Jumat, 01 Mei 2026

Suamiku Baru Pulang jadi TKI, tapi Ibunya Mengusirku dan Suamiku karena menganggap suamiku miskin. Padahal suamiku sebenarnya adalah...

 


"Bawa suami gembelmu ini angkat kaki dari rumahku! Tiga tahun jadi TKI di negeri orang bukannya bawa pulang emas atau uang miliaran, malah cuma bawa koper rombeng dan bau keringat kuli! Memalukan!"


Brak!


Sebuah koper kain yang resletingnya sudah rusak terlempar kasar hingga menghantam tiang teras. Pakaian-pakaian kusam dan beberapa bungkus makanan ringan murah berserakan di atas lantai marmer yang dingin.


Aku terkesiap. Air mataku langsung luruh melihat barang-barang suamiku diperlakukan seperti sampah. Aku segera bersimpuh, memunguti kaus-kaus pudar milik Mas Arkan dengan tangan gemetar.


"Ibu, kenapa Ibu tega sekali?" suaraku bergetar menahan isak tangis, menatap wanita paruh baya yang berdiri berkacak pinggang di ambang pintu. 


"Mas Arkan ini darah daging Ibu sendiri. Dia baru saja sampai setelah penerbangan belasan jam, setidaknya biarkan dia istirahat dan minum air hangat dulu, Bu."


"Cuih! Air hangat?" Bu Vina meludah ke samping, menatap kami dengan sorot mata jijik. 


"Air di rumah ini terlalu mahal untuk kuli rendahan yang gagal sepertinya! Lihat adiknya, si Jevano! Baru setahun kerja di ibu kota sudah bisa cicil mobil H-RV untuk Ibu. Lah suamimu? Tiga tahun di Taiwan pulang-pulang cuma bawa badan kurus kering begitu. Bikin aib keluarga saja!"


Aku menoleh menatap Mas Arkan yang berdiri diam di sampingku. Penampilannya memang jauh dari kata mewah. 


Ia hanya mengenakan jaket kulit sintetis yang sudah mengelupas di bagian kerahnya, celana jeans pudar, dan sepatu kets yang solnya mulai menipis. 


Wajahnya yang rahangnya tegas tampak sedikit kusam, tapi sorot matanya tetap tenang, sama sekali tidak memancarkan amarah. 


"Mbak Aluna, mending turuti saja kata Ibu," suara melengking itu berasal dari Ghea, adik iparku yang asyik bersandar di kusen pintu sambil mengikir kuku. 


"Mbak kan juga selama Mas Arkan pergi cuma numpang makan gratis di sini. Sekarang suami kebanggaan Mbak udah pulang jadi gembel, ya mending kalian berdua out aja deh. Malu nanti kalau tetangga pada lihat."


Dadaku sesak. Selama tiga tahun Mas Arkan merantau, aku diperlakukan layaknya pembantu di rumah ini. Aku bertahan hanya demi menyambut suamiku pulang. 


Tapi inikah balasan yang ia dapatkan? Diusir di malam pertamanya menginjakkan kaki di tanah air?


"Kalian—" Aku baru saja hendak membalas ucapan kejam Ghea saat sebuah tangan besar dan hangat menggenggam pundakku.


Mas Arkan merendahkan tubuhnya, membantuku memasukkan kembali pakaian-pakaian lusuh itu ke dalam koper rombengnya. Ia menatapku dengan senyum tipis yang entah mengapa membuat hatiku yang hancur perlahan menghangat.


"Sudah, Na. Jangan buang tenagamu untuk berdebat," ucap Mas Arkan lembut.


Ia kemudian berdiri, menatap ibu dan adik kandungnya dengan pandangan datar yang sulit diartikan. Tidak ada raut memelas, tidak ada air mata. Hanya ada ketegasan yang dingin.


"Baik, Bu. Kalau ini mau Ibu, Arkan dan Aluna akan pergi dari rumah ini sekarang juga," ucap Mas Arkan tenang. Ia menarik resleting kopernya yang rusak, lalu menggenggam tanganku erat. 


"Terima kasih sudah menampung istri saya selama ini. Mari, Na."


Tanpa menoleh lagi, Mas Arkan menarikku melangkah keluar dari pagar besi yang menjulang tinggi itu. Diiringi tawa sumbang Ghea dan gerutuan Bu Vina, kami berjalan menyusuri jalanan kompleks yang mulai sepi di bawah langit malam yang mendung.


Aku terus menangis dalam diam di sepanjang jalan. 


Menangisi nasib suamiku. Menangisi masa depan kami yang terasa gelap tanpa arah. 


Kami tidak punya rumah, tidak punya tabungan karena selama ini Mas Arkan tidak pernah mengirimkan uang sisa gajinya, beralasan biaya hidup di sana sangat mahal.


Langkah Mas Arkan terhenti di bawah sebuah lampu jalan yang temaram. Ia melepaskan koper rombeng itu, lalu menangkup kedua pipiku dengan telapak tangannya yang kapalan. Ibu jarinya mengusap air mataku dengan sangat lembut.


"Maafkan aku, Na. Maaf sudah membiarkanmu dihina dan menderita di rumah itu selama tiga tahun ini," bisiknya penuh penyesalan.


Aku menggeleng cepat, meremas pergelangan tangannya. 


"Aku nggak apa-apa, Mas. Sungguh. Kita bisa mulai semuanya dari nol. Mas bisa cari kerja di sini, aku juga akan cari kerja—"


Ucapan panikku terhenti saat Mas Arkan tiba-tiba terkekeh pelan. Senyum tipisnya perlahan berubah menjadi seringai penuh arti yang belum pernah kulihat sebelumnya. 


