Sabtu, 02 Mei 2026

(14) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


Di lantai bawah, terdengar suara pecahan piring dari arah dapur.


Aku berdiri, menuntun Sari untuk turun bersama Galen di belakang kami. 


Setibanya di dapur, kulihat Ibuku sedang gemetar hebat memegangi ponsel, sementara Mbak Rini mematung dengan wajah seputih kertas. 


Ponsel di tangan Ibuku tak henti-hentinya bergetar, menampilkan ribuan komentar baru yang kini berbalik menyerang mereka tanpa ampun.


"D-Danu, apa-apaan ini?! Kenapa ada kamera di kamarku?!" jerit Ibuku histeris, menatapku dengan mata membelalak panik. 


Ia mencoba menghapus video itu, tapi semuanya sudah terlambat. Jejak digital tak bisa dihapus begitu saja.


Sari menatap layar ponsel itu sejenak, baru menyadari apa yang coba dilakukan mertuanya semalam. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap Ibuku dengan tatapan kecewa yang teramat dalam.


"Ibu masih saja mencoba menghancurkanku dengan fitnah? Bahkan setelah semua kebohongan Ibu terungkap?" suara Sari bergetar tipis, namun ia berdiri tegak di sampingku.


"Kamu pantas dihancurkan, Sari! Kamu merebut anakku!" teriak Ibuku masih berusaha membela diri meski buktinya sudah sangat jelas.


Aku menghela napas panjang, merasa rasa hormatku untuk wanita ini benar-benar telah mencapai titik nol. 


Aku melangkah maju, mengambil paksa ponsel itu dari tangannya, lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Cukup, Bu," ucapku dengan nada sedingin es. "Aku sudah memberimu kesempatan untuk menyadari kesalahan dengan bekerja di rumah ini, tapi Ibu justru memilih untuk menggali kuburan Ibu sendiri di hadapan publik."


"Danu, kumohon, hapus video CCTV itu! Ibu bisa dilaporkan ke polisi oleh orang-orang di luar sana! Mereka marah karena merasa ditipu!" raung Ibuku, akhirnya menyadari konsekuensi mengerikan dari perbuatannya.


Aku menatap datar wanita yang kini menangis sungguhan itu, senyum tipis yang tak mencapai mata terukir di bibirku. Suara sirene mobil mulai terdengar samar-samar mendekati kawasan perumahan kami.


"Aku tidak akan menghapus apa pun, Bu. Karena pagi ini, pihak kepolisian dan tim pengacaraku sudah berada di depan gerbang, datang membawa surat penahanan resmi atas kasus pencemaran nama baik berlapis yang baru saja Ibu sutradarai sendiri."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar