Minggu, 03 Mei 2026

Aku dipecat saat sedang bulan madu dengan selingkuhanku. Saat benar-benar panik, ternyata istriku pergi dari rumah. Apa dia tahu kalau aku selingkuh? Kemana istriku pergi? Atau jangan-jangan istriku adalah...

 


"Mulai detik ini juga kamu saya pecat dengan tidak hormat, Hadi! Berani-beraninya kamu memakai fasilitas dan dana taktis perusahaan untuk foya-foya di Bali dengan perempuan simpananmu itu!"


Suara bentakan keras dari seberang telepon itu membuat jantungku seakan berhenti berdetak. 


Aku terlonjak dari sofa kamar hotel mewah ini, mengabaikan Indri yang sedang asyik mematut diri di depan cermin sambil menenteng tas belanjaan.


"T-tapi, Pak! Tolong dengarkan penjelasan saya dulu. Saya sedang cuti, dan ini ..."


"Semua kartu kredit perusahaan atas namamu sudah saya blokir! Jangan harap kamu bisa kembali ke kantor ini lagi, Hadi!"


Panggilan terputus sepihak. Tanganku gemetar hebat hingga ponselku nyaris tergelincir jatuh. Wajahku pasi. 


Dipecat? Diblokir? Bagaimana bisa Bos tahu aku memakai dana perusahaan untuk membawa Indri jalan-jalan? 


Selama ini aku selalu memanipulasi laporannya dengan sangat rapi!


"Mas Hadi, kenapa sih pucat begitu?" 


Suara manja Indri membuyarkan kepanikanku. Wanita yang memakai gaun merah menyala itu mendekat dan memeluk lenganku. 


"Jadi kan kita ke butik perhiasan yang kamu janjikan kemarin? Aku udah nggak sabar pengen kalung berlian itu, loh."


Aku menepis tangan Indri dengan kasar, membuat wanita itu terkesiap. 


"Berlian, berlian! Otakmu cuma foya-foya saja! Aku baru saja dipecat, Ndri! Semua akses keuanganku diblokir!"


Mata Indri membelalak lebar. 


"Apa?! Dipecat?! Terus liburan kita gimana? Tagihan hotel mewah ini siapa yang bayar, Mas?! Aku nggak mau ya disuruh patungan!"


Kepanikan mulai mencekik leherku. Tagihan hotel ini semalam saja setara dengan gajiku sebulan. Aku harus memutar otak. 


Yeni! Ya, Yeni istriku. Selama ini gajiku selalu kupegang sendiri dan aku hanya memberinya jatah bulanan yang sangat mepet. Tapi Yeni rajin menabung dari hasil jualan online kuenya. 


Aku bisa mengarang cerita kalau aku kena musibah, dompetku hilang saat dinas luar kota, dan memintanya mentransfer semua tabungannya. Yeni itu sangat polos, penurut, dan sangat mencintaiku. Dia pasti percaya saja.


Dengan tangan masih bergetar, aku segera menekan nomor Yeni.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.


Sial! Kenapa hapenya mati di saat genting begini?! Aku mencoba meneleponnya berkali-kali, tapi hasilnya tetap nihil. 


Firasat buruk mulai merayapi tengkukku. Aku segera membuka aplikasi CCTV rumah yang terhubung ke ponselku. Mataku membelalak. 


Layar hanya menampilkan warna hitam dengan tulisan Offline.


Jantungku berdegup makin kencang. Tanganku beralih mencari kontak Pak RT di perumahanku. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya dijawab.


"Halo, Pak RT? Ini saya Hadi. Pak, maaf mengganggu, bisa tolong tengok rumah saya? Istri saya ditelpon tidak bisa, dan CCTV rumah tiba-tiba mati," tanyaku dengan napas memburu.


"Loh, Pak Hadi? Lah, Bapak ini gimana sih?" Suara Pak RT terdengar heran dari seberang. 


