"Omong kosong! Kamu pikir istri Direktur Utama sudi memecatku hanya karena aduan perempuan egois sepertimu?!" raung Mas Retno. Tawanya meledak nyaring, berusaha mati-matian menutupi kepanikan yang mulai menggerogoti sisa harga dirinya.
Tepat saat ia menyelesaikan kalimatnya, sebuah truk towing atau derek besar berhenti tepat di depan pagar rumah.
Dua orang pria bertubuh kekar turun, berjalan menghampiri mobil mewah putih mengkilap yang sejak tadi menjadi kebanggaan Mas Retno dan maduku.
"Maaf, dengan Bapak Retno?" tanya salah satu pria itu dengan nada tegas, sama sekali tidak memedulikan suasana tegang di sana.
"Kami dari pihak dealer. Cek yang Bapak berikan untuk DP mobil ini ternyata kosong. Kami terpaksa menarik kembali unit ini sekarang juga."
Warna di wajah Mas Retno seketika tersapu habis, menyisakan pucat pasi layaknya mayat hidup. Mulut suamiku ternganga tanpa suara.
"A-apa?! Kosong?!" Istri barunya menjerit nyaring, menatap Mas Retno dengan sorot penuh horor.
"Retno! Kamu bilang uang tabunganmu cukup buat nutupin cek itu! Terus utang pinjolku puluhan juta yang kupakai buat bayar aksesoris dan asuransinya gimana?! Kamu gila! Aku nggak sudi hidup gembel nanggung utang gara-gara laki-laki kere sepertimu!"
Tanpa memedulikan Mas Retno yang berusaha menahannya, perempuan berkebaya basah itu menepis kasar tangan suamiku. Ia berlari ke pinggir jalan, menyetop taksi yang kebetulan lewat, lalu masuk dan menghilang begitu saja dari pandangan.
Tinggallah Mas Retno yang mematung dengan tatapan kosong, serta Ibu mertuaku yang meratap sejadi-jadinya memeluk koper butut mereka di trotoar.
Seolah penderitaan itu belum cukup, ponsel di saku celana Mas Retno bergetar hebat. Laki-laki itu mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"H-halo, Pak HRD?" bisik Mas Retno lirih.
Detik berikutnya, kakinya kehilangan tenaga. Ia jatuh berlutut di atas aspal yang panas, membiarkan ponselnya tergelincir dari genggaman saat mendengar vonis pemecatan tak hormat itu dijatuhkan secara langsung.
Aku tersenyum puas dari balik pagar, bersedekap dada menikmati mahakarya kehancuran yang kubuat sendiri.
Rasa sakitku selama bertahun-tahun rasanya terbayar lunas melihat laki-laki congkak itu kini tak ubahnya seperti pengemis kehilangan arah.
Aku melangkah perlahan ke luar pagar, menatap Mas Retno yang kini memeluk lututnya dalam keputusasaan yang absolut.
"Menangis yang keras, Mas! Tapi hemat sedikit air matamu hari ini," seruku dengan senyum termanis yang mematikan, membuat kepalanya dan Ibu mertuaku mendongak dengan tatapan putus asa.
Kulemparkan sebuah amplop tagihan berwarna merah ke arahnya hingga jatuh tepat di atas pangkuannya.
"Karena besok pagi, saat pihak hotel bintang lima dan seluruh vendor resepsi menagih sisa pembayaran ratusan juta yang kaubesarkan atas namamu sendiri itu, aku pastikan kau akan menangis darah untuk membayarnya!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar