"Tinggalkan botol itu di meja, Siska. Bagaimanapun dia adalah ibu kandungku, wanita yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanku. Aku tak akan membalas perbuatannya dengan kejahatan, tapi percayalah, bukti ini sudah lebih dari cukup untuk menghentikan semua kegilaan ini."
Suaraku terdengar begitu tenang, berbanding terbalik dengan gemuruh kekecewaan yang menghantam dadaku.
Aku mengambil botol kaca kecil itu, menatap serbuk di dalamnya dengan tangan sedikit gemetar.
Siska menelan ludah, wajahnya masih memucat.
"Lalu, aku harus bilang apa pada Ibumu, Mas? Beliau menunggu di kamarnya. Beliau menyuruhku memastikan Mbak Fitri meminum susu yang sudah dicampur serbuk ini sampai tetes terakhir."
Aku menarik napas panjang, berusaha menjernihkan pikiran yang kalut. Hatiku hancur menyadari ibuku sendiri tega melakukan hal sejauh ini.
Ini bukan lagi sekadar ketidaksukaan biasa, ini adalah manipulasi yang direncanakan dengan rapi.
"Kau kembali ke dapur sekarang," perintahku tegas.
"Buat segelas susu hangat yang baru, pastikan murni tanpa campuran apa pun. Bawa ke kamar, pura-puralah kau mengantarkannya untuk Fitri. Aku yang akan mengambil susu itu darimu dan memberikannya pada istriku. Setelah itu, bawa gelas kosongnya kembali pada Ibu."
Siska mengangguk cepat, menyetujui rencanaku tanpa banyak tanya. Ia segera berbalik dan menyelinap keluar dari ruang kerjaku dengan langkah mengendap-endap.
Sepeninggal Siska, aku terduduk lemas di kursi. Kuusap wajahku dengan kasar. Fitri, istriku yang lembut dan tak pernah melawan itu, selalu saja menjadi korban.
Ia mengorbankan waktu dan perasaannya demi mengambil hati Ibu, namun balasan yang ia terima sungguh membuat hatiku tersayat.
Aku segera bangkit, menyimpan botol itu ke dalam saku, lalu melangkah menuju kamar.
Fitri sedang duduk bersandar di kepala ranjang saat aku masuk. Wajah cantiknya terlihat sayu, matanya menatap kosong ke arah jendela.
Aku tahu, batinnya sedang berkecamuk hebat setelah kehadiran wanita asing di rumah ini.
"Sayang," panggilku lembut, duduk di tepi ranjang dan meraih kedua tangannya.
Fitri menoleh, memberiku senyum tipis yang memaksakan diri.
"Mas belum tidur? Kerjaan di ruang studinya sudah selesai?"
"Sudah. Tapi sebelum kita tidur, ada hal penting yang harus Mas sampaikan," ucapku serius. Aku menangkup wajahnya, memastikan ia menatap langsung ke mataku.
"Mulai besok, apa pun alasannya, jangan pernah memakan atau meminum apa pun yang diberikan oleh Ibu atau Zea. Jika kamu lapar, ambil dari kemasan baru yang belum terbuka, atau panggil Mas. Mas yang akan menyiapkannya untukmu. Paham?"
Kening Fitri berkerut bingung. Matanya menyiratkan keheranan.
"Mas, ada apa sebenarnya? Kenapa Mas tiba-tiba melarangku?"
Belum sempat aku menjawab, terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar.
"Mas Putra, ini Zea. Tante Ningsih menyuruhku membuatkan susu hangat untuk Mbak Fitri supaya tidurnya nyenyak," suara Siska terdengar dari balik pintu, menjalankan skenario kami.
Aku memberi isyarat pada Fitri untuk diam, lalu melangkah membuka pintu. Siska berdiri di sana dengan nampan berisi segelas susu.
"Berikan padaku," ucapku dingin, mengambil alih nampan itu dengan raut wajah kaku agar akting kami terlihat meyakinkan jika Ibu mengintip dari kejauhan. Aku langsung menutup pintu.
Aku berjalan menuju kamar mandi, menumpahkan seluruh isi susu itu ke dalam wastafel hingga tak tersisa, lalu membawa gelas kosongnya keluar kamar.
Kulihat Siska masih berdiri di ujung lorong. Aku menghampirinya, menyerahkan nampan dan gelas kosong itu tanpa suara. Siska mengangguk pelan, lalu berjalan menuju kamar Ibu.
Aku tidak langsung kembali ke kamarku.
Dengan langkah tanpa suara, aku mengikuti Siska, berdiri tersembunyi di balik pilar dekat kamar Ibu untuk memastikan rencanaku berjalan lancar.
Pintu kamar Ibu terbuka sedikit. Aku bisa melihat Siska masuk dan meletakkan nampan itu di atas meja rias Ibu.
"Kerja bagus, Siska," bisik Ibuku dengan tawa pelan yang membuat dadaku terasa diremas kuat. "Obat tidur dosis tinggi ini akan membuatnya terlelap seperti orang mati sampai besok siang. Besok pagi-pagi sekali, saat ibu-ibu kompleks datang berkumpul, Ibu akan pura-pura panik dan membongkar laci lemari Fitri yang sudah Ibu isi dengan kalung emas Bu Tejo. Biar Putra dan semua orang tahu, istri kesayangannya itu bukan cuma pemalas, tapi juga seorang pencuri berbakat!"
Sayangnya, rencana ibu tak akan pernah berhasil.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar