"Tanda tangani surat cerai ini sekarang! Aku sudah muak hidup dengan wanita tidak berguna sepertimu!"
Aku melempar map cokelat itu dengan kasar. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan, melayang mengenai wajah Kirana sebelum berserakan di atas karpet ruang tamu.
Aku berdiri dengan dada membusung, melipat kedua tangan. Bersiap melihat drama tangisan yang memuakkan.
Selama tiga tahun pernikahan kami, dia hanya menjadi beban. Ibu selalu mengeluh tentang menantu miskinnya ini, menyebutnya benalu yang tidak tahu diuntung.
Hari ini, kesabaranku sudah di batas akhir. Aku ingin mengakhirinya. Aku sudah membayangkan Kirana akan menangis terisak dan memohon agar tidak diusir dari rumah mewah ini.
Namun, detik-detik berlalu, dan suara isakan itu tidak pernah terdengar.
Keheningan yang janggal membuatku mengerutkan kening. Aku menatapnya.
Kirana, wanita yang biasanya menunduk patuh dengan pakaian sederhananya, kini berdiri tegak.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat. Sebuah kekehan pelan lolos dari mulutnya, perlahan membesar menjadi tawa lepas yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
Tawanya bukan tawa histeris orang putus asa. Itu tawa yang renyah. Tawa sebuah kelegaan, seolah belenggu berat baru saja terlepas dari kedua tangannya.
"Kau ... kenapa kau tertawa?!" bentakku, rasa bingung dan kesal mulai bercampur menjadi satu. "Kau sudah gila karena kuceraikan, hah?!"
Kirana menghentikan tawanya. Dia menatapku.
Untuk pertama kalinya sejak kami saling mengenal, tatapan sayu yang biasanya ia tunjukkan menghilang tak berbekas, digantikan oleh sorot mata tajam yang begitu dominan dan mengintimidasi.
Dia membungkuk dengan gerakan yang anehnya terlihat sangat elegan, mengambil pena dan selembar kertas yang jatuh di dekat kakinya.
Tanpa ragu sedetik pun, tanpa repot-repot membaca deretan klausul yang merugikannya, tangan rampingnya langsung membubuhkan tanda tangan di atas materai.
"Selesai," ucapnya santai. Dia mengulurkan kertas itu kembali ke arahku lalu menjatuhkannya tepat di ujung sepatuku.
Aku membeku. Otakku tiba-tiba terasa buntu.
Di mana wanita yang selalu memohon pengampunan setiap kali Ibuku memakinya? Di mana istri penurut yang selalu menelan ludah saat dihina dengan mulut nyenyes Ibu?
Padahal di rumah ini, aku sendiri pun hanyalah anak kedua yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dianggap hebat oleh keluargaku sendiri.
"Kau ... kau tidak sedih?" tanyaku terbata-bata, nyaris tanpa sadar melontarkan pertanyaan bodoh itu akibat reaksinya yang sama sekali di luar dugaanku.
Kirana melangkah mendekat. Aroma parfumnya entah kenapa terasa berbeda hari ini, bukan wangi sabun mandi biasa yang sering ia pakai, melainkan sesuatu yang sangat berkelas, wangi kemewahan yang tidak bisa kubeli di toko mana pun.
Dia berhenti tepat di hadapanku, menyunggingkan senyum sinis yang membuat harga diriku seakan terinjak-injak.
"Sedih?" ejeknya pelan, nada suaranya terdengar begitu dingin dan menguasai.
"Tiga tahun, Aryo. Tiga tahun aku bermain peran menjadi istri miskin yang tertindas. Menutup telinga rapat-rapat dari ocehan ibumu yang merasa keluarganya adalah pusat tata surya."
Mataku membelalak sempurna. Jantungku berpacu.
Aryo? Berani-beraninya dia memanggil namaku secara langsung tanpa embel-embel rasa hormat?
Tanpa menunggu reaksiku, dia membalikkan badan, berjalan menuju pintu utama tanpa menoleh sedikit pun pada barang-barang yang pernah kubelikan untuknya. Langkahnya tegap, penuh otoritas.
Tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, dia berhenti dan menoleh dari atas bahunya. Matanya menatapku seolah aku hanyalah orang asing yang tak ada harganya.
"Terima kasih atas talaknya, Aryo. Selama ini, aku memang selalu menunggu kau menceraikanku. Oya, bersiaplah membereskan barang-barangmu di kantormu besok pagi, dan jangan kaget kalau kamu dipecat!"
***
"Alhamdulillah! Akhirnya udara di rumah ini kembali bersih tanpa bau kemiskinan perempuan itu!"
Suara Ibu yang melengking memecah lamunanku. Beliau melangkah turun dari tangga dengan wajah berseri-seri, sama sekali tidak mempedulikan kertas perceraian yang masih berserakan di atas karpet.
