"Blokir semua kartu kredit atas nama Arsa Kalandra detik ini juga. Ya, Bapak tidak salah dengar. Cabut semua akses VIP-nya, dan pastikan saldonya tersisa tepat di angka nol rupiah."
Aku meletakkan ponsel ke atas nakas dengan senyum tipis yang tak bisa kutahan. Malam ini, embusan pendingin ruangan terasa jauh lebih sejuk.
Rumah mewahku yang biasanya terasa sesak oleh kehadiran dua benalu, kini terasa begitu lapang dan damai.
Tidak ada lagi rengekan Bu Ratih yang meminta tambahan uang bulanan untuk arisan bodongnya. Tidak ada lagi kebohongan Arsa yang pura-pura lembur demi menemani selingkuhannya check-up kehamilan. Malam ini, aku tidur dengan sangat nyenyak.
Keesokan paginya, aku melangkah memasuki lobi perusahaan dengan setelan blazer berwarna navy dan stiletto yang berbunyi nyaring memecah keheningan. Kiera, asisten pribadiku yang cerdas dan cekatan, sudah menungguku di depan pintu lift khusus direksi dengan wajah sedikit tegang.
"Selamat pagi, Bu Ziva," sapa Kiera seraya menyerahkan segelas americano hangat kesukaanku.
"Ada sedikit kendala di bawah. Pak Arsa memaksa masuk sejak lima belas menit yang lalu, tapi akses kartunya sudah saya nonaktifkan sesuai perintah Ibu semalam."
Aku menyesap kopiku dengan tenang.
"Biar saya tebak. Dia pasti sedang berteriak-teriak membawa nama saya?"
Kiera mengangguk pelan.
"Benar, Bu. Beliau bersikeras bahwa beliau adalah manajer operasional dan suami dari pemilik perusahaan ini."
"Biar saya yang urus. Kamu siapkan saja dokumen pemecatannya di meja saya."
Aku berbalik dan berjalan menuju lobi utama. Dari kejauhan, pemandangan itu sudah terlihat sangat menyedihkan.
Arsa, dengan kemeja yang sedikit kusut, kemungkinan besar kemeja yang sama dari semalam karena dia tidak sempat membawa banyak baju, sedang menunjuk-nunjuk wajah dua satpam gedung.
"Kalian tidak tahu siapa saya?! Berani-beraninya menahan saya di sini! Saya ini Arsa Kalandra, manajer di kantor ini! Saya bisa memecat kalian berdua detik ini juga!" bentak Arsa dengan wajah memerah.
"Sayangnya, satu-satunya orang yang dipecat hari ini adalah kamu, Arsa."
Suaraku yang dingin dan mengalun tenang membuat gerakan Arsa terhenti. Ia berbalik, dan seketika nyalinya menciut melihatku berdiri dengan tangan terlipat di dada.
Beberapa karyawan yang sedang melintas di lobi mulai memelankan langkah, mencuri pandang ke arah kami.
"Ziv ... Ziva," suara Arsa mendadak gagap. Ia mencoba tersenyum, sebuah senyuman kikuk yang memuakkan.
"Syukurlah kamu turun. Satpam-satpam bodoh ini menahan kartu aksesku. Kamu masih marah soal semalam? Kita bicarakan di ruanganmu saja, ya? Tidak enak dilihat karyawan lain."
Aku mendengus pelan, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ruanganku bukan tempat penitipan laki-laki pengangguran. Mulai hari ini, kamu tidak punya meja, tidak punya jabatan, dan tidak punya hak untuk menginjakkan kaki di perusahaanku. Kamu aku pecat!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar