"Sikat terus noda di lantai itu sampai bayangan wajah memelasmu terlihat jelas, Mas. Karena seumur hidup, mungkin hanya di pantulan keramik toilet inilah kau bisa merasakan sedikit kemewahan hotel bintang lima."
Suaraku yang menggema di dalam toilet pria area Grand Ballroom itu membuat sikat di tangan Mas Retno terlepas.
Laki-laki yang kini mengenakan seragam cleaning service berwarna biru pudar itu mendongak seketika.
Wajahnya dipenuhi peluh, napasnya terengah-engah, dan matanya memerah menahan amarah bercampur rasa malu yang luar biasa.
Aku berdiri santai di ambang pintu, mengenakan setelan blazer elegan rancangan butikku sendiri, menatapnya dengan tatapan paling dingin.
Di belakangku, dua orang petugas keamanan hotel berdiri tegap, siap siaga memastikan pria ini tidak melakukan tindakan yang macam-macam.
"Refi," panggil Mas Retno dengan suara bergetar. Tangannya mengepal kuat, menatap penampilanku yang jauh dari kesan 'pedagang daster keliling' seperti yang selama ini ia hina.
"Tega kamu, Fi. Tega kamu membiarkan aku dan Ibu mertuamu menderita seperti ini. Ibuku sekarang terpaksa duduk di pos satpam depan, memakan nasi bungkus sisa jatah karyawan hotelmu! Di mana letak hati nuranimu?!"
"Hati nurani?" Aku melangkah maju, ujung sepatu hak tinggiku beradu dengan lantai marmer.
"Di mana hati nuranimu saat kau menuntut uang tiga ratus juta dari hasil keringatku untuk membiayai resepsi pernikahan keduamu? Jangan bawa-bawa soal Ibu. Wanita yang bersorak gembira melihat menantunya dikhianati, tidak punya hak untuk menuntut belas kasihan di tempatku berdiri."
Mas Retno menunduk dalam. Bahunya bergetar hebat. Ego laki-lakinya yang dulu begitu meraksasa kini telah hancur lebur berkeping-keping, rata dengan tanah yang sedang ia pel.
"Aku memang serakah, Refi. Aku salah," isaknya pelan, suaranya terdengar begitu menyedihkan dan putus asa.
"Tapi aku sudah kehilangan segalanya. Pekerjaanku hilang, rumah tak punya, utang menggunung, bahkan perempuan yang baru kunikahi kemarin kabur entah ke mana. Bukankah hukuman ini sudah lebih dari cukup untukku?"
Aku tertawa hambar. Tawa yang mengiris tajam di ruangan yang sunyi itu.
Cukup? Laki-laki ini benar-benar tidak paham seberapa jauh ia telah bermain api.
"Cukup katamu? Ini bahkan baru pemanasan, Mas," bisikku sambil membungkukkan badan, menyejajarkan tatapanku dengan wajahnya yang kuyu.
"Kamu pikir perempuan berkebaya putih kemarin itu benar-benar mau menyerahkan hidupnya padamu karena cinta? Kamu terlalu naif, Mas."
Mas Retno mendongak, keningnya berkerut bingung. Sisa-sisa air mata di pipinya mengering berganti dengan raut penuh tanda tanya.
"M-maksudmu apa, Refi? Dia bilang dia sangat mencintaiku."
Aku kembali berdiri tegak, membalikkan badan, dan merapikan kerah pakaianku dengan elegan sebelum melangkah pergi meninggalkan laki-laki yang sedang kebingungan itu.
"Kamu hanya pion kecil yang tidak berharga, Mas. Bersiaplah untuk patah hati yang sesungguhnya, karena besok pagi, kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri, maduku yang kabur itu melenggang masuk ke lobi hotel ini dengan menggandeng pria lain!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar