"Jangan buang air matamu untuk memohon padaku, Bu. Simpan saja akting memelas itu untuk meyakinkan hakim di persidangan nanti, karena sampai langit runtuh pun, surat pencabutan laporan kepolisian ini tidak akan pernah kutandatangani."
Suaraku memotong tangisan histeris Ibuku tepat saat tiga orang petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk ke area dapur rumah kami.
Di belakang mereka, tim pengacaraku yang dipimpin oleh seorang pria paruh baya berjas rapi berdiri dengan ekspresi datar, membawa map berisi dokumen pelaporan resmi.
"Saudari Maryam, Anda kami amankan atas tuduhan penyebaran berita bohong, pencemaran nama baik, dan manipulasi informasi elektronik yang merugikan pihak lain," ujar salah satu petugas dengan suara lantang dan tegas.
Ibuku terkesiap, kakinya benar-benar kehilangan tenaga. Jika bukan karena dua polwan yang dengan sigap memegangi kedua lengannya, wanita paruh baya itu pasti sudah tersungkur ke lantai.
Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi jejak keangkuhan atau kelicikan yang semalam ia pamerkan di depan kamera.
"Danu! Anakku! Ampuni Ibu, Nak! Jangan biarkan mereka membawa Ibu ke penjara yang dingin!" raung Ibuku sejadi-jadinya.
Matanya yang merah menatap liar, mencari pertolongan. Pandangannya kemudian beralih pada Sari yang berdiri tenang di sampingku.
"Sari! Menantuku yang baik, tolong Ibu! Ibu janji akan jadi mertua yang baik! Ibu akan menyembahmu kalau perlu, tapi tolong suruh suamimu membatalkan semua ini!"
Sari menatap wanita yang selama enam tahun ini menjadikannya bulan-bulanan penderitaan.
Tidak ada senyum kemenangan yang angkuh dari bibir istriku, melainkan sebuah kedewasaan luar biasa yang membuatku semakin mencintainya.
"Maaf, Bu," ucap Sari lembut namun dengan ketegasan yang tak bisa diganggu gugat.
"Hukum harus tetap berjalan agar Ibu tahu, bahwa air mata dan penderitaan orang lain bukanlah sesuatu yang bisa Ibu jadikan naskah sandiwara."
Mendengar penolakan halus itu, Ibuku menangis semakin keras. Namun polisi tak memberikan waktu lebih lama.
Mereka perlahan namun pasti menggiring Ibuku keluar dari rumah megah itu, menuju mobil patroli yang sudah menunggu di luar gerbang.
Di sudut ruangan, Mbak Rini berdiri mematung. Seragam abu-abunya basah oleh keringat dingin. Ia menggigit jari-jarinya yang gemetar, menatap nanar kepergian sang ibu tanpa berani mengeluarkan satu patah kata pun.
Ia tahu, jika ia ikut campur, ia hanya akan mempercepat kebinasaannya sendiri di bawah lilitan utang miliaran yang kupegang.
"Waktu pertunjukan sudah selesai, Rini," tegur Galen yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya. "Masih ada tiga kamar mandi tamu yang belum Anda sikat hari ini."
Mbak Rini tersentak, menunduk dalam-dalam, dan setengah berlari mengambil alat pelnya. Tak ada lagi sisa-sisa janda sosialita yang gila hormat.
Yang tersisa hanyalah seorang pekerja yang terperangkap dalam neraka ciptaannya sendiri.
Hari itu berlalu dengan kelegaan yang luar biasa. Beban berat yang selama ini menggantung di atas pundak keluargaku seolah terangkat sepenuhnya.
***
Malam harinya, setelah makan malam yang hangat, Sari membacakan buku cerita untuk Bintang sampai jagoan kecil kami itu terlelap dengan senyum di bibirnya.
Setelah memastikan istri dan anakku tertidur nyenyak, aku melangkah keluar kamar dan berjalan menuju ruang kerjaku di lantai satu.
Hanya ada lampu meja yang menyala temaram. Aku duduk bersandar di kursi kulitku, memijat pelipis yang terasa sedikit berdenyut.
Pintu ruang kerja diketuk pelan, dan Galen masuk membawa sebuah map cokelat bersegel rapat dari salah satu rumah sakit ternama di ibu kota.
"Hasil yang Anda minta sudah keluar, Tuan Danu," ucap Galen, meletakkan map itu tepat di hadapanku dengan raut wajah yang sangat serius.
Selama bertahun-tahun merantau, sebuah pertanyaan besar selalu mengganjal di hatiku.
Seburuk-buruknya seorang ibu kandung, rasanya sangat mustahil ada wanita yang tega menelantarkan cucu sedarahnya sendiri hingga kelaparan demi memanjakan anak perempuannya yang lain.
Kecurigaan itu memuncak saat aku kembali, mendorongku untuk diam-diam menyuruh Galen mengambil sampel DNA saat ibuku masuk ke rumah ini.
Perlahan, aku membuka segel map itu dan menarik selembar kertas putih dengan kop resmi rumah sakit. Mataku menyisir deretan angka dan istilah medis di sana, hingga berhenti pada kesimpulan akhir yang dicetak tebal.
Napas ku tertahan. Tanganku sedikit mengeras memegang tepi kertas itu.
Galen menundukkan pandangannya dengan penuh hormat.
"Tebakan Anda selama bertahun-tahun terbukti benar, Tuan Danu. Dokumen medis itu memastikan bahwa wanita yang selama ini memeras keringat Anda dan menyiksa keluarga Anda, ternyata sama sekali tidak memiliki setetes pun ikatan darah dengan Anda."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar