Siska menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk cepat, menyetujui perjanjian rahasia kami tanpa perlawanan.
Belum sempat aku membalas, terdengar suara langkah kaki Ibu mertua mendekat dari arah ruang tengah.
Siska dengan cepat memutar tubuhnya, mengambil gelas dan mengisinya dengan air es, berpura-pura sedang kehausan.
"Loh, Putra? Kamu sedang apa di dapur berdua dengan dia?" Suara teguran Ibu mertua memecah ketegangan. Beliau menatap kami bergantian dengan sorot mata penuh selidik.
Aku menoleh dengan raut wajah datar.
"Hanya kebetulan berpapasan saat mengambil minum, Bu. Tadi Fitri minta tolong diambilkan air hangat," jawabku santai, lalu mengambil gelas dan mengisinya sebelum berlalu meninggalkan mereka berdua.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat Siska menghela napas lega. Sandiwara babak kedua baru saja dimulai, dan kali ini, akulah yang memegang kendali.
Malam itu berjalan dengan hawa dingin yang menggantung di udara.
Saat makan malam, Ibu mertua terus memanjakan Siska, memaksanya makan banyak dengan alasan untuk kesehatan 'kandungannya', sementara Fitri hanya diam menunduk, mengaduk-aduk nasinya dengan tatapan kosong.
Aku terus menggenggam tangan istriku di bawah meja, mengusapnya lembut untuk meyakinkannya bahwa aku ada di pihaknya.
Setelah makan malam, aku sengaja menyibukkan diri di ruang kerja kecilku, memberi sedikit ruang bagi Ibu mertua dan Siska di ruang keluarga.
Sekitar pukul sepuluh malam, saat rumah mulai sunyi, terdengar ketukan pelan di pintu ruang kerjaku.
Pintunya sedikit terbuka, menampilkan wajah Siska yang celingukan memastikan tak ada orang lain yang melihatnya. Ia menyelinap masuk dengan tergesa-gesa dan menutup pintu rapat-rapat.
"Ada apa? Bukankah sudah kubilang jangan menemuiku secara terang-terangan seperti ini?" tegurku dengan suara tertahan.
Siska melangkah maju mendekati mejaku. Tangannya yang bergetar merogoh saku gaun tidurnya, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi serbuk berwarna putih kekuningan. Ia meletakkan botol itu di atas mejaku dengan napas memburu.
"Mas, aku bersedia melakukan sandiwara pura-pura hamil. Tapi aku tidak mau ikut campur dalam urusan yang satu ini. Ini sudah di luar batas nuraniku!" bisik Siska dengan suara bergetar ketakutan.
Aku mengernyitkan dahi, menatap botol kecil itu dengan perasaan tidak enak yang tiba-tiba merayapi tengkukku.
"Apa ini? Obat apa yang kalian rencanakan sekarang?!"
Siska menggeleng kuat-kuat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku dengan sorot mata ngeri yang sulit disembunyikan.
"Ibu mertuamu baru saja menyuruhku mencampurkan serbuk ini ke dalam susu Mbak Fitri malam ini, Mas. Katanya, ramuan ini akan perlahan-lahan merusak rahim istrimu, untuk memastikan bahwa tuduhannya soal Mbak Fitri yang mandul akan benar-benar menjadi kenyataan seumur hidupnya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar