Jumat, 01 Mei 2026

Suamiku Menangis Histeris saat Kuusir dia dan Ibunya.. Enak aja dia mau numpang hidup di rumahku. Aku justru akan membuat mereka menyesal!

 


"Keluar kalian dari rumahku sekarang juga! Dan pastikan, tidak ada satu sen pun barang hasil keringatku yang kalian bawa pergi!"


Bruk!


Koper besar berwarna hitam itu kulempar hingga menghantam lantai marmer ruang tamu. Ritsletingnya yang sengaja tak kututup rapat membuat isinya tumpah ruah.


Kemeja kerja hingga celana panjang milik Arsa berserakan tak beraturan, persis seperti harga dirinya malam ini.


Arsa terlonjak mundur. Wajah tampan yang selama tiga tahun ini selalu kulayani sepenuh hati, kini terlihat pias. 


Di sebelahnya, Bu Ratih, mertuaku yang biasanya selalu tampil angkuh dengan perhiasan emas imitasi kebanggaannya, membelalakkan mata.


"Ziva! Kamu sudah hilang akal?!" seru Arsa dengan napas memburu. "Kamu mau mengusir suamimu sendiri malam-malam begini? Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?!"


"Istri tidak tahu diuntung!" Bu Ratih ikut memekik. Wanita paruh baya itu menuding tepat ke depan wajahku. 


"Berani-beraninya kamu bersikap tidak sopan pada suami dan mertuamu! Kalau kamu usir Arsa, kamu mau makan pakai apa? Selama ini anak saya yang banting tulang membiayai hidupmu!"


Aku tertawa. Sangat keras hingga menggema di seluruh penjuru ruang tamu yang luas ini. Tawaku bukanlah tawa bahagia, melainkan tawa miris bercampur amarah yang sudah mendidih di ubun-ubun.


"Makan dari uang Arsa?" ulangku dengan nada mengejek. Aku melipat tangan di dada, menatap dua manusia di depanku ini dari atas sampai bawah. 


"Ibu yakin selama ini makan dari uang anak Ibu yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membayar tagihan listrik bulanan rumah ini?"


"Ziva, jaga bicaramu!" bentak Arsa, wajahnya memerah menahan malu.


"Kamu yang harusnya jaga kelakuanmu, Arsa Kalandra!" balasku tak kalah keras.


Aku berjalan menuju meja kaca di tengah ruangan, mengambil sebuah amplop cokelat tebal yang sudah kusiapkan sejak sore tadi. 


Tanpa ragu, kulempar lembaran-lembaran foto di dalamnya hingga berhamburan di udara dan menutupi meja.


Mata Arsa melebar saat melihat lembaran foto tersebut. Foto-foto dirinya sedang duduk berdua di lobi sebuah rumah sakit dengan seorang wanita muda. Dan yang lebih mengiris hati, foto hasil USG dengan nama 'Aletta' tercetak jelas di sana.


"Kamu pikir aku ini wanita polos yang kerjaannya cuma di dapur dan bisa kamu bodohi?" desisku tajam. 


"Kamu bawa ibumu ke sini malam ini, berlagak membelikan martabak kesukaanku, lalu pelan-pelan menyodorkan surat izin poligami? Kalian pikir aku akan menangis pasrah dan menerimanya begitu saja?"


Tubuh Arsa mulai bergetar. Kesombongannya beberapa menit yang lalu saat menyodorkan surat poligami menguap tak berbekas.


"Ziv sayang, dengarkan aku dulu," suara Arsa mendadak melunak. Matanya berkaca-kaca panik, tangannya meremas ujung kemejanya sendiri. 


"Aletta, dia yang mendekatiku duluan, Ziv. Aku khilaf. Waktu itu aku sedang banyak pikiran soal pekerjaan dan dia selalu ada—"


"Oh, sedang banyak pikiran sampai bisa membelikan rumah kontrakan mewah atas nama Aletta pakai kartu kredit tambahanku? Pelarian yang sangat berdedikasi, ya," potongku sarkas.


Bu Ratih yang sedari tadi terdiam karena syok melihat foto-foto itu, kini kembali bersuara. Kali ini nadanya sedikit ragu, mencoba mencari celah pembelaan. 