"Rumah Bapak kan kosong melompong dari tadi pagi."


"K-kosong? Maksud Bapak?"


"Iya, tadi pagi-pagi sekali ada mobil box datang mengangkut barang-barang. Ibu Yeni juga sudah pergi bawa koper besar. Saya kira Bapak tahu. Lagipula, tadi Ibu Yeni dijemput pakai mobil mewah sekali, Pak. Sopirnya pakai seragam jas rapi. Dandanan Ibu Yeni juga beda banget, elegan sekali, beda sama penampilannya sehari-hari. Katanya beliau mau pergi jauh dan minta maaf kalau selama tinggal di sini ada salah."


Ponselku merosot dari telinga, tanganku terkulai lemas di sisi tubuh. Indri terus mengoceh marah-marah menanyakan nasibnya, tapi telingaku mendadak tuli. 


Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam gelombang kebingungan dan ketakutan yang luar biasa.


Dipecat. Kehabisan uang. Dan sekarang, Yeni pergi?


Tubuhku luruh ke lantai. Rasa sesal tiba-tiba menyusup masuk. 


Jika aku tidak membawa Indri ke Bali, jika aku tidak memakai uang perusahaan, aku masih punya pekerjaan dan kehidupan yang nyaman dengan Yeni yang selalu melayaniku di rumah. 


Sekarang aku hancur berantakan.


Tapi tunggu dulu. Mobil mewah? Sopir berjas? Dandanan elegan?


Pikiranku berputar keras. 


Selama tiga tahun pernikahan kami, Yeni hanyalah wanita sederhana yang selalu menunduk, rela bangun subuh untuk mengurus rumah tangga, dan tidak pernah menuntut apa-apa. Dia mengaku yatim piatu yang tak punya keluarga siapa-siapa.


Lalu dari mana datangnya mobil mewah itu? Dan anehnya, kenapa pemecatanku yang tiba-tiba ini waktunya sangat pas dengan kepergiannya yang mendadak?


"Apa dia tahu kalau aku selingkuh? Kemana istriku pergi? Atau jangan-jangan istriku adalah ...."


***

"Maaf, Mas dan Mbak ini siapa?! Berani-beraninya menerobos masuk pekarangan rumah saya! Keluar sekarang atau saya teriaki maling kalian berdua!"


"Sembarangan! Bapak yang siapa?! Ini rumah saya! Saya yang beli pakai uang saya sendiri! Bapak yang maling!" balasku tak kalah sengit, mengabaikan Indri yang sudah mengipas-ngipas wajahnya karena kepanasan di sebelahku.


Pria paruh baya di hadapanku itu berkacak pinggang, menatapku sinis dari atas sampai bawah. 


"Rumah Anda? Jangan ngigau, Mas! Saya baru saja melunasi rumah beserta seluruh isinya ini pagi tadi. Pemilik aslinya, Nyonya Yeni, menjualnya kepada saya dengan harga miring secara tunai. Sertifikatnya sah atas nama beliau!"


Bagaikan disambar petir di siang bolong, lututku mendadak lemas.


Sertifikat! Ya Tuhan! Setahun yang lalu, Yeni pernah memintaku dengan sangat lembut agar rumah ini diatasnamakan dirinya. 


Katanya, sebagai anak yatim piatu, dia hanya ingin merasa punya "tempat berlindung" yang aman. 


Karena menganggapnya lugu dan bodoh soal hukum, aku mengiyakan saja. Toh, dia istri penurut yang tidak akan berani macam-macam.


Tapi sekarang? Dia menjualnya?!


Dengan sisa uang tunai di dompet hasil sisa liburan di Bali, mengingat semua kartuku sudah diblokir perusahaan, aku terpaksa menyeret koper kami menjauh dari perumahan elit itu. 


Kami berakhir di sebuah kontrakan petak berukuran tiga kali tiga meter di gang sempit. 