Mulutnya yang memang terkenal nyenyes itu langsung mengomel panjang lebar, seolah kepergian Kirana adalah kemenangan terbesar abad ini.
"Ibu sudah bilang dari dulu, Aryo! Perempuan tidak tahu diuntung itu cuma jadi benalu di keluarga kita. Harusnya kamu dengarkan Ibu sejak awal. Coba kamu lihat kakakmu, Randi. Sebagai anak pertama, dia tahu bagaimana mencari istri yang selevel dan mengurus perusahaan dengan benar. Tidak sepertimu yang cuma bisa diam dan tidak ada kontribusinya sama sekali!"
Aku menelan ludah dengan susah payah. Sindiran tajam itu sudah biasa kudengar.
Di mata Ibu, aku memang hanyalah anak kedua yang keberadaannya tidak pernah benar-benar dianggap penting. Semua pujian dan kebanggaan selalu jatuh ke tangan Randi, kakakku.
Namun kali ini, telingaku seolah kebas. Ocehan Ibu menguap begitu saja di udara. Pikiranku masih tersandera oleh kalimat terakhir yang dilontarkan Kirana sebelum pintu depan tertutup rapat.
Bersiaplah membereskan barang-barangmu di kantormu besok pagi, dan jangan kaget kalau kamu dipecat!
"Ibu," panggilku pelan, memotong kalimat Ibu yang masih sibuk memuji-muji Randi. "Kirana, tadi dia bilang sesuatu yang aneh."
Ibu mendengus kasar, bersedekap dada sambil menatapku merendahkan.
"Aneh bagaimana? Paling-paling dia menangis diam-diam di luar sana karena menyesal sudah kau ceraikan. Besok juga dia pasti akan meneleponmu untuk minta uang makan."
"Bukan begitu, Bu," bantahku, merasakan keringat dingin mulai merembes di kerah kemejaku. "Dia bilang, dia bilang aku akan dipecat besok pagi."
Seketika, tawa Ibu meledak. Tawanya begitu keras dan meremehkan hingga menggema di ruang tamu.
"Dipecat? Oleh siapa? Oleh perempuan gembel yang kerjanya cuma menyapu rumah ini? Aryo, kau ini menjabat sebagai manajer di perusahaan keluargamu sendiri! Kakakmu yang memegang kendali di sana. Memangnya mantan istrimu itu siapa? Investor utama kita?"
Ucapan Ibu memang sangat masuk akal. Ini adalah perusahaan keluarga. Randi adalah Direktur Utama, dan aku bekerja di bawah pengawasannya.
Secara logika, tidak ada satu pun orang luar yang bisa memecatku begitu saja, apalagi seorang Kirana yang selama tiga tahun ini tidak memiliki pekerjaan apa pun selain mengabdi di rumah ini.
Aku mencoba mengatur napas, meyakinkan diriku sendiri bahwa Kirana hanya sedang melantur karena syok diceraikan.
Ya, itu pasti hanya gertakan sambal untuk menutupi rasa malunya.
Namun, belum sempat aku menenangkan diri sepenuhnya, ponsel di saku celanaku bergetar hebat.
Nama Randi berkedip cepat di layar. Tumben sekali kakakku menelepon malam-malam begini.
"Angkat, Aryo! Pasti kakakmu mau memberi kabar baik soal suntikan dana untuk perusahaan kita," titah Ibu dengan senyum mengembang.
Aku menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinga.
"Halo, Mas Randi? Ada apa ma—"
"Apa yang sudah kau lakukan, Aryo?!"
Bentakan keras dari seberang sana membuatku terkesiap. Suara Randi tidak terdengar seperti biasanya.
Alih-alih tenang, suaranya terdengar panik, marah, dan ... ketakutan?
"M-maksudnya apa, Mas? Aku tidak melakukan apa-apa di kantor hari ini," jawabku gugup.
"Jangan berbohong! Pihak investor raksasa yang selama ini menopang perusahaan kita baru saja menarik seluruh dananya detik ini juga!" napas Randi terdengar memburu, seolah dia baru saja berlari maraton.
"Mereka menolak negosiasi dan memutus semua kontrak secara sepihak! Dan kau tahu apa syarat tunggal dari mereka jika kita ingin perusahaan ini tidak hancur lebur besok pagi?!"
Jantungku seakan berhenti berdetak. Ruangan ini tiba-tiba terasa sangat dingin.
"A-apa syaratnya, Mas?"
"Kosongkan mejamu malam ini juga, Aryo! Kau resmi kupecat! Investor kita menuntut kepalamu keluar dari perusahaan, atau mereka bersumpah akan meratakan bisnis keluarga kita dengan tanah besok pagi!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar