Sabtu, 02 Mei 2026

(5) Aku Pura-Pura Pergi ke Luar Negera tapi Betapa Kagetnya Aku Saat Mendapati Istriku....

 


"Jaga ucapanmu, Mas! Tega sekali kamu memfitnah darah dagingmu sendiri sebagai anak dari pria lain, di saat aku sedang bertaruh nyawa mengandungnya?!"


Jeritan melengking Alina memecah ketegangan, diiringi air mata buaya yang dengan cepat membasahi pipinya yang mulus. 


Ia memukul-mukul dadanya sendiri, memainkan peran sebagai istri teraniaya dengan sangat sempurna. 


Sementara itu, ibu mertuaku langsung memeluk putrinya, menatapku dengan sorot mata penuh kebencian.


"Tega kamu, Gavin! Istrimu sedang hamil anakmu, bisa-bisanya kamu termakan omongan orang dan membawa-bawa nama sahabatmu sendiri!" cerca wanita tua itu tak mau kalah.


Aku hanya mendengus geli. 


Hebat sekali. Jika aku tak melihat sendiri adegan menjijikkan di rumah sakit itu, mungkin aku sudah berlutut memohon ampun pada mereka.


Tanpa membuang energi untuk berdebat, aku merogoh saku jas, mengeluarkan ponselku, lalu menyambungkannya ke speaker bluetooth portabel yang sengaja kubawa. 


Dengan satu sentuhan di layar, rekaman suara di lobi rumah sakit bersalin itu menggema lantang di teras rumahku.


"Kapan kamu mau menguras habis aset si pria bodoh itu dan minta cerai? Aku sudah tidak sabar menyambut jagoan kita lahir ke dunia tanpa perlu bersembunyi lagi, Sayang."


Seketika, napas ketiga orang di hadapanku seolah tercekat. Tangisan Alina berhenti total, digantikan oleh raut wajah pias seputih kertas.


Ardan mundur selangkah, kakinya gemetar hebat hingga lututnya nyaris membentur pot keramik di belakangnya.


"Suara yang sangat merdu, bukan?" tanyaku sinis, menyapu pandangan ke arah tiga parasit di depanku. 


"Kalian pikir aku benar-benar terbang ke Amsterdam? Aku ada di sana, Alina. Menonton pertunjukan romantis kalian secara langsung."


"G-Gavin, a-aku bisa jelaskan, ini ... ini editan! Ya, pasti ada yang sengaja menjebak kami!" 


Ardan mencoba membela diri, suaranya pecah dan terbata-bata mencari alasan paling konyol.


"Simpan saja kebohongan murahanmu itu di pengadilan, Ardan," potongku tajam, melangkah maju hingga hidung kami nyaris bersentuhan. 


Kutatap tajam mata pengecutnya. 


"Karena mulai detik ini, semua aset perusahaanku yang kau gelapkan sudah berada di tangan pengacaraku. Kau bukan hanya bangkrut, tapi kau berutang miliaran padaku. Jika kau berani melangkah keluar dari halaman rumah ini, polisi sudah menunggumu dengan surat penahanan."


Ardan ambruk bertumpu pada lututnya, meremas rambutnya frustrasi. Ibu mertuaku memegangi dadanya, kali ini tampaknya ia benar-benar merasa sesak napas tanpa perlu berakting.


"Mas, ampuni aku, Mas. Aku khilaf." Alina akhirnya berlutut, mencoba meraih ujung sepatuku. Tangisnya kali ini terdengar sangat nyata, tangis ketakutan karena kehilangan sumber kekayaannya. 


"Tolong jangan ceraikan aku, Mas. Setidaknya biarkan aku tetap tinggal di rumah ini."


Aku menunduk, menatapnya dengan senyum miring yang sedingin es. 


Tentu saja, aku tidak akan semudah itu melepaskannya. Aku ingin mereka tinggal di sini, menyaksikan kerajaan yang mereka bangun dari kebohonganku hancur berkeping-keping melalui proses hukum yang menyiksa.


"Oh, tentu saja kau boleh tinggal di sini, Sayang," ucapku, membuat Alina mendongak dengan secercah harapan di matanya. 


"Tapi, ada satu hal yang lupa kuberitahukan padamu tentang pangeran impianmu ini."


Aku memutar tubuh, menatap ke arah gerbang rumah yang kembali terbuka perlahan. 


Sebuah taksi mewah berhenti, dan seorang wanita muda dengan kacamata hitam serta setelan jas merah menyala melangkah turun. Aura keangkuhan dan amarah menguar kuat dari setiap langkahnya.


"Silakan masuk, Nyonya Valerie," sapaku dengan nada sedikit membungkuk dramatis.


Alina mengerutkan kening kebingungan, sementara Ardan membelalakkan matanya hingga nyaris keluar dari rongganya. Pria itu bahkan sampai lupa cara bernapas.


Valerie membuka kacamata hitamnya, menatap lurus ke arah Alina yang masih bersimpuh di lantai dengan pandangan merendahkan yang sangat menusuk.


"Kenalkan, Alina. Ini Valerie," ucapku memecah keheningan yang mencekam, diakhiri dengan senyum kepuasan yang absolut. 


"Dia adalah istri sah Ardan yang selama ini menopang seluruh gaya hidup mewah pria itu. Dan sepertinya, Nyonya Valerie sudah membawa tim pengacaranya untuk memastikan kalian berdua membesarkan anak itu di balik dinginnya jeruji besi."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(8) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

  "Tinggalkan botol itu di meja, Siska. Bagaimanapun dia adalah ibu kandungku, wanita yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanku. Aku...