Sabtu, 02 Mei 2026

Istriku kecelakaan bersama selingkuhannya. Aku menjenguknya sambil membawa surat tanda tangan perceraian, biar dia tau sedang bermain-main dengan siapa!

 


"Tanda tangani ini sekarang, lalu kau bebas merintih kesakitan sambil berpegangan tangan dengan pria simpananmu di ranjang sebelah," ucapku dingin, melempar sebuah map merah terang tepat ke atas selimut rumah sakit yang menutupi tubuhnya.


Aini terkesiap. Wajahnya yang dipenuhi plester luka mendadak pucat pasi. Matanya yang biasanya selalu menatapku penuh keangkuhan, kini membelalak ngeri melihat tulisan Surat Gugatan Cerai yang mengintip dari balik map.


"A—Aksa? Apa-apaan ini? Aku baru saja kecelakaan dan hampir mati, dan kamu malah menyodorkan kertas gila ini?!" jeritnya dengan suara serak, berusaha bangkit meski tangan kirinya dibalut gips tebal.


Aku melipat tangan di dada, menatapnya tanpa sepercik pun rasa kasihan. Bau obat-obatan rumah sakit yang menyengat sama sekali tidak mengalihkan fokusku dari pemandangan pengkhianatan menjijikkan yang tersaji di depan mata.


Tiga jam yang lalu, aku mendapat telepon dari pihak kepolisian. Istriku kecelakaan parah di jalan tol arah luar kota. 


Panik? Tentu saja. Aku membatalkan meeting penting dan memacu mobil membelah hujan demi memastikan keselamatannya. 


Namun, apa yang kudapat saat tiba di IGD?


Perawat jaga memberitahuku bahwa istriku sedang ditangani bersama 'suaminya' yang tadi berada di kursi kemudi.


Duniaku runtuh detik itu juga. Terlebih ketika aku melihat pria yang terbaring mengerang di ranjang sebelah Aini adalah Wendi, pria yang selama ini Aini kenalkan sebagai 'klien penting' dari kantornya. 


Mobil yang hancur menabrak pembatas jalan itu bahkan mobil atas namaku yang selalu Aini pakai dengan alasan butuh kendaraan yang nyaman untuk menemui klien.


"Kamu pikir aku buta?" desisku, melangkah maju hingga wajahku berjarak hanya beberapa jengkal darinya. 


"Kalian berdua ditemukan di mobilku, dalam perjalanan ke vila saat kamu pamitnya ada dinas luar kota dari kantor. Kamu mau aku bersikap seperti apa? Menyuapimu bubur sambil membelai rambutmu dan bilang 'semua akan baik-baik saja'?"


"Mas, ini salah paham! Wendi hanya—"


"Hanya menyetir mobilku, memakai uang bulananku untuk mem-booking kamar vila, dan kebetulan kalian berdua tidak memakai pakaian lengkap saat kecelakaan terjadi? Begitu laporan dari tim evakuasi kepolisian, Aini."


Tubuh Aini menegang kaku. Dia kehabisan kata-kata. Air mata buayanya mulai menetes. 


Selama ini, dia selalu menganggapku sebagai suami bodoh, penurut, yang hanya tahu bekerja dari rumah dan memanjakannya. 


Dia lupa, pria yang diam bukan berarti buta.


Tiba-tiba, di ranjang sebelah, Wendi mulai sadar. Pria itu mengerang pelan, matanya perlahan terbuka dan langsung menatapku dengan sorot permusuhan. 


Bukannya merasa bersalah karena telah menghancurkan rumah tangga orang, dia justru tersenyum miring, meremehkan.


"Gugat saja dia. Ceraikan saja," kekeh Wendi dengan suara lemah, namun masih penuh kesombongan khas pria hidung belang. 


"Aini memang sudah muak hidup dengan pria berpenghasilan pas-pasan sepertimu. Setelah kami keluar dari rumah sakit ini, aku akan memberikannya kehidupan mewah yang tidak akan pernah bisa kau berikan seumur hidupmu!"


Aku menoleh perlahan, menatap wajah sombong pria yang sedang terbaring tak berdaya itu. 


Alih-alih marah dan memukulnya, aku justru tersenyum lebar. Sangat lebar hingga membuat kerutan di dahi Aini bertambah bingung. 


Aku merogoh saku jas, mengeluarkan ponsel, dan menyodorkan layar ponselku tepat ke depan wajah mereka berdua.


"Mencoba memberikannya kehidupan mewah, katamu?" tanyaku dengan nada mengejek, menikmati raut wajah mereka yang perlahan berubah pias melihat berita di layarku. 