"Ziva, Aletta sudah terlanjur hamil, mau ditaruh di mana muka keluarga kita? Kamu izinkan saja Arsa menikahinya, dia tetap akan menjadikanmu istri pertama. Toh, rumah ini kan rumah Arsa, kamu mau pergi ke mana kalau pisah dari dia?"


Lagi-lagi, keluguan mertuaku membuatku tak habis pikir.

Aku melangkah mendekati Bu Ratih, menatap tepat ke manik matanya dengan senyum tipis. 


"Ibu, sepertinya anak kesayangan Ibu ini banyak menyembunyikan kebenaran. Coba Ibu tanya pada Arsa, sertifikat rumah mewah yang kalian pijak saat ini, atas nama siapa?"


***

Bu Ratih menoleh pada Arsa dengan dahi berkerut. 


"Arsa? Ini rumahmu, kan, Nak? Hasil kerja kerasmu jadi manajer, kan?"


Arsa meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Pertahanannya hancur melihat tatapan dinginku. 


Persis seperti yang kubayangkan. Air mata suamiku yang arogan itu pecah seketika. Ia menangis histeris, bahunya terguncang hebat menyadari kebohongannya telah berakhir.


"Ziva, tolong maafkan aku! Aku mohon, jangan usir aku, Ziv!" ratap Arsa di sela tangisnya yang memecah keheningan. 


"Aku janji akan selesaikan urusanku dengan Aletta! Tolong, Ziv, jangan seperti ini. Ibu, tolong bantu bujuk Ziva, Bu!"


Bu Ratih memucat melihat anak kebanggaannya menangis putus asa. 


"Arsa! Kenapa kamu malah menangis memohon pada perempuan ini?!"


"Perempuan ini yang membelikan mobil yang Ibu pakai arisan setiap minggu!" teriak Arsa frustrasi pada ibunya, suaranya serak karena tangis. 


Pengakuannya membuat Bu Ratih terperanjat hebat dan terhuyung mundur. 


"Perempuan ini yang memiliki perusahaan tempatku bekerja, Bu! Kalau Ziva mengusirku, kita tidak punya apa-apa!"


Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Wajah Bu Ratih seputih kertas. Bibirnya bergetar, tak mampu mengeluarkan satu patah kata pun. 


Kesombongannya hancur lebur dalam hitungan detik.


Tanpa membuang waktu, aku memutar tubuh dan menekan tombol interkom di dinding.


"Pak satpam, tolong ke ruang tamu sekarang. Tolong bantu arahkan dua tamu saya keluar dari gerbang dengan barang-barang mereka."


"Siap, Bu Ziva!" sahut suara tegas dari seberang interkom.


Melihat pintu utama mulai terbuka dan menampilkan dua sosok satpam, tangisan Arsa semakin menjadi-jadi. 


Ia meraung memohon ampun, sementara Bu Ratih mulai meratap, menyadari bahwa kehidupan mewahnya telah usai malam ini juga.


Aku melangkah mundur, menjaga jarak seraya menatap Arsa yang tampak sangat menyedihkan.


"Arsa, kamu pikir mengusirmu dari rumah ini dan membiarkanmu pergi hanya dengan pakaian di badan adalah hukuman terberat dariku?" 


Aku tersenyum miring, menatap tepat ke matanya yang memerah karena panik dan ketakutan. 


"Itu baru pemanasan. Mulai detik ini, semua fasilitasmu kubekukan. Jabatan manajermu kucabut. Kita lihat, seberapa lama selingkuhan manjamu itu sudi mengurus laki-laki pengangguran yang tidak punya apa-apa. Selamat menikmati kehidupan barumu, mantan suamiku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suamiku Baru Pulang jadi TKI, tapi Ibunya Mengusirku dan Suamiku karena menganggap suamiku miskin. Padahal suamiku sebenarnya adalah...

  "Bawa suami gembelmu ini angkat kaki dari rumahku! Tiga tahun jadi TKI di negeri orang bukannya bawa pulang emas atau uang miliaran, ...