Minggu, 03 Mei 2026

Kujatuhkan talak untuk istriku dan kupermalukan dia di depan teman-temanku. Tapi tak kusangka, dia balik mempermalukanku...

 


"Mulai detik ini, aku jatuhkan talak kepadamu! Bereskan semua barang-barang murahmu dan angkat kaki dari rumahku malam ini juga!"


Gema suara Indra memecah denting gelas kaca di ruang tamu yang mewah itu. 


Empat orang teman pria Indra yang sedang duduk melingkari meja pualam serentak menghentikan tawa mereka, namun hanya sedetik, sebelum senyum culas kembali menghiasi wajah mereka.


Aku, Refa, mematung di dekat meja bar. Nampan berisi lima gelas mahal yang baru saja kutuangkan masih berada di tanganku.


"Kenapa diam? Terkejut?" Indra terkekeh, melirik teman-temannya seolah meminta persetujuan. 


"Dengar ya, Refa. Aku sudah muak melihat wajah kusammu setiap pulang kerja. Karierku sedang meroket, jabatanku CEO, sementara kamu? Cuma ibu rumah tangga bau bawang yang bahkan nggak tahu cara berdandan kalau kubawa ke pesta relasi."


Bimo, sahabat kental Indra, tertawa paling keras sambil menepuk paha suamiku. 


"Gila lu, Ndra! Sadis bener. Tapi ya bener sih, cowok sukses kayak lo pantesnya dapet model, bukan perempuan yang cuma bisa nunggu di dapur."


"Nah, itu dia, Bim!" Indra memajukan tubuhnya, menatapku dengan sorot merendahkan yang tak lagi ditutup-tutupi. 


"Kamu dengar itu, Refa? Kehadiranmu bikin aku malu di depan teman-temanku. Mulai malam ini, aku mau hidup bebas. Silakan bawa baju-baju diskonanmu itu dan keluar dari rumah miliaran rupiah ini. Biar nanti gajiku yang puluhan juta itu kubuat foya-foya tanpa perlu ngasih jatah bulanan ke parasit sepertimu."


Keheningan merayap perlahan. Semua mata di ruangan itu menatapku, menunggu tangisanku pecah. 


Mereka menunggu aku berlutut, memohon agar Indra menarik kembali kata-katanya. Memohon agar aku tidak dibuang ke jalanan malam ini.


Aku meletakkan nampan itu perlahan di atas meja bar. Bunyi gelas yang beradu terdengar nyaring.


Alih-alih menangis, perlahan, sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tertawa. 


Awalnya pelan, lalu berubah menjadi tawa renyah yang elegan, menggema di seluruh sudut ruangan.


Tawa Bimo terhenti. Kening Indra berkerut tajam. Asap cerutu yang baru akan diisapnya tertahan di udara.


"Kamu gila? Apa yang kamu tertawakan?!" bentak Indra, harga dirinya jelas terusik melihat reaksiku yang di luar skenarionya.


Aku berjalan dengan langkah tenang mendekati meja pualam tempat mereka berkumpul. Tidak ada lagi raut wajah istri penurut yang selama lima tahun ini kubangun dengan rapi. Aku menatap lurus ke dalam manik mata Indra.


"Talakmu kuterima dengan sangat senang hati, Mas Indra," ucapku lembut namun mematikan. 


"Tapi, ada satu hal yang sepertinya kamu lupa karena terlalu sibuk merasa menjadi dewa."


Aku merogoh saku rokku, mengeluarkan ponsel, dan melemparkan sebuah kunci mobil bersimbol kuda jingkrak ke atas meja. Bunyi itu membuat mereka terperanjat.


"Pertama," aku melipat tangan di depan dada, menatap wajah Indra yang mulai pias. 


"Sertifikat rumah 'miliaran' ini atas namaku, dibeli dengan uang ayahku sebelum kita menikah. Kedua, mobil yang kamu pamerkan ke teman-temanmu di garasi itu, cicilannya baru saja kuhentikan hari ini karena itu menggunakan kartu kreditku."


Aku mengedarkan pandangan ke arah teman-teman Indra yang kini saling pandang dengan canggung.


"Jadi, Mas... bukan aku yang harus angkat kaki, tapi kamu. Silakan kemasi barang-barangmu, karena mulai detik ini, kamu resmi kembali menjadi pengangguran melarat seperti saat pertama kali aku memungutmu."


***

Bab 2

Wajah Indra merah padam. Rahangnya mengeras. 


"Tutup mulutmu, Refa! Kamu pikir kamu bisa mempermalukanku di depan teman-temanku dengan kebohongan ini?!" tangannya menggebrak meja, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya.


Aku hanya tersenyum miring, lalu menoleh ke arah Bimo yang sedari tadi menjadi penyokong utama keangkuhan Indra. Aku menatap Bimo dengan tatapan penuh rasa kasihan yang kubuat-buat.


"Dan Bimo," panggilku pelan, memastikan setiap suku kata terdengar jelas di telinga semua orang.


"Sebelum kamu tertawa lebih lebar merayakan kebebasan sahabatmu ini, coba buka grup WhatsApp kita sekarang. Aku baru saja mengirimkan video beresolusi tinggi, menampilkan betapa 'lihainya' istrimu melayani pria yang baru saja menalakku ini di kamar hotel Aston dua hari yang lalu."


***


"Hebat. Hebat sekali caramu membalas persahabatanku selama ini, Ndra. Selingkuh dengan istriku di saat aku setengah mati memohon pada investor demi menyelamatkan proyekmu yang hampir gagal?"


Suara pecahan kaca terdengar memekakkan telinga. Bimo baru saja membanting gelas kristal di tangannya ke lantai pualam hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang meletup-letup. 


Sementara itu, Anton dan Rio hanya bisa mematung, wajah mereka pucat pasi menatap layar ponsel yang masih memutar video pengkhianatan itu dengan jelas.


Indra terlonjak dari kursinya. Wajah angkuhnya seketika luntur, berganti dengan kepanikan yang luar biasa. Keringat dingin mulai merembes di keningnya.


"Bim! Dengerin gue dulu, Bim! Itu video editan! Refa cuma perempuan sakit hati yang sengaja menjebak gue karena nggak terima ditalak!" sergah Indra dengan suara bergetar, mencoba meraih lengan Bimo.


Namun Bimo menepisnya dengan kasar, menatap suamiku seolah ia adalah sampah paling menjijikkan di ruangan ini. 


"Editan katamu? Tahi lalat di bahu kiri Sinta, dan caranya merintih, kau pikir aku buta dan tuli?!" Bimo tersenyum sinis, menatap Indra dengan sorot penuh kebencian. 


"Kita putus hubungan. Dan pastikan kau bersiap, Ndra. Aku akan menarik semua dana investasiku dari perusahaanmu besok pagi."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar