Minggu, 03 Mei 2026

Aku jatuh miskin setelah memulangkan istriku ke orangtuanya karena istriku dekil dan kusam. Tak kusangka saat rumahku dihancurkan saat membawa selingkuhanku, ternyata istriku pemilik rumahku sekarang dan dia...

 


"Bawa kantong plastik sampah ini dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga, Gita! Aku muak, pusing, dan malu punya istri dekil, kusam, dan bau bawang sepertimu!"


Aku melemparkan sebuah kantong plastik hitam besar tepat ke wajah Gita. Mataku menatapnya dengan penuh rasa jijik dari ujung kepala hingga ujung kaki. 


Daster pudar bermotif bunga yang sudah robek di bagian ketiaknya, rambut acak-acakan yang diikat asal-asalan dengan karet gelang, dan wajahnya yang kusam tanpa polesan skincare sedikit pun. 


Benar-benar membuatku muak.

Selama lima tahun pernikahan kami, dia hanya bertingkah layaknya pembantu gratisan di rumah ini. 


Tidak ada kebanggaan sama sekali yang bisa kupamerkan kepada teman-teman atau rekan bisnisku.


Gita tidak menangis. Reaksinya sungguh di luar dugaanku. Dia hanya memungut kantong plastik itu dengan tenang, memasukkan beberapa potong bajunya yang tak seberapa ke dalamnya, lalu menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan.


"Baik, Yusuf. Aku akan pergi. Semoga kamu tidak pernah menyesali hari ini," ucapnya pelan, sangat datar, lalu melangkah keluar dari pintu depan tanpa menoleh lagi.


Aku mendecih remeh. 


"Menyesal? Yang ada aku sujud syukur terbebas dari gembel sepertimu!" teriakku mengiringi kepergiannya.


Begitu siluet punggung ringkihnya hilang dari pandangan, aku langsung merogoh ponsel di saku celanaku. Senyumku mengembang lebar saat menekan sebuah nomor.


"Halo, Sayang? Tikus pengeratnya sudah kuusir. Cepat ke sini, bawa kopermu. Istana ini sekarang jadi milik kita berdua," ucapku dengan nada manja.


Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar setengah jam kemudian, sebuah taksi online berhenti di depan pagarku. Bella turun dari sana bak seorang model majalah dewasa. 


Gaun merah ketat membalut tubuh langsingnya, rambutnya di-blow sempurna, dan aroma parfum mahal langsung menguar memenuhi ruang tamu begitu dia melangkah masuk. 


Ini baru namanya wanita! Ini baru pantas disebut istri seorang manajer sepertiku!


"Sayangku!" Bella langsung menghambur ke pelukanku, melingkarkan lengannya di leherku. 


"Akhirnya ya, rumah ini bersih juga dari bau minyak jelantah."


"Tentu saja. Malam ini kita rayakan kebebasan kita, Sayang," balasku sambil mengecup pipinya yang mulus.


Kami baru saja duduk di sofa ruang tamu yang empuk, menuangkan sirup ke dalam gelas kaca untuk bersulang merayakan 'kemenangan' kami, ketika tiba-tiba sebuah suara gemuruh yang sangat memekakkan telinga terdengar dari halaman depan.


Aku dan Bella terlonjak kaget hingga gelas di tanganku terlepas dan pecah berantakan di lantai. Rumah terasa bergetar hebat layaknya diguncang gempa bumi berskala besar.


"Astaga, Yusuf! Suara apa itu?!" jerit Bella panik, mencengkeram lenganku ketakutan.


Debu tebal tiba-tiba mengepul dari arah pintu depan yang terbuka. 


Aku berlari keluar dengan dada bergemuruh menahan amarah yang meledak-ledak. Mataku terbelalak sempurna, nyaris melompat dari rongganya saat melihat pagar besi mewahnya sudah rata dengan tanah. 


Di atas puing-puing itu, sebuah ekskavator kuning raksasa sedang bersiap mengayunkan lengan besinya ke arah pilar teras rumahku!


"Woy! Berhenti! Apa-apaan kalian ini?!" teriakku sekuat tenaga sambil berlari ke tengah pekarangan, melambaikan tangan dengan kalap ke arah para pekerja proyek berhelm proyek yang mendadak memenuhi halamanku. 


"Kalian gila?! Ini rumah saya! Siapa yang menyuruh kalian menghancurkan rumah saya?!"


***

Seorang pria paruh baya yang tampaknya adalah mandor proyek melangkah maju sambil membawa sebuah clipboard. Ia menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.


"Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan perintah dari pemilik sah tanah dan bangunan ini. Properti ini akan segera diratakan dengan tanah hari ini juga," jawab mandor itu tegas.


"Pemilik sah?! Saya pemilik sahnya! Sertifikatnya ada atas nama saya, Yusuf!" urat leherku sampai menonjol karena berteriak marah. Aku benar-benar merasa dipermainkan.


"Oh ya? Coba Anda cek lagi sertifikat yang Anda banggakan itu di kantor BPN, Pak Yusuf. Karena setahu saya, Anda hanya diizinkan 'menumpang' di sini."


Tiba-tiba, sebuah suara wanita yang sangat elegan namun sedingin es memotong perdebatan kami. Suara itu berasal dari arah luar pagar yang hancur.


Aku menoleh dengan cepat. Sebuah mobil berwarna hitam pekat dan mengkilap baru saja berhenti dengan mulus. 


Seorang pria berjas hitam rapi bergegas turun dan membukakan pintu penumpang belakang dengan sikap sangat hormat.


Sepasang kaki jenjang dengan sepatu merah bermerek melangkah turun lebih dulu. Disusul oleh seorang wanita berbalut setelan blazer desainer ternama yang memancarkan aura kemewahan tak terbantahkan. 


Kulitnya putih mulus bersinar, bibirnya dipoles lipstik merah menyala yang tegas, dan kacamata hitam bertengger elegan di hidung mancungnya.


Wanita itu melangkah mendekat. Perlahan, jari-jarinya yang lentik dan dihiasi berlian sebesar kacang melepas kacamata hitamnya.


Jantungku seakan berhenti berdetak. Napasku tercekat di tenggorokan. Lututku mendadak lemas hingga rasanya aku tidak bisa menopang berat badanku sendiri. 


Bella yang baru saja menyusul ke halaman belakangku ikut memekik tertahan.


Wajah itu ... wajah yang baru saja kuusir setengah jam yang lalu.


"G-Gita?" suaraku keluar seperti cicitan.


Gita menyeringai tipis, senyum yang tak pernah kulihat selama lima tahun ini. Senyum seorang penguasa sejati yang sedang menatap serangga kecil di bawah sepatunya.


"Terus ratakan tempat ini dengan tanah, Pak. Jangan sisakan satu batu bata pun untuk gubuk menjijikkan ini," ucap Gita tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari mataku yang membelalak ngeri.


"Dan kau, Yusuf, bersiaplah membayar ganti rugi sebesar lima miliar rupiah karena berani membawa simpanan masuk dan mengotori rumah pribadiku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku jatuh miskin setelah memulangkan istriku ke orangtuanya karena istriku dekil dan kusam. Tak kusangka saat rumahku dihancurkan saat membawa selingkuhanku, ternyata istriku pemilik rumahku sekarang dan dia...

  "Bawa kantong plastik sampah ini dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga, Gita! Aku muak, pusing, dan malu punya istri dekil, kusa...