"Tanyakan pada dirimu sendiri, Wendi. Bagaimana seorang mantan Direktur Operasional yang baru saja dibekukan asetnya dan ditetapkan sebagai tersangka kasus penggelapan dana perusahaanku lima menit yang lalu, bisa membiayai gaya hidup istriku?"


***

"Kau pikir dengan memamerkan artikel editan murahan di ponsel rongsokanmu itu, aku akan percaya kalau suamiku ini adalah atasan dari seorang petinggi perusahaan?" tawa Aini meledak, memecah ketegangan di ruang perawatan, seolah lupa dengan gips yang membalut tangannya.


Wendi ikut menyeringai, meski wajahnya masih meringis menahan sakit akibat benturan kemudi. 


"Usaha yang bagus, Aksa. Tapi kau salah pilih lawan. Aku tahu persis siapa bos besarku, dan dia jelas bukan pria yang memakai kemeja lusuh sepertimu. Berhenti membual dan pergi dari sini sebelum aku memanggil satpam!"


Aku hanya tersenyum tipis. Tidak ada amarah, apalagi niat untuk berteriak membela diri. Reaksi mereka sudah bisa kutebak. 


Selama tiga tahun pernikahan kami, Aini memang hanya mengenalku sebagai pekerja lepas paruh waktu yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop di rumah. 


Dia tidak pernah tahu bahwa layar laptop itu adalah pusat kendali dari gurita bisnis raksasa yang menaungi tempat selingkuhannya bekerja.


Dengan tenang, aku menarik kembali map merah berisi surat gugatan cerai itu dari pangkuan Aini, menyodorkan sebuah pena mahal yang selalu terselip di saku dalam jasku.


"Baguslah kalau kalian tidak percaya," ucapku santai. "Kalau begitu, tanda tangani ini sekarang, Aini. Bebaskan dirimu dari suami 'melarat' ini dan bersiaplah menyambut kehidupan mewah yang dijanjikan pria hidung belang di sebelahmu itu."


Tanpa ragu sedikit pun, Aini merebut pena itu. Dengan sisa tenaga dan wajah penuh arogansi, ia menggoreskan tanda tangannya di atas materai. 


"Ambil kertas ini! Aku juga sudah muak hidup susah denganmu, Aksa. Wendi akan memberikanku fasilitas VIP, rumah mewah, dan mobil yang jauh lebih bagus dari mobil cicilanmu yang hancur itu!"


"Tentu saja, Sayang," sahut Wendi bangga, mengelus punggung tangan Aini dari ranjang sebelahnya. 


"Suster! Pindahkan kami ke ruang perawatan VVIP sekarang juga. Gesek semuanya dari kartu ini!" 


Wendi dengan sombong melemparkan sebuah kartu kredit platinum ke meja di dekat perawat yang baru saja masuk untuk mengecek infus.


Aku melangkah mundur, membiarkan pertunjukan kesombongan itu berlangsung. 


Sambil bersandar pada dinding dingin rumah sakit, aku merogoh ponselku dan menekan satu nomor panggilan cepat.


"Bram," sapaku saat asisten pribadiku menjawab di seberang sana. Suaraku kubuat cukup pelan agar tak terlalu jelas terdengar oleh dua manusia rakus di depanku. 


"Tarik kembali laporan kepolisian soal penggelapan dana itu. Ya, batalkan penangkapannya hari ini."


Aku menatap lekat Wendi yang sedang sibuk memaki perawat karena mesin EDC rumah sakit menolak kartunya.


"Jangan biarkan dia membusuk di penjara secepat itu. Penjara terlalu nyaman untuknya," lanjutku dengan nada sedingin es. 


"Blokir semua akses keuangannya, bekukan seluruh aset atas namanya dan nama Aini. Aku ingin melihat mereka hancur mereka pelan-pelan di luar sini."


Aku memutus sambungan telepon tepat saat perawat rumah sakit itu menatap Wendi dengan canggung. 


"Maaf, Pak. Kartu Anda tidak bisa. Saya sudah mencoba tiga kartu lainnya, dan semuanya diblokir oleh pihak bank. Begitu juga dengan asuransi kesehatan perusahaan Anda, statusnya sudah dinonaktifkan sepuluh menit yang lalu."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Istriku kecelakaan bersama selingkuhannya. Aku menjenguknya sambil membawa surat tanda tangan perceraian, biar dia tau sedang bermain-main dengan siapa!

  "Tanda tangani ini sekarang, lalu kau bebas merintih kesakitan sambil berpegangan tangan dengan pria simpananmu di ranjang sebelah,...