Ia merogoh saku dalam jaket kulit bututnya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru edisi terbatas yang harganya setara dengan rumah ibunya tadi.


"Tidak perlu cari kerja, Sayang. Hapus air matamu, karena mulai malam ini, kamu tidak akan pernah hidup susah lagi." 


Mas Arkan mengecup keningku perlahan, lalu berbisik tepat di depan wajahku yang mematung kebingungan.


"Ibu dan Ghea hanya tidak tahu saja, TKI gembel yang baru mereka usir ini sebenarnya adalah ..."


***

Bab 2

"Adalah pemilik tunggal Xaviero Group, dan besok pagi, perusahaan tempat Jevano bekerja, akan resmi aku hancurkan."


***


"Siapkan penthouse utama malam ini juga, dan pastikan surat pemecatan Jevano beserta daftar seluruh utang piutangnya sudah ada di mejaku sebelum matahari terbit."


Aku menahan napas. Suara Mas Arkan tidak lagi lembut atau penuh nada mengalah seperti saat ia menghadapi ibunya tadi. Nada bicaranya kini terdengar sangat dingin, mendominasi, dan penuh otoritas. 


Ia berbicara melalui ponsel mewahnya itu tanpa keraguan sedikit pun, seolah memerintah orang lain adalah hal yang sudah mendarah daging baginya.


Begitu panggilan terputus, ia memasukkan kembali ponsel itu ke saku jaket kulit bututnya, lalu menatapku dengan tatapan teduh. Berbanding terbalik dengan aura mematikan yang baru saja ia pancarkan.


"Mas ..." suaraku tercekat di tenggorokan. Kakiku tiba-tiba terasa lemas. "Kamu ... kamu tadi bicara sama siapa? Xaviero Group? Itu kan perusahaan raksasa yang mendanai hampir separuh bisnis di ibu kota. Mas, tolong jangan bercanda, aku—"


Ucapan panikku terhenti oleh sorot lampu menyilaukan yang tiba-tiba menyorot ke arah kami. 


Sebuah mobil hitam mengkilap yang panjang dan luar biasa mewah meluncur mulus tanpa suara, berhenti tepat di depan kami yang berdiri di pinggir jalanan kompleks.


Pintu kemudi terbuka. Seorang pria muda dengan setelan jas three-piece rapi, yang kutebak bernama Kenzo dari name tag kecil di dadanya, berlari mengitari mobil. 


Pria tampan dengan potongan rambut kekinian itu tidak mempedulikan penampilan gembel suamiku. Ia justru menunduk hormat hingga hampir sembilan puluh derajat.


"Selamat datang kembali, Tuan Muda Xaviero. Segala keperluan Anda dan Nyonya Muda sudah kami siapkan di penthouse," ucap Kenzo dengan suara lantang dan penuh rasa segan.

Mataku membelalak. 


Tuan Muda? Nyonya Muda?


Kenzo dengan sigap mengambil alih koper rombeng di dekat kaki Mas Arkan, memperlakukannya seolah koper rusak itu berisi batangan emas. Ia kemudian membukakan pintu penumpang bagian belakang untuk kami.


"Ayo, Na. Udara malam tidak baik untukmu," ajak Mas Arkan lembut, membimbingku masuk ke dalam kabin mobil yang beraroma sandalwood dan peppermint yang menenangkan.


Aku duduk membeku di atas jok kulit premium yang terasa luar biasa empuk. Otakku masih berusaha mencerna semuanya. 


Tiga tahun aku hidup dalam hinaan Bu Vina dan Ghea. Tiga tahun aku menahan lapar demi menyisihkan jatah makan untuk ditabung karena mengira suamiku banting tulang sebagai kuli kasar di luar negeri. 


Namun malam ini, pria yang baru saja diusir itu duduk di sebelahku dalam balutan mobil miliaran rupiah.


Mas Arkan melepas jaket kulit bututnya, melemparkannya begitu saja ke lantai mobil. Ia melonggarkan kerah kausnya, bersandar santai sambil menarikku ke dalam dekapannya.


"Kamu pasti sangat bingung, Na," bisiknya sambil mengecup puncak kepalaku berkali-kali. 


"Maafkan aku karena harus menyembunyikan ini darimu. Semua aku lakukan demi keselamatanmu. Xaviero Group sedang dalam masa perebutan kekuasaan yang kotor saat aku menikahimu, dan jalan satu-satunya untuk melindungi kita berdua adalah dengan membuat diriku terlihat 'tidak berharga' dan 'pergi' sebagai TKI."


Aku mendongak, menatap rahang tegasnya dari jarak sedekat ini. 


"Tapi Mas, kalau kamu memang pewaris tunggal konglomerat itu, kenapa kamu membiarkan Ibumu menghinamu? Kenapa kamu rela membiarkan Ibu dan Ghea memperlakukanmu seperti sampah?"


Mas Arkan menunduk menatapku. Senyum lembut di wajahnya perlahan lenyap, digantikan oleh sorot mata tajam yang begitu dingin dan pekat. 


Jemarinya yang kasar mengelus rahangku dengan lembut, sangat kontras dengan kalimat yang meluncur dari bibirnya.


"Siapa bilang wanita itu ibuku, Na? Vina hanyalah mantan pembantu yang memanipulasi keadaan untuk menyingkirkan ibu kandungku, lalu menukar bayinya dengan diriku demi menguasai keluarga ini. Dan mulai besok pagi, aku akan memastikan wanita licik itu beserta anak-anaknya jatuh sedalam-dalamnya, hingga mereka sadar bahwa istana kesombongan yang mereka banggakan selama ini, berdiri di atas harta dan namaku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar