Jumat, 01 Mei 2026

(4) Kujebak Suami dan Mertuaku untuk membalikkan Aset menjadiAtas Namaku. Lagipula Aset itu pakai Uangku. Setelah Namanya Berbalik, akan Kuceraikan Suamiku dan....

 


Dengan wajah hancur dan harga diri yang sudah rata dengan tanah, Arya dan Ibu mertua akhirnya melangkah keluar menembus gerimis malam. 


Pintu mahoni itu kututup rapat. Mengunci kenangan menjijikkan tentang mereka selamanya.


***


Pintu apartemen mewah bernuansa emas itu terbuka. Maya, yang hanya mengenakan piyama satin tipis, terkejut bukan main melihat Arya berdiri di depan pintunya dalam keadaan basah kuyup, membawa dua koper butut, dan yang paling parah, membawa serta Ibu mertua yang menggigil kedinginan.


"Mas Arya?! Ya ampun, kamu kenapa basah-basahan begini? Dan ... lho, ada Ibu juga?" Maya memaksakan senyum, meski raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan.


Mereka masuk. Arya mengusap wajahnya yang frustrasi, lalu mulai menceritakan semuanya. 


Tentang Naira yang menjebaknya, tentang aset yang kembali beralih nama, dan tentang semua rekeningnya yang diblokir hingga ia tak punya sepeser pun uang.


Senyum manis di bibir Maya perlahan luntur. Matanya yang tadi memancarkan gairah kini menajam penuh perhitungan.


"Tunggu, tunggu ... jadi maksudmu, kamu ceraikan istrimu tanpa bawa harta sepeser pun? Terus mobil mewahnya? Kartu kredit limit ratusan juta yang janjinya mau kamu kasih ke aku itu mana?!" suara Maya mulai meninggi, tak ada lagi nada manja seperti biasanya.


"Sabar, Maya. Ini cuma sementara. Besok aku akan pinjam uang ke teman kantorku, aku akan ..."


"Sementara apanya!" potong Maya kasar, membuat Ibu mertua terlonjak kaget. "Mas, aku ini butuh uang, bukan butuh janji kosong! Terus ngapain kamu bawa ibumu ke sini?! Apartemenku ini bukan panti jompo!"


"Jaga bicaramu, Maya! Arya ini laki-laki berpendidikan! Bulan depan proyeknya cair!" Ibu mertua yang tak terima anaknya direndahkan mulai ikut campur.


"Halah, proyek apa? Proyek halu? Kalian berdua dengerin ya, aku mau sama Mas Arya itu karena dia kaya! Kalau sekarang dia gembel, ngapain aku harus nampung kalian?!" 


Maya berkacak pinggang, menatap jijik pada koper basah yang mengotori karpet mahalnya.


***


Aku baru saja selesai menuangkan teh ke dalam cangkir porselenku saat ponsel di atas meja berdering pelan. Nama 'Bima - Manajer Properti' tertera di layar. Aku tersenyum tipis dan menggeser tombol hijau.


"Ya, Bima. Bagaimana laporannya?" tanyaku santai sambil menyesap teh hangat yang menenangkan syarafku.


"Semua sudah siap sesuai instruksi Nona Naira. Saya selaku manajer properti gedung apartemen ini sudah memutus aliran listrik, air, dan memblokir akses lift ke lantai tempat unit Nona Maya berada," suara tegas Bima terdengar dari seberang sana.


Aku menyandarkan punggungku ke sofa empuk, menatap rintik hujan dari balik jendela kaca raksasa rumahku.


"Bagus. Biarkan mereka saling gigit dalam kegelapan malam ini. Lalu besok paginya ..."


"Besok pagi, Pak Arya dan Nyonya ... maksud saya, Ibu mertua Anda, serta Maya akan diseret paksa keluar oleh petugas keamanan karena masa sewa apartemen itu sebenarnya sudah Anda cabut sejak sore tadi, Nona."


"Sempurna," desisku dengan senyum yang semakin melebar. "Pastikan wartawan hiburan lokal sudah ada di basement saat mereka diusir seperti gelandangan. Oh, dan Bima ..."


"Ya, Nona?"


"Hubungi Direktur Utama di tempat suamiku bekerja. Katakan padanya, pemegang saham terbesar perusahaan merek, menginginkan Arya dipecat secara tidak hormat besok pagi sebelum jam sembilan."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) Suamiku Menangis Histeris saat Kuusir dia dan Ibunya.. Enak aja dia mau numpang hidup di rumahku. Aku justru akan membuat mereka menyesal!

  "Blokir semua kartu kredit atas nama Arsa Kalandra detik ini juga. Ya, Bapak tidak salah dengar. Cabut semua akses VIP-nya, dan pasti...