Hawa panas langsung menyergap kulit, bercampur aroma apek dan debu tebal.


"Mas! Kamu gila ya bawa aku ke tempat kumuh begini?!" jerit Indri histeris. Ia menendang kasur busa tipis di pojok ruangan dengan jijik. 


"Panas banget, Mas! Kasur ini pasti banyak kutunya! Aku bisa gatal-gatal, skincare mahal aku bisa luntur semua! Pokoknya aku nggak mau tidur di sini, cari hotel bintang tiga minimal!"


Aku memijat pelipisku yang berdenyut hebat. Kepalaku serasa mau pecah. Ku pandangi wajah Indri yang riasannya mulai luntur karena keringat. 


Tidak ada lagi sisa-sisa wajah cantik nan manja yang selama ini membuatku mabuk kepayang. Yang kulihat sekarang hanyalah seorang wanita matre, egois, dan tak berguna.


Rasa sesal tiba-tiba menyusup, menghantam dadaku tanpa ampun.


Pikiranku otomatis membandingkan wanita di depanku ini dengan Yeni. 


Jika aku tertimpa musibah seperti ini dan pulang ke rumah, Yeni tidak akan pernah mengeluh apalagi berteriak padaku. 


Istriku itu pasti akan langsung membersihkan debu-debu ini tanpa disuruh. Dia akan membuatkanku segelas teh hangat, memijat bahuku dengan lembut, dan berbisik menenangkan, "Tidak apa-apa, Mas. Masih ada aku, kita bisa mulai semuanya dari nol lagi."


Selama tiga tahun, Yeni selalu melayaniku bak raja. Dia memasak makanan kesukaanku setiap pagi, merawat pakaianku, dan menyambutku dengan senyuman tulus meski aku hanya memberinya uang belanja yang sangat pas-pasan.


Dia rela berjualan kue online demi membantu meringankan bebanku, sementara aku dengan teganya menghamburkan uang jutaan rupiah untuk membelikan Indri tas-tas mewah.


Aku membuang berlian demi memungut batu kali. Betapa bodohnya aku! Air mataku nyaris menetes meratapi kehancuranku sendiri.


"Mas Hadi! Kamu denger aku ngomong nggak sih?! Udah miskin, budek lagi!" omel Indri sambil menghempaskan tubuhnya ke lantai dengan kasar, lalu sibuk mengusap layar ponselnya dengan wajah bersungut-sungut.


Aku diam saja, terlalu lelah untuk berdebat. Aku bersandar pada dinding lembap kontrakan, menatap kosong ke langit-langit yang berjamur. Pikiranku terus berputar. 


Siapa yang menjemput Yeni dengan Alphard? Mengapa Nyonya Yeni bisa menjadi pemilik baru perusahaanku? Apakah itu Yeni istriku, atau hanya kebetulan namanya sama?


Hening sejenak merajai ruangan sempit itu, sebelum akhirnya sebuah jeritan tertahan dari Indri memecah lamunanku.


"Mas ... Mas Hadi, kamu beneran yakin istrimu itu cuma yatim piatu yang jualan kue?!" suara Indri mendadak bergetar hebat. Ia merangkak mendekat, menyodorkan layar ponselnya yang menyala terang ke depan wajahku.


"Tentu saja! Memangnya kenapa, sih?!" bentakku kasar, merebut ponsel itu dengan kesal karena diganggu.


"Lalu kenapa perempuan udik yang kamu bilang miskin itu sekarang ada di headline berita ekonomi nasional, dikawal belasan pria berjas hitam, dan sedang bersalaman dengan salah satu menteri?!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kujatuhkan talak untuk istriku dan kupermalukan dia di depan teman-temanku. Tapi tak kusangka, dia balik mempermalukanku...

  "Mulai detik ini, aku jatuhkan talak kepadamu! Bereskan semua barang-barang murahmu dan angkat kaki dari rumahku malam ini juga!...