Ia melemparnya ke lantai dengan kasar.
"Puas kamu, wanita ib ... wanita kejam?! Arya itu laki-laki mapan! Tanpamu, banyak wanita muda yang antre jadi istrinya! Si Maya itu jauh lebih cantik, lebih muda, dan lebih penurut daripadamu!"
"Oh ya?" Aku tertawa kecil, melipat kedua tanganku di dada. "Kalau begitu, silakan suruh Maya yang cantik dan penurut itu membiayai perawatan salon mingguan Ibu, obat asam urat Ibu yang mahal, dan gaya hidup Ibu yang sok sosialita ini. Aku jamin, besok pagi juga Maya akan membuang kalian ke tempat sampah."
Aku menendang koper Arya ke arah pintu luar. "Dan Mas Arya, tinggalkan kunci mobil di meja. Pergilah jalan kaki atau naik angkot. Silakan rasakan dunia nyata tanpa uangku."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar