"Tuan Muda, Jevano baru saja diseret keluar dari lobi utama oleh petugas keamanan. Seluruh aksesnya diblokir, jabatannya dicabut dengan tidak hormat, dan mobil yang selalu dia banggakan itu sudah ditarik paksa oleh pihak leasing tepat lima menit yang lalu."
Aku menelan ludah, berdiri mematung di balik pilar marmer raksasa penthouse mewah ini. Di ruang tamu utama yang dibatasi kaca setinggi langit-langit, kulihat Kenzo berdiri tegap melaporkan hal itu melalui sambungan telepon.
Di sofa berwarna navy yang tampak sangat mahal, Mas Arkan duduk bersilang kaki. Jaket kulit bututnya sudah berganti dengan jubah mandi berbahan sutra yang membalut tubuh tegapnya.
Ia menyesap teh kamomilnya dengan gaya aristokrat yang begitu kental, seolah kemiskinan yang ia perankan selama tiga tahun ini hanyalah sebuah pertunjukan teater.
"Bagus," puji Mas Arkan singkat, suaranya berat dan mengintimidasi. "Pastikan tidak ada satu pun perusahaan di negara ini yang mau menerima lamaran kerjanya. Biarkan dia tahu rasanya menjadi pengangguran yang tidak berguna."
Aku memundurkan langkah, namun tak sengaja menyenggol meja kristal di belakangku. Bunyi dentingan pelan itu membuat Mas Arkan menoleh.
Tatapan tajamnya seketika melembut begitu melihatku yang masih berdiri canggung dalam balutan piyama sutra yang disiapkan oleh para pelayan wanita beberapa menit lalu.
Ia meletakkan cangkirnya, memberi isyarat tangan pada Kenzo untuk pergi. Dalam sekejap, asisten pribadi itu menunduk hormat dan menghilang di balik pintu ganda penthouse, meninggalkan kami berdua dalam keheningan malam ibu kota.
"Sini, Na," Mas Arkan menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Aku melangkah ragu. Lantai marmer yang dilapisi karpet tebal dari Turki ini terasa terlalu empuk untuk telapak kakiku yang biasanya hanya menginjak lantai ubin kusam di rumah Bu Vina.
Begitu aku duduk, Mas Arkan langsung menarikku ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku.
"Kamu masih takut padaku?" tanyanya lirih, napas hangatnya menerpa kulitku.
"Bukan takut, Mas," cicitku, meremas ujung piyamaku. "Aku hanya ... merasa sedang bermimpi. Rumah ini, pelayan-pelayan tadi, Kenzo, dan Xaviero Group. Semuanya terlalu besar. Aku sudah terbiasa hidup susah, menghitung uang receh demi bisa makan besok, lalu tiba-tiba ..."
Mas Arkan mengangkat wajahku, menatap mataku lekat-lekat.
"Masa-masa itu sudah berakhir, Aluna. Tiga tahun kamu menahan lapar, tiga tahun kamu memakai baju lusuh, dan tiga tahun kamu dijadikan asisten rumah tangga tanpa gaji oleh wanita licik itu demi menunggu kepulanganku. Kesabaranmu sudah lebih dari cukup."
Ia mengecup keningku lama, menyalurkan kehangatan yang membuat air mataku tanpa sadar kembali menetes.
"Mulai detik ini, kamu adalah Nyonya Muda Xaviero. Tidak akan ada lagi yang berani merendahkanmu. Dan untuk mereka yang pernah menginjak-injak harga dirimu ..."
Senyum Mas Arkan mengembang, tipis namun membuat bulu kudukku meremang.
"Aku akan pastikan mereka membayar setiap tetes air matamu dengan kehancuran yang perlahan."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar