Jumat, 01 Mei 2026

(13) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Rasakan pembalasanku, Sari! Sebentar lagi seluruh negeri akan meludahimu, dan kamu tidak akan berani mengangkat wajah sok sucimu itu keluar dari rumah ini!"


Bisikan penuh kedengkian itu meluncur dari bibir Ibuku. Di sudut dapur yang sepi pada pagi buta itu, ia dan Mbak Rini sedang berkerumun menatap layar sebuah ponsel curian. 


Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah keriputnya saat melihat notifikasi yang terus bermunculan.


Video tangisan palsunya semalam sukses besar.


Hanya dalam waktu beberapa jam, video berdurasi satu menit itu telah ditonton jutaan kali dan disebarkan ribuan akun di berbagai platform media sosial. 


Narasi "Mertua Tua Renta Dizalimi Menantu Gila Harta" menjadi tajuk utama yang memancing amarah publik maya. 


Kolom komentar dibanjiri hujatan dan sumpah serapah yang ditujukan kepada Sari, meski mereka tak tahu siapa Sari sebenarnya.


Di lantai dua, suasana sangat kontras. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kaca besar, menyinari ruang makan keluarga tempat aku, Sari, dan Bintang sedang menikmati sarapan.


Sari tampak begitu cantik dengan gaun rumahan berwarna krem. Ia sedang mengoleskan selai stroberi ke roti panggang milik Bintang sambil tertawa mendengar celoteh riang putra kami. 


Melihat pemandangan itu, dadaku menghangat. Tak akan kubiarkan siapa pun merusak kedamaian ini, sekalipun itu wanita yang melahirkanku.


Tepat pukul delapan pagi, Galen Alvarendra melangkah masuk ke ruang makan dengan membawa tabletnya. Wajahnya tenang, profesional seperti biasa.


"Selamat pagi, Tuan Danu, Nyonya Sari. Waktunya sudah tiba," lapor Galen seraya meletakkan tablet itu di atas meja, tepat di samping cangkir kopiku.


Sari menghentikan aktivitasnya, menatap Galen dan aku secara bergantian dengan kening berkerut. 


"Ada apa, Mas? Waktu untuk apa?"


Aku tersenyum lembut, menggenggam tangan istriku. 


"Jangan panik ya, Sayang. Apa pun yang kamu lihat di luar sana hari ini, ingatlah bahwa aku sudah mengurus semuanya."


Kuanggukkan kepala pada Galen. Tanpa ragu, asisten pribadiku itu menekan satu tombol di layarnya.


Dalam hitungan detik, sebuah video tandingan diunggah secara serentak melalui akun-akun resmi perusahaanku, lengkap dengan bukti autentik. 


Itu adalah rekaman CCTV High Definition bersuara jernih dari kamar pelayan semalam.


Video itu menampilkan secara utuh bagaimana Ibuku tertawa merencanakan fitnah, dengan sengaja mengacak-acak rambutnya, menempelkan debu ke pipinya, lalu dalam sekejap mengubah ekspresinya menjadi tangisan memelas di depan kamera ponsel. 


Tidak ada editan, murni fakta yang menampar balik narasi palsu sebelumnya.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk mengubah arus. 


Netizen yang tadinya menghujat, kini berbalik marah besar karena merasa ditipu mentah-mentah oleh akting murahan Ibuku.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar