Jumat, 01 Mei 2026

(4) Aku Pura-Pura Pergi ke Luar Negera tapi Betapa Kagetnya Aku Saat Mendapati Istriku....

 


"Lepaskan tangan kotor kalian dari mobil kesayanganku! Menantuku itu orang kaya raya, beraninya kalian para pesuruh rendahan mencoba menderek mobil ini?!"


Jeritan melengking ibu mertuaku memecah keheningan kompleks perumahan elite pagi ini. 


Aku baru saja turun dari mobil sewaan yang kuparkir tepat di depan pagar rumahku sendiri, menikmati pemandangan paling memuaskan sebagai hidangan pembuka. 


Dua orang petugas towing yang kuutus tampak tidak peduli dengan amukan wanita tua itu, terus mengaitkan rantai besi ke mobil mewah yang baru bulan lalu kubelikan dengan uang peluhku.


Mendengar keributan di luar, pintu utama terbuka lebar. Alina berlari keluar dengan wajah panik, disusul Ardan yang mengekor di belakangnya ketakutan.


"Mas Gavin?!" Alina memekik tertahan begitu melihatku berdiri santai di dekat pagar, bersedekap dada dengan kacamata hitam bertengger di hidung. 


"K-kamu ... kamu sudah pulang? B-bukannya jadwal penerbanganmu nanti malam?"


Aku membuka kacamata hitamku perlahan, menatap mereka bertiga secara bergantian. Wajah pucat pasi mereka benar-benar karya seni yang tak ternilai harganya.


"Biarkan saja mereka mendereknya, Ibu mertua," ucapku tenang, melangkah masuk melewati gerbang yang terbuka. Senyum simpul sengaja kutarik di sudut bibir. 


"Bukankah lebih baik Ibu mulai terbiasa jalan kaki? Setahuku, itu sangat bagus untuk memulihkan penyakit 'kritis' Ibu yang membutuhkan ratusan juta kemarin."


Ibu mertuaku seketika mematung. Mulutnya yang sejak tadi nyenyes mengomel kini terkatup rapat, gemetar menyadari sindiranku yang tepat sasaran.


"Mas, apa maksudmu? Kenapa kamu membiarkan mobil Ibu ditarik? Dan kenapa semua rekeningku diblokir?" 


Alina segera menghampiriku, mencoba meraih lenganku dengan tatapan memelas andalannya. 


Namun, dengan gerakan halus yang sarat akan rasa jijik, aku menepis tangannya sebelum jari-jarinya yang berlapis cincin berlian kesayanganku itu menyentuh kemejaku.


"Ardan, sahabatku yang paling setia." Aku mengabaikan Alina, sengaja menoleh pada pria berengsek yang kini mematung dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya. 


"Kudengar perusahaanmu sedang dalam masalah besar. Penggelapan dana, bukan? Ah, sayang sekali aku harus menarik semua investasiku di sana sebelum namaku ikut terseret ke dalam lubang kebusukanmu."


"Gavin, d-dengarkan aku dulu, ini semua hanya salah paham," suara Ardan bergetar, jakunnya naik turun menelan ludah. 


"A-aku bisa menjelaskannya."


"Tidak perlu ada yang dijelaskan," potongku cepat, memangkas sisa harga dirinya di hadapan istriku. 


Aku melangkah maju, memangkas jarak, membuat Alina dan Ardan tanpa sadar melangkah mundur.


Dalam permainan ini, aku tak akan langsung membuang mereka. Ini adalah sesuatu yang baru saja kumulai babak awalnya, dan aku akan menguliti kewarasan mereka perlahan-lahan. 


Membiarkan mereka merasakan keputusasaan dari hari ke hari akan jauh lebih menyakitkan daripada langsung melempar mereka ke jalanan.


Aku menunduk, menatap perut Alina yang masih terbalut dress longgar untuk menutupi rahasia besarnya dariku. Kuarahkan telunjukku, menunjuk tepat ke arah perut buncit itu, membuat Alina seketika menahan napas dan memeluk perutnya secara refleks.


"Ngomong-ngomong, Sayang," bisikku dengan nada suara yang terlampau lembut, namun mematikan. 


"Tagihan ruang inkubator dan dokter spesialis kandungan di rumah sakit VVIP itu lumayan mahal. Kira-kira, kalau anak itu lahir nanti, dia akan memanggilku Ayah, atau justru memanggil sahabatku di sebelahmu ini dengan sebutan Papa?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(4) Aku Pura-Pura Pergi ke Luar Negera tapi Betapa Kagetnya Aku Saat Mendapati Istriku....

  "Lepaskan tangan kotor kalian dari mobil kesayanganku! Menantuku itu orang kaya raya, beraninya kalian para pesuruh rendahan mencoba ...